Platinum

Burung Emprit: Dari Hama Sawah Jadi Rezeki Lukman

Wijatma T S
08 January 2026
.
Burung Emprit: Dari Hama Sawah Jadi Rezeki Lukman

Lukman tengah melayani pembeli. (PM-kus)

BAGI sebagian besar petani padi, burung pipit atau yang akrab disebut manuk Emprit adalah hama yang membuat resah. Tubuhnya kecil, berwarna hitam atau cokelat, namun bergerak bergerombol dan menyerang padi sejak bulir keluar hingga masa panen. Tak sedikit hasil panen yang rusak akibat serbuan burung mungil tersebut.

Namun, di tangan Lukman, Emprit tak sekadar menjadi musuh sawah. Burung kecil itu justru berubah menjadi sumber rezeki, sekaligus kebahagiaan bagi anak-anak.

“Bagi petani, Emprit memang musuh. Tapi bagi kami, ini juga ladang rezeki dan pahala,” ujar Lukman, Rabu (7/1/2026), di rumahnya di Dawung, Kalurahan Tegaltirto, Kapanewon Berbah, Sleman.

Lukman menjual burung Emprit yang telah dicat beraneka warna cerah. Burung-burung kecil itu dijajakan bersama mainan anak-anak lainnya. Di mata bocah-bocah, Emprit warna-warni tersebut bukan hama, melainkan mainan hidup yang mengundang tawa dan rasa penasaran.

Tak hanya membawa kegembiraan bagi anak-anak, aktivitas ini juga dinilai membantu petani. Penangkapan Emprit dalam jumlah tertentu setidaknya mengurangi populasi burung yang menyerbu area persawahan.

Perjalanan Lukman hingga berada di titik ini tidaklah instan. Ia mengaku sejak kecil sudah akrab dengan perburuan Emprit. Bersama sang ayah, ia berburu burung di sawah untuk kemudian dijual kepada pengepul. Dari pengepul itulah burung-burung Emprit dicat dan dipasarkan kembali sebagai mainan anak.

Seiring waktu, Lukman tertarik untuk mencoba menjual sendiri. Titik balik terjadi saat pandemi Covid-19 melanda pada 2020. Di tengah keterbatasan lapangan pekerjaan, Lukman mulai berjualan mainan anak-anak secara mandiri, profesi yang ia jalani hingga kini.

“Sejak berjualan mainan, saya sudah tidak berburu Emprit lagi. Sekarang langsung ambil dari pengepul,” jelasnya.

Setiap hari, Lukman berjualan di Pasar Piyungan, Bantul. Namun sebagai pedagang asongan, ia tak terpaku pada satu tempat. Jika ada keramaian seperti senam pagi, acara sekolah, atau kegiatan warga, ia akan menggelar dagangan di sana.

“Berdagang seperti saya ini soal waktu dan tempat memang tidak tentu. Di mana ada keramaian dan dirasa memungkinkan, ya saya ke sana,” kata ayah satu anak itu.

Motor yang digunakannya pun telah dimodifikasi agar mampu mengangkut beragam dagangan. Dari burung Emprit, anak ayam, kepompong warna-warni, ikan hias dalam botol kaca, balon, hingga mainan pabrikan, semuanya tertata rapi.

“Sasaran saya anak-anak, jadi ya barangnya harus yang mereka sukai. Yang paling laris itu Emprit, anak ayam, ikan hias, dan kepompong,” ujarnya sambil tersenyum ramah.

Di usia 30 tahun, Lukman memilih jalan hidup mandiri. Ia sempat bekerja di sebuah pabrik traktor, namun merasa tidak cocok dengan suasana kerja yang mengikat. Keputusan untuk keluar diambil demi mencari pekerjaan yang lebih bebas, meski penuh ketidakpastian.

“Saya sudah punya keluarga, jadi harus berusaha sendiri. Saya memilih berjualan karena bisa mengatur waktu dan tidak terikat. Kebetulan ayah juga pedagang mainan anak-anak,” pungkasnya.

Di balik hiruk-pikuk pasar dan keramaian anak-anak, Lukman menunjukkan bahwa rezeki bisa datang dari arah yang tak terduga. Dari burung kecil yang dianggap hama, ia merangkai harapan, kemandirian, dan senyum sederhana, baik untuk keluarganya, anak-anak pembeli, maupun para petani di sawah.


 

Dilarang

Baca Juga