Overtourism di Yogyakarta: Saatnya Beralih dari Ramai ke Berkualitas
Esti Susilarti
08 January 2026
.
Suasana malam pergantian tahun 2026 di Yogyakarta (PM-Dok. Andi Killang)
Oleh: Andi Killang
KERAMAIAN kini tak lagi bisa dijadikan satu-satunya indikator keberhasilan pariwisata. Di Yogyakarta, lonjakan kunjungan wisatawan justru mulai memunculkan ironi: kota semakin padat, sementara kualitas pengalaman, ruang hidup, dan keberlanjutan kian tertekan. Fenomena overtourism tidak lagi menjadi wacana global yang jauh, melainkan realitas yang perlahan hadir di pusat kebudayaan Jawa.
Selama puluhan tahun, Yogyakarta menempati posisi istimewa dalam peta pariwisata Indonesia. Kota ini bukan sekadar destinasi, melainkan ruang hidup yang memadukan sejarah panjang, nilai-nilai adiluhung Keraton, tradisi intelektual sebagai kota pelajar, serta keramahan masyarakat yang membentuk identitas kolektif. Namun, pertumbuhan pariwisata yang terlalu bertumpu pada kuantitas kunjungan telah melahirkan paradoks yang semakin nyata.
Overtourism merupakan kondisi ketika intensitas kunjungan melampaui daya dukung destinasi. Dampaknya tidak selalu hadir secara dramatis, tetapi bergerak perlahan dan sistemik: penurunan kualitas pengalaman wisata, tekanan terhadap ruang publik, degradasi lingkungan, hingga terkikisnya rasa memiliki masyarakat lokal terhadap kotanya sendiri. Apa yang kini dirasakan di kawasan Malioboro, Keraton, dan sejumlah destinasi penyangga Yogyakarta merupakan sinyal awal bahwa arah pembangunan pariwisata perlu ditata ulang secara serius.
Selama ini, keberhasilan pariwisata kerap direduksi pada satu indikator paling mudah diukur, yakni jumlah kunjungan. Logika ini memang sederhana dan politis, tetapi tidak selalu mencerminkan nilai ekonomi dan sosial yang sesungguhnya. Lonjakan wisatawan dengan daya beli rendah cenderung menciptakan beban besar bagi infrastruktur kota, ruang publik, dan lingkungan, tanpa dampak ekonomi yang sepadan bagi masyarakat lokal.
Akibatnya, pelaku UMKM pariwisata terjebak dalam persaingan harga yang tidak sehat, kualitas layanan menurun, dan ruang kota semakin sesak. Dalam jangka panjang, Yogyakarta berisiko terjebak sebagai destinasi murah permanen—ramai dikunjungi, tetapi rapuh secara keberlanjutan dan martabat.
Pengalaman dalam berbagai forum pariwisata internasional menunjukkan bahwa paradigma global telah bergeser. Diskursus tidak lagi berpusat pada jumlah wisatawan, melainkan pada keunikan destinasi, kualitas pengalaman, dan komitmen terhadap keberlanjutan. Destinasi yang terlalu murah dan terlalu padat justru kehilangan daya tawarnya di mata pasar global. Wisatawan berkualitas mencari makna, kenyamanan, dan keaslian—bukan sekadar keramaian.
Yogyakarta sejatinya memiliki seluruh prasyarat untuk bertransformasi dari mass tourism menuju quality tourism. Modal budaya, sejarah, pendidikan, dan spiritualitas yang dimiliki bahkan melampaui banyak destinasi lain di kawasan Asia Tenggara. Namun, keunggulan tersebut hanya akan bernilai tinggi jika dikelola dengan visi jangka panjang dan kebijakan yang konsisten.
Pergeseran paradigma ini bukan berarti menutup pintu bagi wisatawan, melainkan mengelola arus kunjungan secara lebih cerdas. Segmentasi pasar menjadi kunci, dengan penguatan wisata budaya mendalam, wisata edukasi, wisata spiritual, serta pengalaman otentik yang mendorong lama tinggal dan belanja wisatawan berkualitas.
Pada akhirnya, diskursus tentang overtourism bukanlah soal menolak wisatawan, melainkan menjaga martabat destinasi. Pariwisata seharusnya memperkuat identitas, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan memastikan keberlanjutan lintas generasi. Yogyakarta kini berada di persimpangan penting: terus berlari mengejar keramaian, atau menata ulang arah pariwisata menuju kualitas. Pengalaman global menunjukkan, destinasi yang berani memilih kualitaslah yang pada akhirnya bertahan, dihormati, dan bernilai tinggi.
* Penulis adalah Pengamat Pariwisata dan Pemerhati Ekonomi Internasional, Malacca Global Institute