.
Salah satu fakta bullying di sebuah sekolah yang viral di medsos. (PM-ss. fb)
Oleh: Dra. Rahayu Fitriningrum, M.Si & Wijatma Tusta Sbd.
AKHIR-AKHIR ini sering kita lihat tayangan di media sosial, pemandangan yang sangat tidak mengenakkan. Anak-anak berseragam sekolah berkelahi, bahkan saling membully lalu merekamnya dengan bangga, menjadi potret suram dunia pendidikan kita hari ini. Ironis, karena peristiwa itu terjadi di lingkungan sekolah, tempat seharusnya karakter dan adab dibentuk.
Fenomena ini menunjukkan bahwa banyak anak zaman sekarang lebih akrab dengan gawai daripada dengan nilai-nilai budi pekerti. Mereka memang hidup di era digital, tapi yang smart sering kali bukan manusianya, melainkan smartphone-nya. Pengetahuan bisa dicari di mana saja, tetapi adab tidak bisa diunduh lewat aplikasi.
Ada yang keliru dalam sistem pendidikan kita, baik di rumah, di sekolah, maupun dalam lingkungan pergaulan. Semua pihak tampak sibuk mengejar pencapaian akademik, namun lalai menanamkan fondasi moral. Padahal, ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan generasi yang cerdas akal tetapi tumpul nurani.
Lebih memprihatinkan lagi, aksi kekerasan yang direkam dan disebarkan di media sosial telah menjadi “virus” baru. Tayangan-tayangan itu bukan hanya menambah daftar kejahatan digital, tetapi juga menulari mereka yang lemah mental dan belum mampu menyaring informasi. Anak-anak yang menonton bisa menjadikannya sebagai referensi perilaku, karena mereka melihat banyak teman sebaya melakukannya.
Benarlah sebuah jurnal, Yao, Ziqing & Yu, Rongjun (2016), yang intinya menyebutkan bahwa setiap informasi yang disebarkan akan memancarkan energinya. Maka, ketika kita menyebarkan kekerasan, sebenarnya kita ikut menularkan energi negatif itu. Idealnya, yang viral adalah hal-hal baik, semangat, empati, atau inspirasi. Bukan kebrutalan dan penghinaan.
Kemajuan teknologi informasi memang memberi kemudahan, tetapi tanpa ketangguhan mental dan adab yang kuat, kemajuan itu bisa berubah menjadi bumerang. Maka, tugas kita bersama adalah mengembalikan keseimbangan antara ilmu dan adab, antara kecerdasan digital dan kebijaksanaan moral.
Karena sejatinya, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang paling cepat beradaptasi dengan teknologi, tetapi bangsa yang tetap menjaga adab di tengah derasnya arus modernitas.
* Dra. Rahayu Fitriningrum, M.Si adalah mantan Pendidik di SMA Muh. Wonosobo, sedangkan Wijatma Tusta Sbd. adalah Pengurus PWI Sleman bidang Pendidikan dan Latihan.