Platinum

Alih Media Ekspresi: Ketika Stiker Berpindah ke Layar Gawai

Wijatma T S
02 January 2026
.
Alih Media Ekspresi: Ketika Stiker Berpindah ke Layar Gawai

Stiker dahulu yang analog, kini digital. (PM-ilustr. Open Ai)

Oleh: Wijatma TS

ZAMAN boleh berubah, teknologi boleh melompat jauh, tetapi satu hal tampaknya tetap: manusia selalu mencari cara untuk mengekspresikan diri. Yang berubah bukanlah dorongannya, melainkan medianya. Apa yang kita saksikan hari ini sejatinya adalah alih media, bukan alih makna.

Dulu, ungkapan hidup di stiker. Ia menempel di pintu rumah, kaca jendela, motor, mobil, hingga bak truk yang melintas dari kota ke desa. Kalimatnya singkat, kadang jenaka, kadang getir, kadang menyentil realitas sosial. Stiker menjadi medium komunikasi yang jujur dan apa adanya. Ia berbicara tanpa perlu mikrofon, tanpa algoritma, tanpa hitungan “like”.

Kini, stiker itu seolah menghilang. Namun sesungguhnya ia tidak lenyap, melainkan bermigrasi. Ungkapan yang dulu dicetak kini diketik. Yang dulu ditempel kini diunggah. Status WhatsApp, caption Instagram, unggahan Facebook, atau cuitan di X mengambil alih fungsi lama stiker sebagai ruang ekspresi personal yang sekaligus publik.

Secara esensi, tidak banyak yang berubah. Manusia tetap ingin didengar, ingin diakui, ingin menyampaikan kegelisahan atau sekadar berbagi perasaan. Perbedaannya terletak pada watak medium. Jika stiker bersifat fisik, diam, dan bertahan lama, media sosial bersifat cair, cepat, dan mudah tergeser oleh unggahan berikutnya.

Dalam teori komunikasi, Marshall McLuhan menyebut bahwa the medium is the message, medium bukan sekadar saluran, tetapi ikut membentuk cara pesan dimaknai. Stiker menuntut keberanian menempelkan pesan di ruang nyata, sementara media sosial menawarkan kenyamanan sekaligus risiko: pesan bisa menjangkau luas, tetapi juga mudah disalahpahami, diperdebatkan, bahkan dihakimi.

Alih media ini juga menandai pergeseran ruang publik. Jika dulu ungkapan di stiker hadir di jalan, terminal, atau gang kampung, kini ia hidup di ruang virtual. Jürgen Habermas menyebut ruang publik sebagai arena pembentukan opini warga. Media sosial memperluas arena itu, tetapi sekaligus membuatnya rapuh, penuh kebisingan, emosi sesaat, dan perhatian yang pendek.

Menariknya, gaya ungkapan nyaris tak berubah. Kalimat pendek masih digemari. Sindiran masih tajam. Humor masih menjadi pelarian. Ini menunjukkan bahwa yang konstan bukan teknologinya, melainkan naluri manusia untuk berbicara tentang dirinya dan zamannya.

Pada akhirnya, yang patut kita renungkan bukan soal medium lama yang hilang atau medium baru yang diagungkan. Stiker dan status media sosial sama-sama hanyalah alat. Persoalannya terletak pada apa yang kita tempelkan dan kita unggah. Di ruang digital yang bising ini, kata-kata mudah menjadi murah, ekspresi mudah menjadi impulsif, dan keberanian kerap digantikan sensasi. Jika dulu stiker menuntut tanggung jawab karena melekat di ruang nyata, kini status menuntut kedewasaan karena jejak digitalnya tak pernah benar-benar hilang. Maka pertanyaannya sederhana sekaligus menohok: apakah kita sekadar memindahkan kebisingan ke layar, atau justru membawa kesadaran ke ruang publik baru yang sedang kita bangun bersama?


* Penulis adalah Pengurus PWI Kab. Sleman bidang Diklat

Dilarang

Baca Juga