HUT Sleman

Belajar dari Tanah Kalimantan: HPMKT-YK Angkat Isu Krisis Sosial dan Ekologi

Wijatma T S
18 October 2025
.
Belajar dari Tanah Kalimantan: HPMKT-YK Angkat Isu Krisis Sosial dan Ekologi

Mahasiswa Kalimantan Tengah di Yogyakarta menggelar diskusi di Asrama mereka. (PM-ist)

YOGYAKARTA — Di tengah hiruk-pikuk kota pelajar, sekelompok mahasiswa Kalimantan Tengah memilih berbicara tentang rumah yang jauh di seberang laut, tentang tanah, hutan, dan sungai yang perlahan kehilangan makna. Di Asrama Mahasiswa Kalimantan Tengah Yogyakarta, mereka menggelar diskusi publik bertajuk “Tanah Ulayat: Belajar dari Tanah Kalimantan.”

Suasana sore itu hangat, bukan hanya karena semangat peserta, tetapi karena topik yang menyentuh akar kehidupan masyarakat di tanah Borneo. Diskusi yang dihadiri peneliti Sajogyo Institute, Eko Cahyono, itu menyingkap sisi lain dari kekayaan alam Kalimantan, bahwa di balik hamparan hutan dan tambang, tersimpan kisah kehilangan dan perjuangan masyarakat adat.

Bagi mahasiswa yang hadir, kegiatan ini bukan sekadar ruang akademik, melainkan ruang untuk mengingat dan belajar. “Kami ingin belajar dan berdialog agar generasi muda Kalimantan memahami persoalan agraria dari akar hingga kebijakan,” ujar Nathanael Ivan Pratama, Ketua Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Kalimantan Tengah Yogyakarta (HPMKT-YK), membuka acara dengan nada tegas namun penuh empati.

Dalam paparannya, Eko Cahyono menyoroti fenomena yang ia sebut sebagai “kutukan sumber daya alam”. Menurutnya, Kalimantan menjadi potret paling nyata dari kontradiksi itu: kaya akan sumber daya, tetapi masyarakat adatnya justru miskin dan terpinggirkan. 

“Kekayaan alam yang seharusnya menjadi berkah justru berubah menjadi kutukan,” tegas Eko. “Model pembangunan di Kalimantan masih berorientasi pada eksploitasi tanpa memperhatikan keadilan sosial dan ekologis.”

Ia menggambarkan bagaimana praktik kolonialisme agraria terus hidup dalam bentuk baru, melalui korporasi, izin tambang, dan proyek besar yang menyingkirkan masyarakat adat dari tanah ulayat mereka sendiri. Ketimpangan kepemilikan tanah, menurutnya, bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan juga cermin dari kegagalan moral pembangunan nasional.

Bagi para mahasiswa Kalimantan Tengah yang berkuliah di Yogyakarta, isu tanah ulayat bukan cerita jauh. Banyak dari mereka tumbuh di desa-desa yang kini berubah menjadi konsesi industri. Maka, diskusi seperti ini menjadi sarana untuk menautkan ingatan, ilmu, dan rasa tanggung jawab.

“Sebagai generasi muda, kami ingin peka terhadap persoalan yang menimpa tanah leluhur kami,” kata Nathanael seusai acara. “Kalau bukan kami yang belajar dan bersuara, siapa lagi?”

Suara itu mendapat sambutan hangat dari Mina Nila, putri Tjilik Riwut, Pahlawan Nasional sekaligus Gubernur Kalimantan Tengah pertama. Mina hadir sebagai pembina HPMKT-YK dan mengikuti diskusi dari awal hingga akhir dengan antusias. 

“Saya bangga melihat anak-anak Kalimantan di Yogya ini berpikir kritis dan peduli pada tanah airnya,” tutur Mina. “Semangat ini perlu dijaga, karena dari ruang kecil seperti ini bisa lahir perubahan besar.”

Diskusi tersebut menutup sore dengan refleksi yang dalam: bahwa perjuangan mempertahankan tanah ulayat bukan sekadar mempertahankan lahan, melainkan menjaga martabat dan keberlanjutan kehidupan.

Eko menegaskan, mahasiswa harus terus berperan sebagai agen perubahan sosial, lewat riset, advokasi, dan pendidikan kritis yang berpihak pada rakyat kecil.

“Tanah bukan hanya sumber daya, tetapi ruang hidup,” ujarnya menutup sesi. “Dan hak atas ruang hidup adalah hak asasi yang harus diperjuangkan.”

Melalui kegiatan ini, HPMKT-YK menegaskan komitmennya untuk menjadi wadah pembelajaran dan pergerakan mahasiswa Kalimantan yang berpihak pada keadilan sosial, lingkungan, dan kemanusiaan. Dari tanah perantauan di Yogyakarta, mereka mengirim pesan pulang: bahwa cinta terhadap kampung halaman bukan hanya tentang rindu, tetapi tentang keberanian menjaga apa yang seharusnya diwariskan. (*)

Dilarang

Baca Juga