.
Direktur beserta jajaran manajemen BUMKal Nyawiji mengikuti Bimtek. (PM-ist)
Patmamedia.com (SLEMAN) – Ruang Sasana Wicara Kantor Kalurahan Condongcatur pada Rabu (3/9/2025) tampak lebih hidup dari biasanya. Suasana serius namun penuh semangat mewarnai jalannya Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengelolaan BUMKal Nyawiji Condongcatur yang difasilitasi Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (PMK) Sleman.
Sebanyak 20 peserta yang terdiri dari pengurus, pengawas, hingga manajer unit usaha BUMKal berkumpul untuk memperdalam strategi manajemen, penyusunan laporan keuangan, hingga langkah pengembangan usaha.
Kehadiran narasumber dari PT Prima Artha serta Tenaga Ahli BUMKal Sleman menjadikan sesi ini lebih berbobot, menyentuh aspek teknis dan strategi jangka panjang.
Panewu Depok, Djoko Muljanto, dalam pembukaan acara menyampaikan apresiasi kepada Dinas PMK. Ia menekankan, peningkatan kapasitas pengelola BUMKal bukan hanya soal administrasi, melainkan juga cara mengoptimalkan potensi kalurahan.
“Dengan pengelolaan yang profesional, BUMKal bisa mendorong partisipasi masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan warga,” ujarnya.
BUMKal Nyawiji Condongcatur sendiri tergolong muda. Resmi terbentuk pada November 2024, lembaga ini meluncur dengan tiga unit usaha: Pertashop, Klinik Kesehatan, dan Green Kayen.
Dalam waktu singkat, kiprahnya langsung terasa. Bahkan, pada Juni 2025, unit baru berupa usaha ketahanan pangan mulai digarap dengan dukungan Dana Desa lebih dari Rp559 juta.
Direktur BUMKal, Kuwat, memaparkan pencapaian yang cukup mengejutkan. Unit Pertashop dengan enam karyawan kini mampu menyumbangkan pendapatan asli kalurahan sekitar Rp360 juta per tahun. Volume penjualan Agustus saja mencapai 101 ribu liter.
“Informasi yang kami terima, Pertashop Condongcatur menjadi yang paling laris di DIY, bahkan menempati posisi kedua secara nasional,” ujarnya dengan bangga.
Pencapaian ini bukan akhir, melainkan awal untuk target yang lebih besar. Visi jangka panjang BUMKal Nyawiji Condongcatur adalah menjadi yang terbaik se-Kabupaten Sleman pada 2030.
Unit usaha ketahanan pangan (mulai dari peternakan sapi, budidaya jamur, hingga pertanian) menjadi fokus berikutnya.
Bimtek kali ini bukan hanya sekadar teori. Peserta akan menjalani dua sesi, yaitu in class untuk membedah strategi bisnis dan laporan keuangan, serta out class ke BUMKal Kemudo di Klaten, yang tahun lalu mampu membukukan pendapatan lebih dari Rp13 miliar.
Kegiatan ditutup dengan diskusi interaktif. Para peserta terlihat antusias berbagi pengalaman dan menyerap masukan. Harapannya, BUMKal Nyawiji Condongcatur tak sekadar menjadi motor ekonomi desa, melainkan contoh pengelolaan usaha yang profesional dan akuntabel di Sleman. (atm)