.
Green house di kawasan Ketapang juga dijadikan destinasi wisata pertanian di Pendowoharjo. (PM-ist)
Patmamedia (SLEMAN) – Pemanfaatan Dana Desa kembali menjadi sorotan. Di tengah kekhawatiran soal salah kelola, Kalurahan Pandowoharjo, Sleman, justru memilih jalur berisiko: menguji Dana Desa langsung di lapangan.
Sebanyak 20 persen Dana Desa atau senilai Rp345 juta digelontorkan untuk program ketahanan pangan (Ketapang) berbasis pertanian modern dan wisata petik melon.
Direktur BUMDes Amarta Pandowoharjo, Agus Setyanto, menegaskan program ini sejak awal dirancang bukan sekadar proyek formalitas.
“Ini bukan proyek papan nama. Ini proyek yang diuji di lapangan, panen atau gagal, hasilnya nyata,” kata Agus, Sabtu (17/1).
Dana tersebut digunakan untuk membangun tiga unit greenhouse, terdiri dari dua greenhouse melon dan satu greenhouse cabai, di atas lahan seluas 1,1 hektare.
BUMDes Amarta dipercaya sebagai pengelola kawasan dengan pendekatan pertanian modern berbasis efisiensi dan keterlibatan warga.
Menurut Agus, komoditas melon dipilih karena memiliki nilai ekonomi tinggi dan cocok dikembangkan dengan teknologi greenhouse.
Saat ini, varietas unggulan yang ditanam adalah melon premium Sweet Lavender, setelah sebelumnya mencoba varietas Intanon.
“Budidaya sudah dua kali musim tanam. Tanam pertama modal sekitar Rp12 juta per greenhouse, hasil penjualannya sekitar Rp19 juta,” ungkapnya.
Pada musim tanam kedua, efisiensi mulai terlihat. Agus menyebut biaya produksi berhasil ditekan hingga Rp9 juta per greenhouse.
“Hasilnya, hanya dalam empat hari pertama sejak wisata petik melon dibuka, omzet panen sudah menyentuh Rp7 juta,” jelasnya.
Teknologi greenhouse yang digunakan disesuaikan dengan kebutuhan tanaman, mulai dari sistem hidroponik hingga penggunaan media tanam cocopit dari sabut kelapa giling. Pendekatan ini, kata Agus, bertujuan menekan biaya sekaligus menjaga kualitas hasil panen.
Tak hanya fokus pada melon, kawasan ini juga dikembangkan sebagai pusat ketahanan pangan desa.
Berbagai komoditas ditanam, antara lain pepaya di lahan sekitar 4.000 meter persegi, ubi jalar 2.000 meter persegi, brambang 1.000 meter persegi, serta jagung yang ditargetkan berkembang hingga satu hektare. Aneka sayuran dan cabai turut melengkapi kawasan tersebut.
Dari sisi sosial, Agus menekankan program Ketapang memberi dampak langsung bagi warga.
“Ada enam tenaga kerja lokal yang terlibat penuh, semuanya warga Pandowoharjo,” ujarnya.
Kawasan Ketapang kini juga dibuka untuk publik sebagai wisata edukasi pertanian.
Sejumlah pihak telah datang untuk melihat langsung pengelolaannya, termasuk Aliansi Petani Indonesia.
“Ketapang ini jadi ruang uji yang sebenarnya. Dana Desa kami pertaruhkan di tanah, bukan di laporan. Kalau berhasil, manfaatnya dirasakan warga,” pungkas Agus. (Tim)