Platinum

Danang: Sleman Deflasi Jelang Ramadan 2026, Stok Pangan Surplus dan Aman

Wijatma T S
13 February 2026
.
Danang: Sleman Deflasi Jelang Ramadan 2026, Stok Pangan Surplus dan Aman

Wabup Sleman, Danang Maharsa (tengah) memaparkan harga dan stok pangan di Sleman, dalam HLM TPID se-DIY. (PM-ist)

Patmamedia.com (SLEMAN) – Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, memastikan kondisi harga dan ketersediaan pangan di Kabupaten Sleman dalam keadaan terkendali menjelang bulan Ramadan dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) 2026.

Hal tersebut disampaikan Danang saat menghadiri High Level Meeting (HLM) Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) se-DIY di Hotel Ambarrukmo, Depok, Sleman, Jumat (13/2). 

Agenda ini digelar sebagai langkah strategis pemerintah dalam menjaga stabilitas harga dan pasokan bahan pokok di tengah tren kenaikan konsumsi masyarakat menjelang Ramadan dan Idul Fitri.

Danang mengungkapkan, sepanjang Januari 2026 Kabupaten Sleman mencatat tren penurunan harga atau deflasi yang cukup konsisten. Seluruh angka Indeks Perkembangan Harga (IPH) menunjukkan nilai negatif.

“Komoditas penyumbang deflasi Indeks Perkembangan Harga (IPH) Januari 2026 didominasi oleh komoditas cabai rawit, cabai merah, dan bawang merah,” jelas Danang.

Meski demikian, ia mengingatkan adanya potensi kenaikan harga pada komoditas tertentu, terutama daging ayam ras dan daging sapi, seiring meningkatnya permintaan menjelang Ramadan dan Idul Fitri.

Menurutnya, kondisi tersebut harus diantisipasi melalui penguatan pengendalian pasokan, kelancaran distribusi antar daerah, serta stabilisasi harga melalui langkah konkret TPID.

Lebih lanjut Danang menyampaikan, berdasarkan neraca pangan menjelang Idul Fitri 2025 dan proyeksi 2026, ketersediaan pangan strategis di Sleman secara umum berada dalam kondisi surplus. 

Komoditas utama seperti beras, cabai, gula pasir, daging ayam ras, dan telur ayam ras dinilai mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Pada tahun 2026, surplus pangan diperkirakan meningkat, terutama pada komoditas cabai dan protein hewani. Namun demikian, potensi tekanan harga tetap perlu diantisipasi akibat meningkatnya permintaan dan faktor distribusi menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional,” kata Danang.

Sementara itu, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X menegaskan, tantangan pengendalian inflasi tidak hanya soal menjaga angka dalam koridor sasaran, tetapi juga menjaga ketenangan sosial dan kepastian ekonomi masyarakat.

“Menghadapi Ramadan dan Idul Fitri 1447 Hijriah, pendekatan kita tidak boleh reaktif. Pendekatan itu harus antisipatif, presisi, dan terkoordinasi,” tegas Sri Sultan.

Pada kesempatan tersebut, Gubernur DIY juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh TPID dan pemangku kepentingan atas capaian Juara 2 TPID Provinsi Berkinerja Terbaik Kawasan Jawa–Bali dalam ajang TPID Award 2025.

“Prestasi itu diharapkan menjadi daya dorong agar koordinasi yang rapi dan langkah yang terukur senantiasa berlanjut, terutama dalam menghadapi dinamika Ramadan dan Idul Fitri,” pungkasnya. (atm)

Dilarang

Baca Juga