.
Dr. Sumbo Tinarbuko (PM: Dokumen pribadi)
Oleh: Dr. Sumbo Tinarbuko
ZAMAN perkembangan budaya digital dan akal imitasi (AI) ditandai dengan hadirnya peristiwa dialektika besar. Sebuah dialektika yang memunculkan proses pergulatan antara tesis, antitesis, dan sintesis. Keberadaannya mampu menggoyang urat nadi penafsiran perihal estetika keindahan, karya penciptaan dan interpretasi atas tafsir visual.
Selama ini semesta raya diisi dengan dekorasi aksentuasi ilmu humaniora. Di antaranya ilmu seni visual, seni pertunjukan dan seni terapan alias desain. Ketiga disiplin ilmu itu secara eksklusif dimitoskan sebagai milik insan manusia. Keberadaannya berpondasi pada rasa perasaan, budaya serta sejarah pengalaman hidup dan kehidupan manusia.
Belakangan ini, dekorasi aksentuasi ilmu itu dilengkapi dengan munculnya fenomena akal imitasi (AI). Sebuah teknologi kecerdasan buatan yang mencoba meniru kemampuan otak manusia. Akal imitasi ini dari hari ke hari senantiasa menyempurnakan dirinya untuk memproduksi diantaranya karya seni visual dan karya desain. Gambar, ilustrasi, bentuk serta komposisi visual dengan variasi, kuantitas dan kecepatan dalam hitungan detik kedipan mata. Semua trik sulap visual itu tidak terbayangkan bakal merebak seperti jamur di musim penghujan.
Bahasa Universal
Dialektika antara seni, desain, dan akal imitasi bukan sekadar dongeng perihal menang versus kalah antara yang satu dengan lainnya. Dialektika itu sejatinya merupakan catatan proses kedewasaan peradaban visual.
Catatan itu ditandai dengan penanda visual, manakala manusia dapat memahami perihal hukum visual. Antara lain: hukum perspektif, hukum keindahan, hukum cahaya dan bayangan serta hukum proporsi. Sekarang, semua yang dipaparkan di atas diambil alih oleh akal imitasi. Semua hukum visual itu diadopsi kemudian dikawinkan dengan ilmu pengetahuan, data verbal-visual dan perhitungan algoritma.
Hasil dari produksi akal imitasi selanjutnya disebut sebagai bahasa peradaban yang bersifat universal. Sebagai bahasa universal, akal imitasi sangat mudah digunakan oleh siapa pun. Baik untuk membantu menyelesaikan berbagai macam pekerjaan. Maupun untuk berkomunikasi dengan sesama manusia di jagat raya dan jagat maya.
Ketika akal imitasi disepakati sebagai bahasa universal. Pada titik ini, akal imitasi memiliki beberapa keunikan sekaligus keunggulan. Keberadaan akal imitasi tidak memerlukan terjemahan maupun penerjemah. Ketika akal imitasi digunakan, kehadirannya dapat dirasakan secara langsung oleh sang pengguna. Saat hukum visual diambil alih oleh akal imitasi. Kehadirannya secara otomatis memegang kendali atas pemahaman makna atas hasil olahan akal imitasi. Terpenting, akal imitasi memiliki kemampuan untuk meniru apapun berdasarkan perintah dari sang pengguna. Hasilnya melampaui teritorial dan batas wilayah dari realitas visual yang dicontohnya.
Sebagai produk tiruan ciptaan Tuhan, akal imitasi tentu memiliki sejumlah kelemahan. Meski disepakati sebagai bahasa universal, akal imitasi terlihat memiliki banyak kekurangan. Di antaranya: ia tidak memiliki perasaan. Ia tidak akan memiliki inisiatif untuk mengerjakan sesuatu tanpa diperintahkan oleh sang pengguna.
Selain itu, hasil dari akal imitasi tampak bias antara batas nyata dan rekayasa. Hal itu terjadi karena kemampuan akal imitasi mampu membuat gambar dan ilustrasi terlihat sama persis dengan realitas visual yang dicontohnya. Padahal semua itu hasil rekayasa. Untuk itu, kedewasaan visual harus dihadirkan guna memvalidasi dan menyaring mana hasil karya akal imitasi dan mana yang merupakan fakta sekaligus realitas nyata.
Di luar masalah keabsahan antara realitas fakta dengan rekayasa hasil akal imitasi. Pengguna akal imitasi wajib memiliki kemampuan menyortir, menakar, memilih serta mempercayai makna yang benar berdasarkan tafsir kebenaran yang hakiki. Terpenting, hasil produksi akal imitasi memiliki pengaruh besar terutama pada aspek pembentukan opini, gaya hidup dan budaya instan yang diternakkan secara masif. Untuk itu dibutuhkan penajaman kedewasaan visual dan kesadaran etika memproduksi konten komunikasi. Baik itu bagi produsen konten kreatif yang menggunakan akal imitasi. Maupun konsumen akal imitasi yang menikmatinya lewat media sosial.
Kolaborasi Akal dan Jiwa
Dialektika antara seni, desain, dan akal imitasi sejatinya merupakan upaya untuk membangun kedewasaan dan kesadaran visual. Artinya, hasil akhir dari proses dialektika itu mewujud menjadi rekonstruksi nilai keindahan dalam perspektif estetika nusantara. Di dalam proses perkawinan, dialektika dan rekonstruksi menghasilkan anak ideologis berupa seperangkat hukum visual baru.
Di dalam tubuh anak ideologis hasil pernikahan ayah dialektika dan ibu rekonstruksi terkandung akal dan jiwa estetika Nusantara. Keduanya senantiasa menebarkan energi positif dan gelombang awan keindahan yang berarak mengharumkan jagat raya dan jagat maya. Kolaborasi akal dan jiwa senantiasa mengajarkan bahwa keindahan bukanlah sekadar tata kelola hukum dan elemen visual saja. Melainkan sebuah makna keindahan sejati yang dapat bertahan lama dan memberi pengaruh positif sekaligus menjadi panduan dan kompas guna menuntut gerak langkah kebaikan itu sendiri.
Ke depan, hasil karya seni dan desain yang berkolaborasi dengan akal imitasi akan tampak lebih indah dalam perspektif keindahan estetika Nusantara. Prediksi seperti itu layak diupayakan agar muncul karya yang mampu membangun kesadaran bersama sebagai manusia yang berbudaya. Manusia yang memiliki akal dan jiwa yang cerdas sesuai dengan perputaran roda zaman budaya digital. Pendeknya, kehadiran akal imitasi berhasil mendefinisikan ulang keberadaan seni visual, seni pertunjukan, desain komunikasi visual, desain produk dan desain interior mengacu pada hukum visual dan hukum keindahan estetika Nusantara. Jujur harus diakui bersama, keindahan sejati dalam tafsir estetika Nusantara merupakan wajah manusia Nusantara.***
*) Dr. Sumbo Tinarbuko, Pemerhati Budaya Visual dan Dosen Komunikasi Visual FSRD ISI Yogyakarta