Platinum

Dukungan Keluarga: Energi Tersembunyi di Balik Kepemimpinan

Harda Kiswaya
22 August 2025
.
Dukungan Keluarga: Energi Tersembunyi di Balik Kepemimpinan

H Harda Kiswaya, S.E., M.Si

Oleh: Harda Kiswaya

KETIKA seseorang dipercaya menjadi pemimpin, entah itu di pemerintahan, organisasi, atau komunitas, publik sering kali hanya melihat sisi formalnya: pidato, kebijakan, atau keputusan strategis. Padahal di balik layar, pemimpin tetaplah manusia biasa yang bisa lelah, stres, bahkan gamang.

Sejak dipercaya menjadi Sekda Sleman (2019-2023) hingga kini diberi amanah sebagai bupati (periode 2025-2030), saya merasakan langsung bagaimana setiap keputusan, setiap kebijakan, membawa konsekuensi besar. Di balik sorot kamera dan rapat-rapat panjang, ada beban yang kadang tidak terlihat: tekanan, kritik, dan tuntutan publik.

Dalam situasi seperti itulah seorang pemimpin menyadari satu hal, betapa dukungan keluarga bisa menjadi  energi tersembunyi yang menjaganya tetap tegak. Rumah dan keluarga  adalah “charging station” di tengah hiruk pikuk tanggung jawab publik

Keluarga Sebagai Cermin Sosial

Saya bukan ahli psikologi, tapi meyakini apa yang dikatakan banyak pakar. Psikolog dari UGM, Dr. Rini Utami, dalam seminar kepemimpinan (2021) menegaskan, pemimpin yang mendapat dukungan penuh dari keluarga akan lebih stabil dalam menghadapi tekanan. Saya merasakan kebenaran itu. Saat kritik dari publik datang, doa dan pelukan dari istri serta anak menjadi penguat yang tak ternilai

Selain jadi sumber kekuatan pribadi, keluarga juga berfungsi sebagai “cermin sosial”. Publik kerap menilai seorang pemimpin dari cara ia mengelola rumah tangganya. Sosiolog politik dari UIN Sunan Kalijaga, Dr. Bagus Santoso, (2022) menyebut: “Keluarga adalah cermin. Bila keluarga mendukung, pemimpin lebih mudah membangun legitimasi sosial karena publik melihat konsistensi antara kehidupan privat dan tanggung jawab publik.”

Begitulah, keluarga bukan sekadar tempat pulang, melainkan sumber ketenangan batin. Mereka adalah cermin yang mengingatkan, penopang yang menjaga, sekaligus pengingat bahwa jabatan sejatinya adalah jalan ibadah untuk sebesar-besarnya mengabdi pada kepentingan publik.

Kesadaran ini pula yang kemudian melahirkan sebuah momen luar biasa pada Kamis, 24 Juli 2025. Pagi itu, seluruh pejabat eselon II dan para panewu hadir memenuhi undangan pertemuan, beserta pasangan masing-masing. Suasana Pendapa Parasamya yang biasanya formal, berkembang lebih cair dan akrab karena kehadiran para istri pejabat tersebut.

Undangan pertemuan istimewa itu sengaja dilakukan agar para pasangan pejabat dapat mendengar langsung betapa pentingnya peran mereka. Bahwa, keberhasilan pembangunan di sebuah daerah, tak terkecuali  di Sleman, tidak bisa dilepaskan dari dukungan keluarga, terutama pasangan di rumah.”

Saya juga menegaskan tidak akan menolerir perilaku yang merusak keharmonisan rumah tangga ASN. Karena bagaimana mungkin seorang pejabat bisa memimpin masyarakat jika rumah tangganya sendiri tidak terjaga?

Selebihnya juga kita sampaikan soal tunjangan kinerja (TPP), dimana bupati dan wakil bupati, memutuskan untuk tidak mengambil TPP. Kami ingin memberikan teladan, kepemimpinan bukan soal menerima lebih banyak, melainkan soal memberi dan berkorban.

Selain itu kita pun sepakat untuk meninggalkan rivalitas politik. Sebab, di pemerintahan tidak ada lagi kubu-kubuan. Yang ada hanyalah satu tim, dengan tujuan yang sama—membangun Sleman lebih maju dan sejahtera.

Kami percaya, dengan dukungan pasangan masing-masing, para pejabat bisa bekerja lebih fokus, lebih ikhlas, dan lebih kuat menghadapi tantangan.

Belajar dari Pengalaman

Kita bisa belajar dari banyak tokoh.  Presiden Joko Widodo dalam beberapa kesempatan, misalnya wawancara tahun 2019, menyebut betapa besar dukungan Ibu Iriana dalam perjalanan politiknya. Barack Obama dalam memoarnya A Promised Land (2020) pun mengakui, tanpa Michelle Obama, mungkin ia tidak akan mampu bertahan dua periode di Gedung Putih.

Sebaliknya, kita juga sering melihat kasus pemimpin yang rumah tangganya goyah. Dampaknya bukan hanya pada dirinya, tapi juga pada kepercayaan publik. Itu menjadi pelajaran berharga: keharmonisan keluarga ternyata sangat erat kaitannya dengan legitimasi sosial seorang pemimpin.

Pemimpin Juga Perlu Pulang

Akhirnya saya ingin menyampaikan pesan sederhana. Pertama, pemimpin jangan lupa pulang. Pulang pun juga jangan hanya secara fisik, tetapi juga hati. Sisihkan waktu untuk keluarga, sebab di situlah kita menemukan kembali energi untuk melayani masyarakat.

Kedua, keluarga juga jangan pelit memberikan dukungan. Sebab, sikap pengertian, doa, dan semangat dari pasangan serta anak-anak adalah vitamin paling mujarab untuk menjaga semangat seorang pemimpin.

Percayalah, pemimpin yang kuat lahir dari keluarga yang kokoh. Dan, dari keluarga yang kokoh itulah akan lahir kepemimpinan yang tidak hanya efektif, tetapi juga manusiawi.

Pada akhirnya, kepemimpinan bukan hanya soal visi besar atau strategi canggih, tapi juga tentang hal-hal sederhana yang kadang luput dari sorotan: perhatian, dukungan, dan cinta dari orang-orang terdekat.

Itulah energi tersembunyi yang membuat seorang pemimpin tetap berpijak di bumi, meski harus berjalan di panggung publik. Maka jika kita ingin melahirkan pemimpin yang tangguh sekaligus rendah hati, jangan lupa rawatlah keluarga, karena dari situlah segalanya bermula.***


* Penulis adalah Bupati Sleman Periode 2025 - 2030, dan sedang menempuh Program Studi Doktor (S3) Kepemimpinan dan Inovasi Kebijakan (DKIK) di Sekolah Pascasarjana UGM.

editor: muh sugiono


 

Dilarang

Baca Juga