.
Lingkungan Embung Opak yang kini dipenuhi gazebo. (PM-kus)
DI lereng Merapi yang sejuk, Desa Wisata Sorasan menawarkan sesuatu yang tak sekadar indah dipandang mata. Di balik pepohonan yang rindang dan dua aliran sungai yang mengapitnya, sebuah karya sederhana namun visioner berdiri: Embung Opak. Tidak dirancang oleh arsitek profesional, tetapi justru itulah yang membuatnya istimewa, sebuah ruang yang dibangun dengan logika alam, pengalaman, dan rasa.
Haris Al Haq, penggagas sekaligus owner Wisata Embung Opak, memahami betul bahwa alam memberi petunjuk paling jujur. Pembuatan embung dilakukan mengikuti arah mata angin dan aliran air, menghasilkan penataan ruang yang terasa alami dan artistik tanpa harus terlalu teknis.
Air dari Dam Sorasan bagian atas dialirkan melalui saluran sekunder menuju deretan kolam besar yang saling terhubung. Kolam-kolam ini bukan sekadar tampungan air, tapi sistem penyangga yang cerdas: menampung dan meredam debit air saat melimpah, dan membagikan air secara teratur ke sawah saat debit sungai menurun.
“Konsep kefungsian embung ini-lah yang kami sematkan menjadi nama Embung Opak,” jelas Haris pada Kamis 27 November 2025.
Dari kolam terakhir, air dialirkan kembali ke saluran menuju persawahan, menghidupi hamparan padi yang menggantungkan harapan pada aliran yang stabil. Sejak awal, Embung Opak dibangun dengan konsep jelas: penampungan air, budidaya ikan air tawar, dan tempat rekreasi.
Kini kawasan wisata itu dilengkapi pendopo besar yang multifungsi, mulai dari rapat, gathering, hingga resepsi pernikahan. Lingkungan sekitar yang dilingkupi udara sejuk Merapi dan dua sungai, Opak di barat dan Bronggang di timur, menambah nilai estetika sekaligus ekologis.
“Kondisi alam Sorasan inilah yang membentuk Desa Wisata Sorasan,” ujar Haris.
Salah satu ciri khas Embung Opak adalah homestay yang berada tepat di tengah kolam. Didesain menyatu dengan alam, bangunannya didominasi kayu dan bata ekspos. Menginap di sana memberi pengalaman tenang dan asri, seakan rumah itu sendiri ikut terapung dalam kesejukan pagi Merapi.
Haris menambahkan bahwa homestay di kampung Sorasan juga tersedia, menyatu dengan rumah penduduk dan menghadirkan kesederhanaan yang tulus. Menariknya, meski Sorasan kaya akan aliran sungai, warganya tidak selalu bisa menikmati air layak minum dari mata air setempat. Banyak mata air mengandung besi (Fe) yang membuatnya berbau logam.
Dukuh Sorasan, Drs. Jazim Thoyibi, menjelaskan bahwa warga akhirnya mengandalkan mata air Blumbang Gedhe, yang letaknya lebih tinggi sehingga air dapat mengalir secara gravitasi tanpa pompa. Pipa PVC dipasang secara swadaya, segala operasional dan perawatan dilakukan gotong royong oleh kelompok warga.
“Lebih dari 80 keluarga menggunakan air dari Blumbang Gedhe,” tutur Jazim.
Blumbang Gedhe sendiri dulunya memiliki debit besar hingga dibangun penampung kokoh pada 1970-an. Namun setelah erupsi Merapi 2010, debitnya berkurang drastis. Jazim berharap mata air ini bisa dipulihkan kembali agar manfaatnya semakin besar bagi Sorasan dan kawasan sekitarnya.
Embung Opak bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah simbol relasi erat antara manusia, air, dan ruang hidupnya. Sebuah contoh bagaimana: rekayasa sederhana dapat bekerja sangat efektif, keindahan muncul dari kedekatan dengan alam, dan kemandirian warga menjadi fondasi pembangunan desa.
Di Sorasan, wisata bukan sekadar hiburan. Ia adalah cerita bagaimana masyarakat menjaga lingkungannya, dan bagaimana alam membalas dengan kesejahteraan.