Platinum

Majalah Poesara, Membaca Warisan Intelektual Tamansiswa

Bambang Widodo
08 July 2026
.
Majalah Poesara, Membaca  Warisan Intelektual Tamansiswa

Ki Agus Purwanto menerima Buku PKBTS dari Editor Ki Bambang Widodo (PM -Istimewa)

Patmamedia.com (YOGYAKARTA) – Tim Pengabdian kepada Masyarakat Program Studi Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menggelar diskusi publik di Pendapa Agung Tamansiswa, Jalan Tamansiswa No. 25, Yogyakarta, Selasa (7/7/2026). Kegiatan ini bertujuan memperkenalkan kembali warisan pemikiran dan praktik pendidikan Tamansiswa. Selain itu, diskusi juga dimaksudkan untuk memperluas pemahaman mengenai peran Tamansiswa dalam sejarah pendidikan nasional dan kebudayaan Indonesia.

Diskusi mengangkat tema "Membaca Kembali Warisan Intelektual Tamansiswa Melalui Majalah Poesara untuk Memahami Sejarah Pendidikan Nasional, Kebudayaan, dan Gagasan Berpikir di Indonesia." Acara dipandu sejarawan UNY, Eka Ningtyas. Tiga narasumber hadir, yakni Kuncoro Hadi, S.S., M.A. (Dosen Ilmu Sejarah UNY), Rendra Agusta, S.S., M.Sos. (Filolog Komunitas Sraddha Surakarta), dan Agus Purwanto (Pustakawan Museum Dewantara Kirti Griya Tamansiswa).

Kuncoro Hadi mengatakan Majalah Poesara bukan sekadar kumpulan teks lama. Menurutnya, majalah tersebut merupakan cetak biru intelektual bangsa Indonesia. Ketika diperlakukan sebagai korpus atau kumpulan data teks yang terstruktur, sejarah tidak lagi dibaca secara linier maupun sepotong-sepotong. Sebaliknya, pembaca dapat melihat gambaran utuh tentang bagaimana konsep "Indonesia" dirumuskan melalui bahasa, argumentasi, dan perdebatan kebudayaan.

Ia menegaskan, Poesara bukan hanya majalah internal Tamansiswa. Majalah itu juga menjadi rekaman strategi bahasa dan pendidikan dalam menghadapi kolonialisme. Kekayaan linguistiknya, mulai dari transisi ejaan Van Ophuijsen ke Ejaan Republik hingga perpaduan bahasa Melayu, Jawa, Belanda, dan lainnya, menjadi objek kajian yang penting. Data tekstual tersebut bahkan memungkinkan penelusuran perkembangan makna berbagai istilah, termasuk kata "merdeka", dari masa kolonial hingga kemerdekaan.

Kuncoro menambahkan, Majalah Poesara juga memperlihatkan bentuk perlawanan struktural terhadap sistem pendidikan Barat yang dinilainya bersifat intelektualistik, materialistik, dan menjauhkan anak dari kehidupan rakyat.

"Melalui pelacakan konsep Sistem Among, Majalah Poesara membongkar bagaimana asas ketertiban dan kedamaian menjadi fondasi pedagogi nasional. Konsep kemerdekaan berpikir berakar pada kedaulatan individu untuk menentukan nasibnya dengan tuntunan akal dan kompas moral. Gagasan itu kemudian disebarluaskan kepada pamong-pamong Tamansiswa di berbagai daerah agar diwujudkan dalam tindakan nyata," ujar Kuncoro.

Sementara itu, Rendra Agusta menyampaikan bahwa Tamansiswa yang didirikan Ki Hadjar Dewantara pada 3 Juli 1922 menempati posisi penting dalam sejarah pendidikan Indonesia. Warisan intelektual Tamansiswa, menurutnya, tidak hanya tercermin dalam gagasan Ki Hadjar Dewantara, tetapi juga dalam praktik pendidikan dan kerja intelektual para pamongnya.

"Sebagai media intelektual yang terbit di lingkungan Tamansiswa, Majalah Poesara merekam berbagai gagasan, perdebatan, dan orientasi pemikiran mengenai pendidikan, kebudayaan, kebangsaan, serta pembentukan manusia merdeka," kata Rendra, yang pernah bertugas sebagai Edukator Museum Dewantara Kirti Griya.

Pustakawan Museum Dewantara Kirti Griya, Agus Purwanto, menjelaskan Majalah Poesara didirikan Ki Hadjar Dewantara pada Oktober 1930. Bendel-bendel majalah tersebut hingga kini masih tersimpan dengan baik di perpustakaan museum. Selain dimuat di Poesara, tulisan-tulisan Ki Hadjar Dewantara juga telah dihimpun dalam dua buku karyanya tentang pendidikan dan kebudayaan.

Diskusi publik ini dihadiri mahasiswa, dosen, guru, pegiat sejarah, pegiat pendidikan, pegiat kebudayaan, serta komunitas literasi di Yogyakarta. Acara ditutup dengan foto bersama dan penyerahan buku Sejarah Perkumpulan Keluarga Besar Tamansiswa (PKBTS) kepada Perpustakaan Museum Dewantara Kirti Griya oleh editornya, Ki Bambang Widodo.***

editor: muh sugiono

Dilarang

Baca Juga