Jalan Gelap Demokrasi dan Keadilan: Cermin Demokrasi Indonesia yang Tersesat di Lorong Gelap
Nadi Mulyadi
25 October 2025
.
Para penulis buku Jalan Gelap Demokrasi dan Keadilan, dalam diskusi publik di Ruang Paripurna II DPRD DIY, Sabtu (25/10/2025) / PM-Nadi M) -
Patmamedia.com (Yogyakarta) – Buku Jalan Gelap Demokrasi dan Keadilan bukan sekadar kumpulan tulisan, melainkan refleksi kritis atas perjalanan bangsa yang masih mencari arah di tengah kabut demokrasi dan keadilan sosial. Buku setebal 246 halaman ini menghimpun 17 penulis lintas profesi—mulai dari politisi, seniman, jurnalis, hingga aktivis—yang menulis dari pengalaman dan keprihatinan terhadap kondisi demokrasi Indonesia hari ini.
Dibedah dalam diskusi publik di Ruang Paripurna II DPRD DIY, Sabtu (25/10/2025), buku ini menjadi ruang pertemuan gagasan kritis. Para penulis, di antaranya Abidin Fikri, Iman Ashori Saleh, dan Shinta Herindrasti, mengulas sisi-sisi gelap demokrasi yang sering abai pada keadilan sosial dan moral.
Koordinator kegiatan, Ons Untoro, menjelaskan buku ini merupakan seri kedua dari proyek Renungan Indonesia yang diterbitkan Tunggak Pustaka bekerja sama dengan Abidin Fitri Padjialam Foundation.
“Para penulis mencoba menelusuri jalan gelap demokrasi dan keadilan kita—lorong yang tak selalu terang, tapi penting untuk dilalui agar bangsa ini belajar dan tumbuh,” ujar Ons.
Dua pembicara utama dalam diskusi itu, Iman Ashori Saleh (mantan Wakil Ketua Komisi Yudisial) dan Abidin Fikri (anggota DPR RI 2024–2029), banyak menyoroti bagaimana praktik demokrasi di Indonesia sering kali tersandung pada lemahnya keadilan sosial dan politik. Moderator Shinta Fitri Hemadrasti, dosen Hubungan Internasional UKI Jakarta, mengarahkan diskusi agar tidak berhenti pada kritik, tetapi juga menimbang arah perubahan.
Sementara itu, anggota DPRD DIY Dr. Hj. Yuni Setya Rahayu dari Fraksi PDIP yang membuka acara, menekankan bahwa demokrasi sejati harus berpihak pada keadilan dan kesetaraan.
“Kehadiran perempuan dalam politik bukan sekadar simbol, tetapi energi moral untuk memperkuat demokasi yang berkeadilan,” katanya.
Salah satu penulis, drg. Ahmad Syaifi, mengaku senang bisa turut menyumbangkan gagasan dalam buku ini. “Menulis bagi saya bukan hanya hobi, tetapi cara menghidupkan pikiran agar tetap aktif dan berani mengungkapkan isi hati serta angan-angan,” ujar mantan wartawan Kedaulatan Rakyat itu.
Selain Ahmad Syaifi, deretan nama lain yang ikut menulis antara lain Abidin Fikri, Agoes Widhartono, Antie Solaiman, Ahmad Taufan Damanik, Bambang Kusumo Prihandono, Baskara T. Wardana, Edy Sukrisno, Eko S. Dananjaya, Halim HD, Iman Ansori Saleh, Indro Suprobo, Ons Untoro, Osmar Tanjung/Teresa Birs, Simon HT, dan Shinta Herindrasti.
Dengan gaya penulisan reflektif dan berlapis pengalaman, Jalan Gelap Demokrasi dan Keadilan menghadirkan potret jujur tentang Indonesia: sebuah bangsa yang masih berjuang keluar dari lorong gelap menuju cahaya keadilan.***