Platinum

Ke Asprov DIY Bawa Anak Istri, Wahyudi Kurniawan dan Makna Totalitas Kepemimpinan

Muh Sugiono
27 February 2026
.
Ke Asprov DIY Bawa Anak Istri, Wahyudi Kurniawan dan Makna Totalitas Kepemimpinan

Wahyudi Kurniawan menyerahkan berkas pencalonan didampingi keluarga, menjadi simbol komitmen dan dukungan kepemimpinannya membangun sepak bola Sleman. (PM- Ipong Suhardiyanto)

Patmamedia.com (SLEMAN) -- RABU, 18 Februari 2026, Wahyudi Kurniawan mendaftarkan diri sebagai calon Ketua Askab PSSI Sleman periode 2026–2030 di kantor Asprov PSSI DIY. Ia datang bersama istri dan dua putranya yang duduk mendampingi saat berkas pencalonan diserahkan.

Menyadari beberapa pasang mata sedang memperhatikan kehadiran istri dan anaknya, Wahyudi hanya membalasnya sambil tersenyum lebar, “Saya tidak bisa melakukan apa pun tanpa dukungan mereka.”

Bagi Wahyudi, kehadiran keluarga bukan seremoni. Ia sengaja mengajak istri (Sri Purwanti Endang Iriyani) dan kedua buah hatinya ( Langit Ar Abrar Rafa Kurniawan dan Radhitya Al Ghazi Rafif Kurniawan), karena mengelola sepak bola, menurutnya harus dilandasi kecintaan dan totalitas, sebagaimana mengurus keluarga sendiri.

Wahyudi Kurniawan, S.IP, lahir di Sleman, 25 Juni 1983 dari pasangan Sunyoto (alm) dan Hj. Hartati. Ia sempat bercita-cita menjadi dokter, namun gagal menembus fakultas kedokteran. Ia kemudian menempuh pendidikan di Jurusan Hubungan Internasional, FISIPOL Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan lulus pada 2006.

Sejak remaja, dua dunia telah membentuknya, desain grafis dan sepak bola. Dari meja sablon sederhana, ia merintis usaha yang berkembang menjadi Grup Planet Biru dengan seratusan karyawan. Baginya, keberhasilan bukan soal besar-kecilnya omzet, melainkan kemampuan menunaikan tanggung jawab, kepada keluarga maupun karyawan.

Di kancah politik, Wahyudi Kurniawan saat ini duduk sebagai anggota DPRD Sleman. Pada Pemilihan Umum (Pemilu) yang digelar 14 Februari 2024, kader PDIP itu bahkan memecahkan rekor dengan meraih suara terbanyak yakni 16.469 suara tingkat DPRD Kabupaten Sleman. 

Prestasi yang Berbicara

WK, begitu sapaan akrab Wahyudi Kurniawan, tak hanya dikenal karena gagasan, tetapi juga capaian. Di bawah kepemimpinannya, Askab PSSI Sleman menorehkan prestasi gemilang pada Porda DIY XVII dan Peparda DIY IV 2025.

Kontingen sepak bola dan futsal Sleman sukses mempersembahkan tiga medali emas. Tim sepak bola putra merebut emas cabang paling prestisius, sementara tim futsal putra dan putri tampil dominan hingga mengantar Sleman meraih gelar juara umum. Capaian itu menjadi bukti bahwa pembinaan berjenjang yang dirintis Askab bukan sekadar konsep di atas kertas.

Bagi WK, tiga emas tersebut bukan titik akhir. “Pencapaian ini hanya batu pijakan untuk level yang lebih tinggi,” tegasnya kala itu.

Ia menekankan pentingnya keberlanjutan pembinaan, pendataan perkembangan pemain, serta evaluasi program secara rutin agar prestasi tidak bersifat sesaat.
Dari Lapangan Kampung ke Visi Jangka Panjang.

Sebagai mantan striker klub Pesat (Persatuan Sepakbola Tempel), Wahyudi memahami sepak bola dari akarnya. Dua periode memimpin Askab (2018–2021 dan 2021–2025) ia gunakan untuk membangun fondasi: kompetisi usia dini, liga remaja, liga futsal, kursus wasit, hingga penguatan tata kelola organisasi.

Kini ia kembali maju untuk menuntaskan roadmap 15 tahun yang telah dirancangnya. “Perjalanan itu sudah masuk tahun ke-12. Masih ada tiga tahun strategis yang harus dioptimalkan agar fondasinya benar-benar kokoh,” katanya.

Visinya jelas: tata kelola profesional dan transparan, administrasi digital, prioritas pembinaan usia dini, peningkatan kualitas pelatih dan wasit, serta penguatan infrastruktur yang merata. Semua berjalan dalam ekosistem yang sinergis, merujuk pada Statuta FIFA, PSSI, dan RPJMD Kabupaten Sleman.

“Sepak bola adalah ruang pembelajaran karakter,” ujarnya. Sportivitas, fair play, kerja sama, dan integritas harus menjadi napas setiap kompetisi.

Mimpi yang Tak Pernah Padam

Ia pernah ditanya, apa lagi yang ingin dicapai setelah mapan di usia 40-an?
Jawabannya sederhana: “Saya ingin melihat PSS kembali berjaya di kancah nasional.”

Sebuah jawaban yang mengingatkan bahwa di balik sosok pengusaha mapan dan politikus sukses, ada anak kampung yang masih menyimpan mimpi tentang si kulit bundar.

Di kantor Asprov hari itu, Rafa dan Rafif tampak memandangi ayahnya menandatangani berkas. Mungkin mereka belum sepenuhnya mengerti arti momen tersebut. Tetapi suatu hari nanti  mereka akan paham, ayah mereka tidak sekadar sedang mencalonkan diri.

Wahyudi Kurniawan sedang mengajarkan bahwa mengurus sepak bola, sebagaimana mengurus keluarga, adalah tentang cinta yang tak boleh setengah-setengah.***

Dukungan

Baca Juga