.
Bukit Mintorogo representasi dari harmoni antara manusia, alam, dan leluhur. (PM-ist)
Di lereng Prambanan yang menyimpan sejarah dan keheningan, ada sebuah desa bernama Mintorogo, tempat di mana alam, budaya, dan spiritualitas menyatu dalam damai. Desa yang terletak di Kapanewon Prambanan, Sleman ini perlahan menapaki jalan menjadi destinasi wisata berbasis spiritual dan budaya, berkat sinergi masyarakat, pemerintah desa, dan semangat muda yang menggerakkan perubahan.
Perjalanan menuju Mintorogo terasa seperti kembali ke masa lalu. Udara yang sejuk, pemandangan yang memanjakan mata, dan sambutan ramah warga menjadi pembuka bagi pengalaman yang lebih dalam, pengalaman yang tak sekadar menyentuh kulit, tapi juga batin.
Awal dari Sebuah Batu
Segalanya bermula dari penemuan batu-batu yang tampak tertata rapi di sebuah dataran tinggi, lebih tinggi dari Candi Prambanan, sekitar 425 meter di atas permukaan laut. Batu itu bukan sembarang batu. Setelah dilakukan kajian oleh Dinas Kebudayaan dan tim arkeologi, ditetapkanlah bahwa batu itu adalah stupa Buddha kuno, yang kini telah menjadi Cagar Budaya sejak 2022.
“Dulu hanya dugaan. Tapi setelah diteliti serius sejak 2015, ternyata benar. Kami punya stupa peninggalan sejarah,” ujar Prawoto, pengelola Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Mintorogo, dalam wawancara bersama dua mahasiswa Universitas Amikom Yogyakarta, Vinsensius David Nugraha dan Filipus Bily Putra Pradana, pada 6 Juni 2025 lalu.
Proses transformasi Mintorogo menjadi desa wisata tak lepas dari kolaborasi warga dan peran pemuda. Mereka membentuk Pokdarwis yang menjadi motor penggerak utama kegiatan wisata desa. Pemerintah desa pun mendukung dari sisi kebijakan dan anggaran.
“Kami ajak kaum muda, supaya pengelolaan wisata ini tidak hanya jalan, tapi juga berkelanjutan. Ini harapan kami agar desa punya masa depan,” lanjut Prawoto.
Menyentuh Langit, Menyapa Leluhur
Mintorogo bukan sekadar indah, tapi juga menyimpan daya magis yang menenangkan. Stupa putih di puncak bukit menjadi daya tarik utama, tempat yang kini juga difungsikan sebagai tempat peribadatan umat Buddha. Dari gardu pandang, wisatawan dapat menikmati panorama Gunung Merapi dan hamparan wilayah Klaten di kejauhan.
Wisata spiritual semakin lengkap dengan ritual malam Jumat Kliwon, di mana warga kerap menggelar doa dan meditasi bagi mereka yang datang dengan permohonan khusus. Setiap bulan September, warga juga menggelar kenduri panen raya dengan tumpeng pitu sebagai bentuk syukur.
“Tradisi kami bukan untuk dilestarikan semata, tapi untuk dirasakan. Di sinilah kekuatan spiritual Mintorogo,” jelas Prawoto.
Selain spiritual, Mintorogo juga hidup dengan kesenian tradisional sandul yang terus dijaga oleh Sanggar Seni Mintorogo Budoyo. Pementasan cerita lokal seperti Wahyu Katenraman menggambarkan ketenangan hidup dalam kebersahajaan, khas Mintorogo.
Untuk pengisi perut dan oleh-oleh, wisatawan bisa mencicipi emping garut, manggleng, dan umbi gembili yang mulai banyak diminati pasar. Kerajinan anyaman bambu juga menjadi alternatif cendera mata yang otentik dan penuh nilai lokal.
Mintorogo di Mata Dunia
Suasana damai Mintorogo tak hanya memikat wisatawan domestik, tapi juga mancanegara. Seorang pelancong asal Jerman bahkan menyebutnya sebagai “tempat spiritual yang luar biasa.”
Bagi warga, harapan pun terus tumbuh. “Kalau sudah dikenal luas, produk kuliner, kerajinan, dan hasil tani kami bisa dipasarkan lebih jauh. Ini harapan satu-satunya bagi warga sini,” ungkap Prawoto dengan mata berbinar.
Mintorogo bukan hanya desa, melainkan representasi dari harmoni antara manusia, alam, dan leluhur. Dengan gotong royong, semangat muda, dan semesta yang mendukung, desa ini melangkah perlahan tapi pasti menuju panggung wisata nasional bahkan internasional.
Di Mintorogo, wisata bukan sekadar datang dan melihat, melainkan datang, merasa, dan kembali dengan hati yang damai.