Platinum

Peringati Hari Jadi ke-79, Kalurahan Patalan Hidupkan Kembali Sejarah Lewat Ziarah dan Pengajian

Wagino
21 November 2025
.
Peringati Hari Jadi ke-79, Kalurahan Patalan Hidupkan Kembali Sejarah Lewat Ziarah dan Pengajian

Lurah Patalan, Sayudi Anom Jayadi (pakai jas), bersiap menerima potongan tumpeng dari Rois yang memimpin prosesi. (PM-Wagino)

Patmamedia.com (BANTUL) – Peringatan Hari Jadi Kalurahan Patalan Kapanewon Jetis ke-79 tidak hanya berlangsung khidmat, tetapi juga sarat makna sejarah.

Rangkaian kegiatan dimulai dengan ziarah ke makam para pamong yang telah wafat, dilanjutkan dengan pengajian pada Kamis (20/11/2025).

Momentum ini menjadi ajang mengenang jasa para pendahulu sekaligus meneguhkan identitas Kalurahan Patalan.

Pengajian yang dipimpin Ustad Hasyim Ashari dari Pleret berlangsung lancar dan dihadiri jajaran pejabat Kapanewon Jetis, Kapolsek, Danramil, para pamong, dukuh, serta tokoh masyarakat. Selain doa bersama, acara juga diisi pemotongan tumpeng serta penyampaian sejarah berdirinya Kalurahan Patalan.

Lurah Patalan, Sayudi Anom Jayadi menjelaskan, Patalan terbentuk dari penyatuan lima kalurahan lama, yaitu Klaras Lama, Bakulan, Kategan, Gaduh, dan Gerselo.

“Penggabungan lima wilayah ini menjadi fondasi awal terbentuknya Kalurahan Patalan sebagaimana yang kita kenal sekarang,” ungkapnya.

Tak hanya sejarah administratif, Sayudi juga mengisahkan asal-usul nama Patalan yang bersumber dari legenda pada masa Kerajaan Mataram.

Cerita itu berkaitan dengan putra Panembahan Senopati, yakni Raden Ronggo, yang digambarkan sakti namun berwatak keras hingga menimbulkan kekisruhan di wilayah pesisir selatan. Kekacauan tersebut konon memicu kemurkaan Ratu Pantai Selatan.

Menurut cerita turun-temurun yang disampaikan Sayudi, sang ratu mengutus seekor naga untuk menantang Raden Ronggo. Keduanya sepakat bertemu di titik tengah antara Keraton Mataram di Kotagede dan wilayah pesisir selatan, lokasi yang kini dikenal sebagai Kalurahan Patalan. Pertempuran dahsyat pun terjadi, hingga akhirnya Raden Ronggo diuntal atau ditelan naga tersebut dan keduanya hilang tanpa jejak.

“Dari peristiwa itu kemudian muncul nama Panguntalan, yang seiring waktu berubah menjadi Patalan,” jelas Sayudi di hadapan masyarakat.

Ia berharap penjelasan sejarah ini dapat menumbuhkan kebanggaan dan pemahaman masyarakat terhadap akar identitas Patalan.

“Semoga apa yang saya sampaikan bisa menjadi pengingat bahwa nama Kalurahan Patalan memiliki sejarah panjang,” ujarnya.

Menutup sambutan, Sayudi menyampaikan harapan agar peringatan Hari Jadi Kalurahan Patalan di tahun mendatang dapat digelar lebih meriah dan semakin memperkuat kebersamaan warga. (wag)

Griting

Baca Juga