.
Dr. Sumbo Tinarbuko
Oleh: Dr. Sumbo Tinarbuko
DULU album potret keluarga berwujud buku tebal. Bersampul gambar foto flora dan fauna. Atau diberi samak berwarna polos yang cerah-ceria. Album potret keluarga zaman budaya analog diyakini sebagai prasasti visual. Berwujud buku besar tempat menggantungkan kenangan indah masa silam. Berisi potret bidikan visual dari berbagai aktivitas insan manusia bersama sanak keluarganya.
Prasasti visual itu akan dibuka ulang lalu dicermati lagi manakala mereka sedang berkumpul reriungan bersama keluarga. Atau saat reuni mengenang masa muda dengan melibatkan teman, sahabat dan handai taulan.
Sekarang dalam perkembangan budaya digital. Keberadaan album foto keluarga bersalin wajah secara signifikan.
Perubahan itu bukan sekadar menggeser rupa perwujudan wadagnya. Melainkan secara otomatis mengganti tata kelola penyimpanan prasasti visual album potret keluarga. Juga menerapkan kesepakatan baru dalam memahami keberadaan potret nostalgia keluarga bersama kerabat tercinta.
Penampakan visual album potret keluarga sekarang harus balik nama. Wajib mengikuti logika algoritma. Kehadirannya menjadi barisan jejeran ikon sekaligus deretan simbol gaya hidup manusia modern. Semua potret hasil bidikan kamera yang menempel di tubuh telepon genggam tersimpan rapi dalam format digital. Seluruh prasasti visual, album potret keluarga maupun album foto individu, diabadikan di dalam galeri gawai pintar milik pribadi atau di awan digital.
Arsip Kehidupan
Ketika album potret keluarga dikaji dalam perspektif ilmu desain komunikasi visual (dekave) dan cara pandang budaya visual. Ternyata album potret keluarga tidak seperti yang tergambar di dalam benak pembaca laman patmamedia.com selama ini.
Album potret keluarga harus dipahami dan didudukan sebagai arsip kehidupan. Di dalamnya tercipta sekaligus tersaji produk pengetahuan perihal sejarah hidup dan kehidupan si pemilik album potret keluarga. Di lembaran album potret keluarga juga tersimpan prasasti visual berupa ingatan manusia atas berbagai aktivitas mereka pada masa lalu.
Di antaranya: apakah arsip kehidupan itu berkaitan dengan dokumentasi aktivitas profesi, pekerjaan, karier, naik pangkat, mengemban jabatan baru. Apakah berwujud penyimpanan informasi kabar gembira, seperti: perkawinan, sunat supitan, peringatan ulang tahun, kelahiran anak dan cucu, pindah rumah, menempati rumah baru. Atau kabar duka. Berupa jejak digital prosesi pemakaman orang tua atau sanak kerabat yang meninggal dunia.
Dogma dekave menyebarkan pengaruhnya dalam konteks potret dan susunannya merupakan bahasa visual. Sebagai bahasa visual yang menjadi arsip kehidupan. Keberadaannya mendongengkan petatah-petitih bernuansa moralitas nilai luhur.
Warna potret hitam putih atau cokelat sepia yang sudah pudar. Sudut pemotretan yang statis dan kaku. Hingga frame atau pigura yang dipasangkan guna menghias penampakan visual potret itu.
Semuanya merupakan arsip kehidupan yang dihadirkan lewat elemen dekave. Terdiri dari bentuk, garis, warna, pencahayaan dan komposisi. Seluruh arsip kehidupan dalam tafsir ilmu dekave sejatinya merepresentasikan makna serta karakter objek yang dipotret.
Harus diakui bersama, objek yang terpampang di dalam album potret keluarga bukan sekadar perihal orang yang dipotret. Akan tetapi merupakan simbol atas jejak sejarah hidup dan kehidupan objek orang yang terpampang dalam arsip kehidupan. Lebih jauh lagi, peran arsip kehidupan dalam album potret keluarga menjadi bagian dari tenunan sejarah besar sebuah bangsa yang berbudaya.
Budaya Visual
Sebaliknya, dalam cara pandang budaya visual, album potret keluarga memasuki perspektif makna baru. Dulu, adegan foto berjamaah direkatkan makna untuk diingat dan dikenang. Karena itulah, proses pemotretan dikerjakan secara serius guna menghasilkan arsip kehidupan seindah mungkin.
Sekarang, berpotret ria menggunakan gawai pintar berbasis digital, dalam perspektif budaya visual, memasuki tafsir makna “suka-suka gue”. Artinya, pemilik telepon pintar leluasa mengabadikan dirinya dalam gaya visual dan peristiwa apa pun. Jumlah klik bidikan potret atas dirinya dalam jumlah tak terbatas. Mulai dari memotret dirinya sendiri dalam berbagai pose. Atau penampakan visual selfie dengan posisi tubuh sangat ekspresif. Mengabadikan makanan dan minuman yang dipesan dari restoran atau kafe. Hingga keberanian untuk membeku-visualkan kejadian yang dianggap receh dan remeh-temeh oleh warganet.
Sayangnya, ketika telepon pintar memberikan berbagai fitur canggih untuk menghasilkan sebuah foto menarik. Pada titik bersamaan, kualitas foto digital yang dihasilkan telepon pintar tampak standar dan seragam. Penampakan visual foto terlihat paritas alias sama sebangun. Sangat tergantung pada pemanfaatan filter. Bahkan terpaku pada angle pengambilan pemotretan bergaya selfie. Serta rasio layar dalam posisi vertikal, landscape atau persegi.
Perubahan ini, menurut risalah budaya visual, menunjukkan bahwa album potret digital—baik album keluarga maupun individu—merupakan representasi identitas bertumbuh. Maknanya, album potret keluarga dan album foto diri sendiri menyediakan ruang kehidupan untuk senantiasa berubah. Perubahan itu sebuah keniscayaan yang abadi. Semuanya harus bergulir sedemikian rupa mengikuti rotasi roda zaman, perkembangan teknologi serta pergantian selera estetika keindahan insan manusia.
Budaya visual mengajarkan dengan serius. Setiap ingatan visual dalam kenangan yang muncul dari album potret keluarga. Setiap kenangan yang dibekukan-visualkan dalam album foto. Baik, album foto keluarga. Maupun album foto potret individu. Semuanya wajib mengedepankan jiwa keluarga dalam semangat kekeluargaan. Hal itu penting dilakukan. Sebab album potret keluarga dan album potret diri pribadi terbukti menjadi jembatan penghubung masa lalu untuk modal sosial mengarungi kehidupan masa kini. Serta menjadi investasi sosial untuk memasuki masa depan. Sepakat?***
*) Dr. Sumbo Tinarbuko, Pemerhati Budaya Visual dan Dosen Komunikasi Visual FSRD ISI Yogyakarta