HUT Sleman

Reaktivasi Adisutjipto atau Perkuat YIA? Ini Taruhan Masa Depan Pariwisata Yogyakarta

Esti Susilarti
10 June 2026
.
Reaktivasi Adisutjipto atau Perkuat YIA? Ini Taruhan Masa Depan Pariwisata Yogyakarta

Wisatawan tidak dipengaruhi jarak bandara dengan kota, tapi dari kuat ya data tarik destinasi wisata. (PM-Istimewa)

Oleh: Andi Killang

DI TENGAH berkembangnya wacana reaktivasi Bandara Adisutjipto untuk penerbangan komersial reguler, penting bagi kita untuk melihat persoalan ini tidak hanya dari sudut pandang transportasi udara, melainkan dari perspektif yang lebih luas: pembangunan ekonomi pariwisata, daya saing destinasi, dan masa depan Yogyakarta dalam peta pariwisata internasional.

Tidak dapat dipungkiri bahwa Adisutjipto memiliki keunggulan historis dan kedekatan dengan pusat Kota Yogyakarta. Namun, dalam konteks pembangunan jangka panjang, pertanyaan yang lebih penting bukanlah bandara mana yang lebih dekat ke kota, melainkan infrastruktur mana yang paling mampu mendukung pertumbuhan ekonomi, investasi, dan peningkatan kunjungan wisatawan secara berkelanjutan.

Yogyakarta International Airport (YIA) dibangun bukan sekadar sebagai pengganti bandara lama. Bandara ini dirancang sebagai gerbang internasional baru yang mampu mengakomodasi pesawat berbadan lebar, meningkatkan konektivitas global, serta menjadi katalis pertumbuhan ekonomi kawasan selatan Pulau Jawa.

Sejak beroperasi, YIA telah memicu lahirnya ekosistem ekonomi baru di Kulon Progo. Investasi di sektor perhotelan, restoran, transportasi, logistik, perdagangan, dan jasa pariwisata mulai berkembang mengikuti arah pertumbuhan kawasan. Kehadiran bandara modern tersebut tidak hanya menciptakan lapangan kerja, tetapi juga membuka peluang pemerataan ekonomi yang selama puluhan tahun terkonsentrasi di pusat Kota Yogyakarta.

Karena itu, apabila penerbangan komersial reguler kembali dipusatkan ke Adisutjipto, dampaknya tidak hanya menyangkut perpindahan penumpang. Yang berpotensi terdampak adalah keberlangsungan investasi, tingkat hunian hotel, pertumbuhan UMKM, dan pengembangan kawasan ekonomi baru yang telah dibangun berdasarkan asumsi bahwa YIA merupakan gerbang utama Yogyakarta dalam jangka panjang.

Dari perspektif industri pariwisata global, keberhasilan sebuah destinasi tidak ditentukan oleh kedekatan bandara dengan pusat kota semata. Banyak destinasi dunia yang memiliki bandara utama berjarak cukup jauh dari pusat kota, namun tetap menjadi magnet wisata internasional karena didukung sistem transportasi yang efisien, promosi yang kuat, dan produk wisata yang berkualitas.

Tantangan utama Yogyakarta saat ini bukanlah kekurangan bandara, melainkan bagaimana meningkatkan jumlah wisatawan domestik dan mancanegara yang datang melalui bandara yang sudah tersedia.

Karena itu, kebijakan yang lebih strategis adalah memperkuat peran YIA sebagai hub pariwisata dan ekonomi kawasan. Pemerintah perlu mempercepat integrasi transportasi darat antara YIA dengan pusat Kota Yogyakarta, Borobudur, Solo, dan berbagai destinasi unggulan lainnya. Konektivitas yang cepat, nyaman, dan terjangkau akan menghilangkan persepsi jarak yang selama ini menjadi perhatian sebagian wisatawan.

Di saat yang sama, perlu dilakukan upaya agresif untuk membuka lebih banyak penerbangan langsung dari kota-kota besar di Indonesia serta rute internasional dari Asia, Australia, Timur Tengah, dan Eropa. Semakin banyak direct flight menuju Yogyakarta, semakin besar peluang destinasi ini bersaing dengan kota-kota wisata utama di kawasan Asia Tenggara.

Langkah berikutnya adalah memperkuat positioning Yogyakarta sebagai destinasi budaya kelas dunia. Potensi yang dimiliki sangat lengkap: warisan budaya, sejarah, pendidikan, seni, kuliner, desa wisata, MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition), wisata spiritual, hingga wisata berbasis komunitas. Sedikit destinasi di Asia memiliki kombinasi keunggulan yang demikian kuat.

Pemerintah juga perlu mendorong terbentuknya koridor ekonomi pariwisata YIA–Kulon Progo–Borobudur–Yogyakarta–Prambanan sebagai sebuah kawasan terpadu yang mampu menarik investasi berskala internasional. Pengembangan hotel, pusat konvensi, kawasan kreatif, atraksi wisata baru, serta destinasi berbasis budaya harus berjalan beriringan dengan pembangunan infrastruktur.

Selain itu, insentif bagi maskapai penerbangan internasional, promosi terpadu lintas negara, serta kemudahan investasi di sektor pariwisata perlu menjadi prioritas. Persaingan destinasi wisata dunia saat ini tidak lagi hanya antar kota, tetapi antar negara dan antar kawasan.

Pada akhirnya, tujuan utama pembangunan pariwisata bukan sekadar mempersingkat perjalanan wisatawan menuju pusat kota. Tujuan yang lebih besar adalah menciptakan ekosistem ekonomi yang mampu meningkatkan jumlah kunjungan, memperpanjang lama tinggal wisatawan, memperbesar belanja wisata, menarik investasi baru, serta membuka lapangan kerja yang luas bagi masyarakat.

Yogyakarta memiliki semua modal untuk menjadi salah satu destinasi budaya terkemuka di Asia. Yang dibutuhkan saat ini bukanlah perubahan arah pembangunan, melainkan konsistensi kebijakan, keberanian berpikir jangka panjang, dan komitmen untuk menjadikan YIA sebagai gerbang utama yang menghubungkan Yogyakarta dengan dunia.

Jika strategi tersebut dijalankan secara konsisten, maka Yogyakarta tidak hanya akan menjadi tujuan wisata nasional, tetapi juga akan tampil sebagai pusat pariwisata budaya, ekonomi kreatif, dan pertemuan internasional yang diperhitungkan di tingkat global.

Masa depan pariwisata Yogyakarta tidak terletak pada kembali ke masa lalu, melainkan pada keberanian membangun masa depan yang lebih besar.***

Andi Killang
C.E.O. & Founder, Malacca Global Institute - Jogyakarta

Dilarang

Baca Juga