Platinum

Realitas Sosial Nasib Buruh SKS

Muh Sugiono
01 May 2026
.
Realitas Sosial Nasib Buruh SKS

Dr. Sumbo Tinarbuko (PM: Istimewa)

OlehDr. Sumbo Tinarbuko
 
 
PERINGATAN Hari Buruh Internasional ternyata berkaitan erat dengan realitas sosial dosen yang bekerja pada kawasan "pabrik gelar" di lingkungan industri pendidikan tinggi. 

Realitas itu menjadi cermin nasib para pekerja intelektual. Mereka terpaksa bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup di bawah payung manajemen pabrik gelar di lingkungan industri pendidikan tinggi. Mereka sekarang disebut dengan julukan Buruh SKS. 

Predikat Buruh SKS dalam manajemen pabrik gelar di lingkungan industri pendidikan tinggi dikembangkan lewat sistematika logika nilai tukar. 

Tafsir yang muncul: nilai budaya, kearifan lokal, dan hakikat nilai kemanusiaan direkonstruksi menjadi perangkat logika nilai tukar. Produksi ilmu pengetahuan dan pengembangan wawasan pemikiran diposisikan sebagai salah satu komponen dalam komoditas pendidikan. 

Semuanya ditentukan secara sepihak melalui takaran Satuan Kredit Semester. Format hitungannya: per jam, pertemuan tatap muka.

Bersalin Rupa

Jujur harus diakui, jejak keberadaan pendidikan tinggi di Indonesia sedang bersalin rupa. Perubahan itu dapat dilihat dari pergantian peran dan fungsi universitas, institut atau lembaga pendidikan. 

Semula sebagai istana ilmu pengetahuan. Kebun bibit pengembangan tunas wawasan dan pemikiran. Ruang terbuka berpendarnya nur cahaya pencerahan bagi pertumbuhan intelektualitas. Terakhir, benteng kokoh untuk pertahanan nilai kemanusiaan yang hakiki. 

Sekarang tabiat dan adat istiadatnya diformat ulang. Keberadaannya diubah menjadi pusat bercokolnya industri pendidikan tinggi yang menaungi berbagai jenis pabrik gelar. Bangunan gedungnya berdiri megah di ruang publik. Fasilitasnya setara dengan hotel berbintang. Bau ruangannya harum mewangi. Setiap sudut ruangan terang benderang dengan pendaran lampu gemerlap ribuan watt. Setiap lantai dihubungkan dengan lift. 

Di salah satu ruangan gedung pabrik gelar, bersemayam manajemen korporat. Di tempat itulah jantung korporasi industri pendidikan tinggi. Di sana disusun target keuangan. Dirancang storytelling finance dalam taferil efisiensi biaya yang ketat. Di sampingnya, terdapat ruang operator yang mengawasi gerak-gerik mesin raksasa itu. Pergerakan mesin yang memutar roda pabrik gelar bekerja tanpa henti sepanjang semester kalender pendidikan.

Luaran yang dihasilkan pabrik gelar di kawasan industri pendidikan tinggi berwujud ijazah sarjana (S1, S2, S3). Sarjana terapan dan diploma (D1-D3). Pabrik gelar di kawasan industri pendidikan tinggi juga memproduksi sertifikat kompetensi. Segala pernak-pernik dan atribut gelar akademik sengaja diproduksi secara massal dan masif. 

Semua itu dilakukan demi memenuhi tuntutan pasar dan konsumen pendidikan tinggi. Pada titik ini, logika pasar dan komersialisasi industri pendidikan tinggi berhasil menembus tembok kampus. Keberadaannya berhasil membarter nilai edukasi yang bersifat edukatif. Diganti dengan nilai tukar ekonomi berwujud cuan dan fulus.

Ekonomi Budaya

Fenomena nasib Buruh SKS di lingkungan pabrik gelar yang ada di kawasan industri pendidikan tinggi meninggalkan catatan pendek. Goresan tangan itu, dalam pandangan ekonomi budaya, telah mendokumentasikan fakta sosial. Industri pendidikan tinggi berhasil mengubah karakter, wibawa mimbar, keahlian, kompetensi dan gelar akademik Buruh SKS.  Awalnya berupa modal sosial milik Buruh SKS. Kemudian, secara politis, oleh penguasa industri pendidikan tinggi dilakukan upaya untuk membalik nama menjadi modal ekonomi. 

Mereka memanfaatkan modal sosial Buruh SKS guna menggandeng mahasiswa demi segepok keuntungan finansial. Ironisnya, para penguasa industri pendidikan tinggi berlaku curang dalam hal pembagian hasil pendapatan. Lewat ideologi relasi kuasa, mereka menggariskan standar upah bagi Buruh SKS sesuka hatinya sendiri. Sedangkan laba keuntungan yang mereka dapatkan berasal dari upaya mereka memperbudak Buruh SKS.
 
Dampak sosial yang muncul dari aktivitas perbudakan pada diri Buruh SKS menjadikan mereka tidak mendapatkan kemerdekaan ekonomi dan finansial. Buruh SKS yang rata-rata mempunyai gelar akademik tinggi hingga mendapatkan gelar doktor harus menelan ludah pahit. Penghasilannya kalah dengan pedagang mie ayam yang mangkal di pengkolan jalan. 

Para pekerja intelektual yang memiliki kompetensi tinggi atas penguasaan teori dan ilmu pengetahuan harus berlapang dada menerima penghasilan di bawah UMR. Para Buruh SKS harus rela akrobat dari satu kampus ke kampus lainnya demi mengosongkan ilmu dan kemampuan intelektualnya demi mendapatkan akumulasi jumlah SKS yang akan berbanding lurus dengan penghasilannya. Bahkan tidak sedikit Buruh SKS untuk nyambi bekerja di bidang informal demi sesuap nasi dan kestabilan nyala kompor di dapur mereka.***

*) Dr. Sumbo Tinarbuko, Pemerhati Budaya Visual dan Dosen Komunikasi Visual FSRD ISI Yogyakarta

Dilarang

Baca Juga