Platinum

Retorika Visual dalam Memori Kreatif Desainer

Dr. Sumbo Tinarbuko
24 September 2026
.
Retorika Visual dalam Memori Kreatif Desainer

Dr. Sumbo Tinarbuko (PM-Dok pribadi)

Oleh: Dr. Sumbo Tinarbuko

HARUS disepakati bersama, setiap karya desain pada prinsipnya merupakan kumpulan argumen visual. Argumen itu tidak lahir dari ruang hampa. Ia tumbuh dan bertumbuh dari lapisan dan irisan berbagai pengalaman. Juga beragam pengamatan, serta ingatan yang berhasil dikumpulkan desainer sejak lama.

Pada titik inilah terjadi perkawinan antara retorika visual (seni menyusun pesan agar meyakinkan komunikan) dengan memori kreatif (kemampuan menyimpan, menghidupkan dan mengolah pengalaman visual untuk dimanfaatkan sebagai bahan perancangan baru). 

Keduanya menjalankan kerja kolaborasi yang saling menguatkan. Tafsirnya, retorika visual diposisikan dalam konteks bahasa yang digunakan. 

Sebaliknya, memori kreatif merupakan wadah besar. Tempat menampung bahan baku. Keberadaannya dimanfaatkan menjadi gudang material pesan verbal dan pesan visual. Selanjutnya disusun serta dibangun menjadi bahasa visual.

Dominasi Visual
 
Era budaya digital ditandai dengan dominasi visual. Didalamnya ada berbagai bentuk geometris dan non geometris. Ada juga layout, komposisi, gambar, ilustrasi, fotografi, video serta film.

Manakala diksi visual semakin mendominasi cara para pihak berkomunikasi. Baik di jagat raya, jagat maya, ruang publik, ruang kelas maupun medsos. Semuanya itu dijalankan demi menuju satu pelabuhan pemahaman sebuah makna. Tentang apa? Perihal pentingnya sebuah pemikiran yang komprehensif saat desainer menjalankan proses perancangan pesan verbal dan visual.

Sampai di sini, mulai muncul masalah. Apakah itu? Problem utama yang dihadapi meliputi minimnya pemahaman warga masyarakat dan warganet berkaitan dengan keberadaan sebuah desain. 

Mereka masih melihat karya desain hanya sebatas bentuk visual. Mereka juga belum menyadari keberadaan sebuah karya desain. Semestinya karya desain dilihat dari dimensi komunikasi. Baik itu komunikasi visual maupun komunikasi verbal. 

Mengapa fokusnya harus diarahkan ke sana? Karena sejatinya karya desain itu merupakan perwujudan bahasa visual. Keberadaannya senantiasa disusun secara terstruktur dan teratur mengikuti aturan prinsip desain. Sedangkan isi dari bahasa visual itu senantiasa mengumandangkan makna signifikan. Tentu saja selaras dengan teks dan konteks yang sudah disepakati bersama.

Sementara itu dalam konteks retorika visual, karya desain wajib didudukan sebagai representasi bahasa visual. Sedangkan memori kreatif memposisikan dirinya berupa isi karya desain yang memiliki makna sesuai peruntukannya.

Mengapa problem klasik di atas senantiasa muncul dalam perspektif pembacaan karya desain? Penyebabnya, warganet dan warga masyarakat belum memahami pentingnya kehadiran retorika visual dalam karya desain. Hal itu masih ditambah dengan keterbatasan literasi desain yang dimiliki para desainer. 

Di mata desainer, karya desain hanya berhenti sebagai sebuah karya desain visual yang indah dan estetik. Mereka lebih mementingkan beautifikasi karya desain. Mereka lupa, setiap penempatan visual dalam desain. Meliputi ukuran, bentuk, komposisi, ilustrasi, tipografi. Semuanya menjadi bagian dari upaya menarik perhatian serta bertugas membujuk target sasaran. Agar mengikuti pesan verbal dan pesan visual yang terpampang di dalam karya desain.

Selain itu, para desainer cenderung mengabaikan makna yang dimunculkan lewat kehadiran metafora dan metonimi. Keduanya merupakan bahasa kiasan bersifat simbolik. Ditempatkan dibalik pesan verbal dan pesan visual dalam karya desain komunikasi visual.

Tanpa melibatkan konsep berpikir desain di atas. Ditengarai karya desain itu tidak sanggup menggendong pesan verbal dan pesan visual sesuai dengan peruntukannya. Karya desain yang dihasilkan patut diduga tidak memiliki keunikan serta novely. 

Dari sana akan muncul karya desain yang indah namun tidak memiliki makna hakiki. Pesan verbal dan pesan visual yang dihadirkan justru membingungkan komunikan atau target sasaran. Ujungnya menghasilkan sebuah karya yang masuk dalam kategori miskomunikasi dan disinformasi. 

Praktik Budaya
 

Harus disepakati bersama, karya desain menjadi bagian dari ekosistem praktik budaya dan komunikasi. Selain itu, karya desain bukan sekadar menjual produk barang dan jasa. Melainkan mengemban tugas sosial guna menyampaikan makna yang bernilai. Juga memiliki peran penting untuk membangun identitas serta  memperkuat ikatan emosional warga masyarakat dan warganet.

Karena itulah, representasi desain yang baik wajib berakar pada budaya nusantara. Dengan melibatkan pengalaman warga masyarakat warganet  tempat karya desain itu dilahirkan.

Untuk menopang hal itu, sudah semestinya retorika visual dan memori kreatif didudukan sebagai panglima perangnya. Mengapa wajib demikian? Sebab karya desain komunikasi visual harus mampu meyakinkan target sasaran. 

Selain itu, karya desain komunikasi visual harus bersedia menyampaikan pesan verbal serta pesan visual yang baik, benar dan unik. Juga mengandung unsur novelty (kebaruan). Serta menghindari plagiarisme dan hal-hal yang bersifat paritas alias sama sebangun.

Dengan demikian, sebuah karya desain yang mampu bertahan dan meyakinkan.  Bukanlah karya desain yang paling rumit secara teknis. Atau paling mahal biaya produksinya. 

Melainkan sebuah karya desain komunikasi visual yang lahir dari berbagai perjumpaan. Pada titik inilah akan muncul pemahaman retoris yang tajam. Disertai dengan kedalaman memori kreatif yang komprehensif. Dalam kesempatan yang sama, terjadilah kolaborasi yang selaras antara komunikasi visual, bahasa visual dengan budaya nusantara.

Kolaborasi dan ramuan yang ciamik seperti dipaparkan di atas. Menyebabkan karya desain tidak sekadar estetik dan indah dilihat. Melainkan sebuah karya desain komunikasi visual yang mampu merepresentasikan upaya pemecahan masalah komunikasi visual. Dengan menghasilkan karya komunikasi visual yang bernilai dan bermanfaat. 

Selain itu karya desain sudah semestinya  dapat dipahami maknanya. Pesan verbal dan pesan visual yang bercokol di dalam karya desain komunikasi visual harus komunikatif dan mudah diingat.***

*) Dr. Sumbo Tinarbuko, Pemerhati Budaya Visual dan Dosen Komunikasi Visual FSRD ISI Yogyakarta

Dilarang

Baca Juga