.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman, Shavitri Nurmala Dewi, menunjukkan logo baru Literasi. (PM-Jatmo)
Patmamedia.com (SLEMAN) – Pemerintah Kabupaten Kabupaten Sleman mulai menyiapkan lompatan besar di bidang literasi. Melalui visi “Sleman 2030: Pionir Literasi Masa Depan,” Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman mendorong transformasi perpustakaan dari sekadar tempat membaca menjadi pusat kreativitas, kolaborasi, dan pemberdayaan masyarakat.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman, Dra. Shavitri Nurmala Dewi, MA, mengatakan langkah ini merupakan bagian dari upaya membangun masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge-based society), sekaligus memperkuat kualitas sumber daya manusia di Sleman.
Hal tersebut disampaikannya saat jumpa pers di Op Room Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan Kabupaten Sleman, Kamis (5/3).
Menurut Shavitri, Kabupaten Sleman selama ini telah dikenal sebagai kabupaten literasi secara nasional. Karena itu, ke depan diperlukan lompatan lebih jauh agar literasi tidak hanya berhenti pada kegiatan membaca, tetapi juga mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
“Visi Sleman 2030 bukan sekadar slogan, tetapi peta jalan untuk mewujudkan masyarakat berbasis pengetahuan yang mampu mendorong kesejahteraan, kemandirian, dan kebudayaan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penguatan literasi juga selaras dengan visi pembangunan daerah, terutama dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan nonformal serta memperluas akses informasi yang inklusif.
Selain itu, literasi juga diarahkan untuk memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat melalui konsep literasi kesejahteraan, yakni memanfaatkan pengetahuan dan informasi untuk meningkatkan produktivitas ekonomi warga.
Di sisi lain, pelestarian budaya juga menjadi perhatian melalui pengarsipan sejarah daerah sebagai bagian dari jati diri masyarakat.
Shavitri menyebutkan, berbagai program telah dijalankan sebagai modal menuju Sleman 2030. Salah satunya adalah transformasi perpustakaan desa atau kalurahan agar tidak hanya berfungsi sebagai tempat peminjaman buku, tetapi berkembang menjadi ruang kolaborasi dan pusat pemberdayaan masyarakat.
“Perpustakaan kini didorong menjadi co-working space yang memfasilitasi kreativitas masyarakat,” katanya.
Selain itu, digitalisasi kearsipan juga terus dikembangkan agar memori kolektif daerah dapat tersimpan dengan baik serta mudah diakses oleh generasi mendatang.
Program lain yang juga terus dioptimalkan adalah perpustakaan digital melalui aplikasi Sleman Membaca (E-Library) yang memungkinkan masyarakat mengakses bahan bacaan secara daring, termasuk di wilayah pelosok.
Tak hanya itu, literasi berbasis komunitas juga diperkuat melalui kolaborasi dengan pegiat literasi, sekolah, serta taman bacaan masyarakat di berbagai kapanewon.
Namun, Shavitri mengakui perjalanan menuju Sleman sebagai pionir literasi masa depan juga menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya disrupsi digital, kesenjangan akses literasi, serta perubahan cara masyarakat memandang arsip.
Menurutnya, arsip tidak lagi sekadar tumpukan dokumen lama, melainkan aset strategis yang dapat menjadi sumber riset, referensi kebijakan, hingga penguatan identitas daerah.
Untuk menjawab tantangan tersebut, DPK Sleman akan menyiapkan sejumlah langkah strategis, antara lain pengembangan literasi terapan berbasis inklusi sosial agar bahan bacaan dapat dikonversi menjadi keterampilan ekonomi masyarakat.
Selain itu juga direncanakan pengembangan pusat dokumentasi sejarah visual yang mengintegrasikan arsip masa lalu dengan teknologi masa depan seperti virtual reality (VR) dan augmented reality (AR) untuk mendukung edukasi yang lebih interaktif.
“Ke depan kami juga ingin menjadikan Sleman sebagai pusat literasi melalui berbagai forum, festival, dan pertemuan para penulis serta pemikir,” ujarnya.
Shavitri berharap media dapat menjadi mitra strategis dalam menyebarluaskan semangat literasi kepada masyarakat luas.
“Literasi adalah investasi jangka panjang. Dengan semangat gotong royong, kita ingin Sleman tidak hanya menjadi masyarakat yang gemar membaca, tetapi juga mampu menciptakan masa depan yang lebih baik,” pungkasnya. (atm)