.
Kabid Sejarah, Bahasa, Sastra, dan Permuseuman Disbud Sleman Joko Dwi Haryadi, SP, M.Si. (kiri). (PM-Jatmo)
Patmamedia.com (SLEMAN) – Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman akan menggelar peringatan Hari Bersejarah “Kembalinya Jogja” melalui sarasehan sejarah dan pementasan sosiodrama di Museum Monumen Yogya Kembali pada 23 Juni 2026.
Kegiatan ini menjadi upaya menghidupkan kembali memori perjuangan bangsa sekaligus menanamkan nilai nasionalisme kepada generasi muda.
Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Sejarah, Bahasa, Sastra, dan Permuseuman Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, Joko Dwi Haryadi, SP, M.Si, dalam konferensi pers di Sleman, Kamis (4/6/2026).
Menurut Joko, Peristiwa Kembalinya Jogja merupakan salah satu momentum penting dalam sejarah Indonesia yang menandai kembalinya Pemerintah Republik Indonesia ke Yogyakarta setelah masa Agresi Militer Belanda.
Peristiwa tersebut menjadi simbol keberhasilan diplomasi sekaligus keteguhan perjuangan rakyat dalam mempertahankan kedaulatan negara.
"Dengan pendekatan yang lebih komunikatif dan partisipatif, kami ingin sejarah tidak hanya dikenang, tetapi juga dipahami dan dirasakan relevansinya oleh generasi masa kini," ujar Joko.
Mengusung tema "Jogja Kembali: Diplomasi, Perjuangan, dan Semangat Kebangsaan untuk Generasi Masa Kini", kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan kesadaran sejarah masyarakat sekaligus memperkuat nilai cinta tanah air.
Salah satu agenda yang diproyeksikan menjadi magnet utama adalah pementasan sosiodrama "Kembalinya Jogja" yang melibatkan Komunitas Jogjakarta 45. Melalui pertunjukan teatrikal, masyarakat akan diajak menelusuri kembali situasi Yogyakarta pasca Agresi Militer Belanda II, perjuangan diplomasi Indonesia di tingkat internasional, dukungan rakyat terhadap Republik Indonesia, hingga kembalinya pemerintahan RI ke Yogyakarta.
Selain itu, sarasehan sejarah akan menghadirkan akademisi, budayawan, dan pegiat sejarah untuk membahas peran Kembalinya Jogja dalam perjalanan bangsa, pentingnya merawat memori kolektif, serta optimalisasi museum dan komunitas sejarah sebagai ruang belajar kebangsaan.
Joko berharap kegiatan tersebut dapat menumbuhkan kebanggaan masyarakat terhadap sejarah bangsa sekaligus memperkuat kesadaran bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan hasil perjuangan, pengorbanan, dan diplomasi yang harus terus diwariskan kepada generasi penerus. (atm)