Platinum

Workshop Pranatacara di Angkringan Kebon's, Cara Asyik Lestarikan Budaya Jawa

Muh Sugiono
13 December 2025
.
Workshop Pranatacara di Angkringan Kebon's, Cara Asyik Lestarikan Budaya Jawa

Dirut M5M Pro Nadi Mulyadi menyerahkan sertifikat kepada salah satu peserta workshop Pranatacara, Sabtu 13 Desember 2025 (PM-dok. M5M Pro)

Patmamedia.com (SLEMAN) – Suasana angkringan tak selalu soal kopi dan obrolan santai. Di Angkringan Kebon’s, Jalan Godean, Sleman, Sabtu (13/12/2025), tempat nongkrong ini berubah jadi ruang belajar budaya lewat Workshop Pranatacara.

Kegiatan ini digelar  CV M5M Pro bekerja sama dengan Radio Konco Tani, dengan dukungan Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman. Workshop menghadirkan dua pemateri, Faizal Noor Singgih dan Murkijo Sih Hapsoro, serta diikuti 10 peserta.

Direktur Utama CV M5M Pro, Nadi Mulyadi, mengatakan workshop pranatacara ini merupakan yang kedua kalinya digelar. Tujuannya sederhana, yakni menumbuhkan kembali kecintaan masyarakat terhadap budaya Jawa, terutama di kalangan generasi muda.

“Pranatacara itu bukan sekadar bisa ngomong di depan orang. Di dalamnya ada nilai, etika, dan cara membawa diri yang menjadi bagian dari budaya Jawa,” ujar Nadi.

Pemateri Faizal Noor Singgih menilai minat anak muda untuk belajar pranatacara sebenarnya cukup besar. Pasalnya, keterampilan ini selalu dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari acara kelahiran, pernikahan, hingga prosesi kematian.

“Setiap upacara adat pasti butuh pranatacara. Ini peluang bagi anak muda untuk berkarya sekaligus berperan di tengah masyarakat,” kata Faizal

Kunci awal belajar pranatacara, demikian Faizal, adalah keberanian menggunakan bahasa Jawa. Soal benar atau kurang tepat, bisa diperbaiki sambil berjalan.

“Yang penting berani dulu. Kalau sudah berani, separuh jalan sudah dilewati. Nanti pelan-pelan kita benahi dengan cara yang bijaksana, bukan malah bikin takut,” jelasnya.

Ia juga menekankan, wicara Jawa tidak hanya soal bahasa, tetapi juga soal kesantunan dan etika. Dengan memahami cara bertutur dan bersikap, seseorang akan lebih mudah menempatkan diri di lingkungan sosial.

“Kesantunan itu bukan merendahkan diri, tapi justru mengangkat martabat kita,” pungkas Faizal.

Melalui workshop ini, penyelenggara berharap pranatacara dan wicara Jawa tetap hidup dan terus diwariskan kepada generasi berikutnya, dengan cara yang lebih dekat dan menyenangkan.***

Dilarang

Baca Juga