.
Ilustrasi. (PM-dok.pribadi)
Oleh : Andi Killang
Pernyataan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X mengenai pentingnya pelestarian alam sebagai prasyarat utama bagi investor bukan sekadar sikap normatif, melainkan refleksi dari arah kebijakan ekonomi yang visioner. Di tengah perubahan lanskap global, di mana isu keberlanjutan, etika produksi, dan identitas budaya menjadi parameter utama, Yogyakarta tampil sebagai model ekonomi yang tidak hanya adaptif, tetapi juga progresif.
Dunia perdagangan internasional saat ini tengah mengalami pergeseran fundamental : dari orientasi kuantitas menuju kualitas, dari efisiensi semata menuju nilai, dan dari eksploitasi menuju keberlanjutan.
Dalam konteks ini, Yogyakarta memiliki modal strategis yang jarang dimiliki wilayah lain—yakni integrasi antara kekayaan budaya, daya tarik pariwisata, serta ekosistem UMKM yang hidup dan autentik.
Tegaskan Nilai Produk
Dalam praktik lebih dari tiga dekade berkecimpung di sektor perdagangan internasional dan jasa pariwisata sejak awal 1990 - an, penulis menyaksikan secara langsung bagaimana preferensi pasar global mengalami evolusi signifikan. Konsumen internasional—terutama di Eropa dan Amerika Latin—tidak lagi sekadar mencari produk, tetapi mencari makna.
Produk-produk Yogyakarta seperti batik, kerajinan perak, dan karya seni tradisional memiliki keunggulan inheren karena mengandung narasi budaya yang kuat. Namun, keunggulan tersebut perlu ditopang oleh standar global : traceability, sertifikasi lingkungan, konsistensi kualitas, serta transparansi rantai pasok. Tanpa itu, potensi besar akan sulit dikonversi menjadi daya saing nyata di pasar internasional.
Pengalaman empiris menunjukkan bahwa keberhasilan ekspor tidak ditentukan oleh volume semata, melainkan oleh kemampuan membangun kepercayaan. Dan kepercayaan lahir dari kombinasi antara kualitas produk, integritas proses, serta kejelasan nilai yang ditawarkan.
Pariwisata, Instrumen Diplomasi
Dalam kerangka ekonomi modern, pariwisata tidak lagi sekadar sektor jasa, melainkan instrumen strategis dalam diplomasi ekonomi. Yogyakarta, dengan ikon seperti Candi Borobudur dan lanskap budaya Jawa yang khas, memiliki keunggulan sebagai experiential hub , ruang di mana pengalaman menjadi medium utama dalam membangun persepsi dan preferensi.
Wisatawan mancanegara yang berinteraksi langsung dengan proses produksi dari membatik hingga kerajinan handmade mengalami keterhubungan emosional yang tidak dapat digantikan oleh promosi konvensional. Dari sinilah terbentuk rantai nilai baru : wisatawan menjadi konsumen, konsumen menjadi promotor, dan promotor menjadi penghubung bagi ekspansi pasar global.
Secara teoritis, fenomena ini sejalan dengan konsep experience economy dan nation branding, di mana nilai ekonomi dibangun melalui pengalaman yang autentik dan bermakna.
Investasi Asing
Ketegasan Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam menolak investasi yang berpotensi merusak lingkungan justru mencerminkan kematangan strategi ekonomi daerah. Dalam dinamika global saat ini, investor berkualitas tidak semata mencari lokasi dengan biaya rendah, tetapi juga wilayah dengan kepastian kebijakan, stabilitas nilai, serta komitmen terhadap prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Kebijakan yang disampaikan oleh Ni Made Dwipanti Indrayanti mengenai fokus pada ekonomi hijau dan biru mempertegas arah transformasi tersebut. Investasi yang diarahkan pada sektor pariwisata berkelanjutan, energi ramah lingkungan, serta pengembangan kawasan berbasis geopark bukan hanya menjanjikan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga keberlanjutan ekosistem.
Dalam perspektif praktis, pendekatan selektif ini justru meningkatkan kualitas investasi, memperkuat posisi tawar daerah, serta menciptakan multiplier effect yang lebih luas dan berjangka panjang.
Integrasi Strategis
Tantangan utama ke depan bukanlah sekadar meningkatkan pertumbuhan ekonomi, melainkan memastikan adanya integrasi yang kohesif antara perdagangan internasional, pariwisata, dan investasi asing. Ketiganya tidak dapat berjalan secara terpisah.
Yogyakarta memiliki peluang besar untuk membangun model integratif :
- Pariwisata sebagai pintu masuk pengalaman dan promosi produk
- Ekspor sebagai kanal monetisasi nilai budaya
- Investasi sebagai penguat infrastruktur dan kapasitas produksi
Ketika ketiga pilar ini disinergikan dalam satu kerangka strategis yang berbasis keberlanjutan, maka akan terbentuk ekosistem ekonomi yang tidak hanya kompetitif, tetapi juga tahan terhadap guncangan global.
Penutup
Dari Pertumbuhan menuju kepercayaan
Lebih dari tiga dekade pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa dalam perdagangan internasional modern, keunggulan tidak lagi ditentukan oleh harga terendah atau produksi terbesar, melainkan oleh kemampuan membangun kepercayaan.
Yogyakarta telah memiliki fondasi tersebut ,budaya yang kuat, alam yang lestari, dan masyarakat yang kreatif. Dengan arah kebijakan yang tepat dan integrasi strategi yang konsisten, Yogyakarta tidak hanya berpotensi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi juga model bagi diplomasi ekonomi berbasis nilai di tingkat global.
Pada akhirnya, masa depan perdagangan internasional bukan sekadar tentang pertukaran barang, melainkan tentang pertukaran nilai, identitas, dan visi bersama menuju keberlanjutan.
*) Andi Killang, Ketua Umum, Lembaga Komunikasi Percepatan Ekspor Nasional (LKPEN)