HUT Sleman

Bakda Mangiran 2026 Bantul, Tradisi Syukur dan Guyub Warga Disambut Meriah

Wagino
23 March 2026
.
Bakda Mangiran 2026 Bantul, Tradisi Syukur dan Guyub Warga Disambut Meriah

Kirab Bergada Gunungan dalam upacara adat Bakda Mangiran. (PM-Wagino)

Patmamedia.com (BANTUL) – Upacara Adat Bakda Mangiran 2026 kembali digelar meriah di Dusun Mangiran, Kalurahan Trimurti, Kapanewon Srandakan, Kabupaten Bantul, Senin (23/03/2026). 

Tradisi tahunan ini tak sekadar seremoni budaya, tetapi menjadi simbol kuat rasa syukur sekaligus perekat kebersamaan warga usai menjalani ibadah puasa Ramadan.

Rangkaian acara Grebeg Bakda Mangiran diawali dengan kirab bergodo yang mengarak gunungan dari pendopo menuju makam leluhur Kyai Magirono dan Nyai Mangirono, tokoh cikal bakal Padukuhan Mangiran. 

Kirab tersebut menjadi momen sakral yang sarat makna penghormatan terhadap para pendahulu.

Setibanya di lokasi, warga bersama tamu undangan mengikuti doa bersama untuk mendoakan arwah leluhur. 

Suasana khidmat kemudian berubah semarak saat prosesi rayah gunungan digelar. Gunungan berisi hasil bumi dan produk UMKM itu langsung diserbu warga yang percaya membawa berkah.

Tak hanya itu, kemeriahan juga terasa di kawasan Pasar Mangiran yang diramaikan pasar malam. 

Antusiasme warga dari berbagai wilayah terlihat tinggi, menjadikan acara ini tak sekadar ritual adat, tetapi juga ruang interaksi sosial dan penggerak ekonomi lokal.

Lurah Trimurti, Agus Purwaka, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia dan masyarakat yang telah bekerja keras menyukseskan acara tersebut. 

Ia menegaskan komitmen untuk terus menjaga dan melestarikan tradisi Bakda Mangiran.

“Adat tradisi ini akan kami uri-uri agar bisa diwariskan kepada generasi mendatang,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Bantul, Aris Suharyanta, yang turut hadir bersama jajaran DPRD, unsur Forkopimda, dan tokoh masyarakat, menilai Bakda Mangiran sebagai tradisi positif yang harus terus dijaga.

Ia mengapresiasi dukungan dari Dinas Kebudayaan DIY dan Kabupaten Bantul serta peran aktif masyarakat dalam menyukseskan kegiatan tersebut.

“Dalam kondisi apa pun, tradisi ini harus tetap dilaksanakan karena menjadi identitas dan kekuatan sosial masyarakat,” kata Aris.

Lebih lanjut Aris menegaskan, tradisi seperti Bakda Mangiran bukan hanya warisan budaya, tetapi juga sarana mempererat persatuan dan gotong royong warga. 

Ia berharap semangat kebersamaan yang terbangun dapat mendorong kemajuan pembangunan di masyarakat.

Dengan perpaduan nilai spiritual, budaya, dan sosial, Bakda Mangiran 2026 kembali menegaskan bahwa tradisi lokal tetap relevan sebagai fondasi kehidupan masyarakat yang harmonis dan berdaya. (wag)

Editor: Wijatma TS

HUT Sleman

Baca Juga