Platinum

Dari Biologi hingga Istana Negara: Jejak Pengabdian Dra. Betty Putranti, M.Pd

Wijatma T S
13 October 2025
.
Dari Biologi hingga Istana Negara: Jejak Pengabdian Dra. Betty Putranti, M.Pd

Dra. Betty Putranti, M.Pd., saat di KBRI Jepang tahun 2015, sebagai Pengawas Sekolah berprestasi tingkat nasional.. (PM-Dok. Pribadi)

TAHUN 1983 menjadi tahun yang tak terlupakan bagi Betty Putranti, seorang remaja yang kala itu menapaki gerbang masa depan dengan semangat tinggi. Di tengah keterbatasan, ia menorehkan kisah inspiratif tentang bagaimana takdir Tuhan bekerja di jalur yang mungkin tak pernah ia duga sebelumnya.

“Jaman semono, saya lolos di Biologi IKIP, Psikologi UGM, dan Analis Kesehatan. Tapi qadarullah, rezekinya hanya cukup untuk kuliah di IKIP—paling murah se-Indonesia Raya, Rp 10.500. Bukti bayarnya masih saya simpan sampai sekarang,” kenang Betty sambil tersenyum.

Betty (kanan depan) saat di Yogya bersama teman kuliah di IKIP. (PM-ist)

Keputusan untuk berkuliah di IKIP Yogyakarta (kini Universitas Negeri Yogyakarta) bukan sekadar pilihan rasional karena biaya yang terjangkau. Dalam perjalanan waktu, Betty menyadari bahwa di sanalah jalan hidupnya telah digariskan — jalan pengabdian di dunia pendidikan.

“Rencana Allah jauh lebih indah dari rencana kita,” ujarnya penuh makna. “Ternyata memang takdir hidupku ada di jalur pendidikan.”

Lulus dari kampusnya, Betty memulai langkah pertamanya sebagai guru di SMA Negeri 1 Singkawang pada tahun 1989. Di sekolah inilah ia menanamkan benih pengabdian dengan penuh cinta dan keikhlasan. Suasana kelas, interaksi dengan siswa, dan semangat membangun karakter menjadi bagian yang melekat dalam kesehariannya.

Perjalanan kariernya terus berkembang. Pada tahun 2010, Betty sempat berdinas di Pontianak, memperluas pengalaman sekaligus memperkaya wawasannya sebagai pendidik dan pembina. Pengalaman lintas wilayah itu semakin menguatkan tekadnya untuk terus berkontribusi bagi dunia pendidikan, di mana pun ia ditempatkan.

Puncak pengabdiannya tercapai ketika ia dipercaya menjabat sebagai Pengawas Pembina di Kota Singkawang, Kalimantan Barat. Dalam peran ini, Betty bukan hanya membimbing para guru, tetapi juga menjadi sosok inspiratif yang menghidupkan semangat profesionalisme dan keteladanan di lingkungan pendidikan. 

“Alhamdulillah, dengan jadi guru saya bisa dapat banyak kesempatan mengenal negara lain, bahkan sampai ke Istana Negara di Jakarta dan Bogor,” tutur Betty penuh rasa syukur.

Setelah lebih dari empat dekade mengabdi, pada tahun 2024, ia resmi purna tugas. Namun, semangatnya sebagai pendidik tak pernah padam. Ia tetap berbagi inspirasi, memberi motivasi, dan menebar semangat belajar kepada generasi muda pendidik.

“Yang penting punya tabungan amal jariyah untuk tiket ke surga, insyaAllah,” katanya lembut. “Aamiin.”

Kini, setelah menutup masa tugas formalnya, Dra. Betty Putranti, M.Pd meninggalkan jejak pengabdian yang dalam — bukan hanya di dunia pendidikan, tetapi juga di hati mereka yang pernah mengenalnya. Dari kelas sederhana di Singkawang hingga langkahnya ke Istana Negara, kisah hidup Betty adalah bukti bahwa pengabdian seorang guru tak pernah berhenti, bahkan setelah masa pensiun tiba.

Dilarang

Baca Juga