Sebagian anggota Ex Duabhe sebelum berangkat ke Semarang, Selasa (12/8) lalu. (PM-dok. exduabhe)
TULISAN ini lahir sebagai kado sederhana untuk memperingati hari lahirnya sebuah ikatan persaudaraan yang begitu istimewa. Pada 27 Agustus, tepat 11 tahun sudah grup WhatsApp bernama EX DUABHE berdiri, menjadi rumah virtual bagi alumni kelas 2B SMP Negeri 6 Yogyakarta angkatan 1980. Bagi mereka, waktu bukanlah sekadar bilangan. Sebelas tahun bukan hanya hitungan hari yang lewat, melainkan bukti kuat bahwa semboyan “seduluran sak lawase” benar-benar mereka hidupi.
Perjuangan Awal Menyatukan Kembali
Tidak mudah menyatukan kembali teman-teman lama yang sudah berpencar menjalani hidup. Adalah Marjono, salah seorang anggota, yang dengan gigih berkeliling dari rumah ke rumah demi mencari nomor ponsel kawan-kawan sekelasnya. Dengan sabar, ia menyusun kembali mozaik persaudaraan yang sempat tercerai-berai.
“Waktu itu saya nekat saja, pokoknya pengin ketemu kanca-kanca lawas. Rumah saya datangi satu per satu, minta nomer HP, lalu kabari teman-teman lain. Rasane lega banget pas satu demi satu kanca bisa ketemu maneh,” kenang Marjono dengan mata berbinar.
Awalnya, pertemuan hanya berupa makan bersama di sebuah rumah makan, lalu berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Komunikasi masih mengandalkan telepon dan SMS. Namun kesederhanaan itu justru melahirkan kehangatan. Ada tradisi kecil namun berarti: setiap kali berhasil menemukan anggota baru, mereka merayakannya dengan makan bersama. Begitu pula saat ada yang berulang tahun, selalu ada ucapan, doa, bahkan perayaan sederhana yang penuh canda. Hingga akhirnya, sesekali buka bersama di bulan Ramadan menjadi tradisi rutin yang selalu dinantikan.
DolanBarengSeduluranSakLawase
Seiring waktu, kebersamaan tidak cukup hanya di layar ponsel. EX DUABHE lalu menggelar “dolan bareng seduluran sak lawase.” Tahun 2025 menjadi saksi dua perjalanan penuh tawa.
Sabtu 21 Juni 2025, mereka menikmati kesejukan Lawu Park dan kebun teh Kemuning. Di tengah udara pegunungan yang dingin, gelak tawa menggema. Seorang anggota berseloroh sambil terengah, “Rasane awake dewe isih kelas loro SMP, mung bedane saiki napas luwih cepet!” Seluruh rombongan pun tertawa terpingkal, seolah usia hanya angka.
Selasa 12 Agustus 2025 lalu, giliran Semarang yang disambangi. Dari berpose riang di Kota Lama, menapaki sejarah di Lawang Sewu, hingga menyaksikan peribadatan doa di KlentengSam Poo Kong, semua mereka nikmati bersama. Saat sesi foto, ada yang bercanda, “Kowe ojo ngadeg ngarep, nutupi sing ayu-ayu, lho!” Seketika suasana pecah dengan tawa panjang.
Namun di balik keriangan itu, perjalanan tidak selalu mulus. Kadang terjadi selisih pendapat yang membuat suasana menghangat. Tapi sebagaimana layaknya keluarga, semua kembali cair. “Tanpa celana,” seloroh mereka, menandai bahwa tak ada masalah yang benar-benar serius ketika hati tetap terbuka untuk memaafkan.
Jejak Seorang Djoker 32
Acara dolan bareng kali ini terasa lebih istimewa karena sekaligus menjadi perayaan ditemukannya kembali salah satu teman lama, Djoko Erwan Prihatmoko. Purnawirawan TNI AL ini bahkan langsung mengambil peran sebagai fasilitator acara. Sikap tulusnya membuat suasana penuh haru, seakan menegaskan betapa kuatnya ikatan yang selama ini terjaga.
“Rasane ora nyangka iso ketemu meneh karo kanca-kanca lawas. Aku iki biyen kerempeng banget. Nanging aku seneng banget iso dadi bagian saka seduluran saklawase iki,” ujar Djoko Erwan, yang punya Djoker 32.
Bagi sebagian teman, Djoko Erwan adalah sosok yang sulit dikenali kembali saat reuni pertama. Dulu, semasa SMP bahkan hingga SMA, tubuhnya jauh lebih kurus dibandingkan teman-teman sekelasnya. Dalam foto kenangan masa putih abu-abu di SMA BOPKRI 3 Yogyakarta, sosoknya tampak kerempeng, sering kali berdiri di barisan belakang agar tidak terlihat terlalu mungil.
Namun waktu berbicara lain. Setelah lulus SMA, Joko menempuh jalur yang penuh disiplin: melanjutkan studi ke Akmil dan akhirnya mengabdikan diri di TNI Angkatan Laut. Dari sanalah tubuh kerempeng itu berubah menjadi tegap dan berwibawa. Kini, di usianya yang matang, ia bukan hanya membawa cerita tentang lautan luas, tetapi juga kerendahan hati yang membuatnya selalu dirindukan kawan lama.
Seduluran Saklawase, Warisan Tak Ternilai
Di balik gelak tawa, canda, kadang juga selisih paham yang sesaat mengeruhkan suasana, EX DUABHE telah membuktikan satu hal: persaudaraan sejati adalah warisan yang tak ternilai. Mereka bukan sekadar alumni kelas 2B SMPN 6 Yogyakarta angkatan 1980, melainkan keluarga besar yang tumbuh bersama, saling menguatkan, dan tak pernah meninggalkan satu sama lain.
Sebelas tahun usia grup WhatsApp ini hanyalah angka, namun makna yang terkandung jauh lebih dalam. Setiap pertemuan, baik sederhana maupun penuh gegap gempita, menjadi pengingat bahwa perjalanan hidup akan lebih indah jika ditempuh bersama sahabat lama. Semoga EX DUABHE terus menjadi teladan, bahwa seduluran sak lawase bukan hanya semboyan, melainkan napas yang menjaga mereka tetap satu hati—hari ini, esok, dan selamanya.