HUT Sleman

Sarasehan Budaya, Pohon Peradaban Nusantara di Bantul

Muh Sugiono
02 June 2026
.
Sarasehan Budaya, Pohon Peradaban Nusantara di Bantul

Peserta sarasehan budaya foto bersama nara sumber (PM-Istimewa)

Patmamedia.com (BANTUL) -- Desa Wisata Pusat Pelestarian Bhinneka Tunggal Ika "Kampung Pancasila" bersama Museum Wayang Beber "Sekartaji",  Rumah Wayang Pulangasih, Asia Wangi dan Bank BCA menyelenggarakan Sarasehan Budaya dengan tema "Pohon Peradaban Nusantara: Jejak Budaya dan Nasionalisme Dalam Akar Sejarah serta Relief Kuno" di Kanutan, Sumbermulyo,  Bambanglipuro, Bantul, Senin (1/6/2026).

Sarasehan digelar dalam rangkaian acara Festival Wayang Beber Pancasila. Dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bantul Nugroho Eko Setyanto, SSos MM,  menampil nara sumber: Dr Ir Yustinus Suranto MP (Dosen Fakultas Kehutanan UGM) dan Goenawan A Sambodo (Budayawan).

Dalam sambutannya Nugroho Eko Setyanto mengapresiasi  penyelenggaraan Festival Wayang Beber Pancasila yang baru pertama kali diadakan untuk menginternalisasikan nilai-nilai Pancasila melalui wayang beber. Semoga acara yang diadakan dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila dapat menggema ke seluruh Indonesia.

Narasumber Goenawan A Sambodo mengemukakan, Samida adalah Plaza atau  Palasa (Sunda) atau Ploso (Jawa)  dikenal sebagai api hutan, dihormati sebagai tanaman suci. Oleh umat Hindu ia dihargai karena menghasilkan banyak bunga warna merah.

Lebih lanjut Goenawan menjelaskan pada beberapa manuskrip  Hindu India, istilah "Samidha"  dalam konteks hutan seringkali  terkait dengan ritual  Veda Kuno, di mana "Samidha" merujuk pada ranting kecil atau potongan kayu yang digunakan sebagai persembahan untuk menjaga api suci selama upacara Yajna atau upacara keagamaan. Pada prasasti Batu Tulis Abad 15, pohon Kepuh, Kelapa, Pinang dan Beringin menghiasi relief Wayang Beber. 

"Sebagai contoh,  pohon Kepuh adalah jenis pohon konservasi. Di Gunungkidul banyak sumber air yang dijaga resan Kepuh. Kokohnya akar dan lebarnya  tudung pohon Kepuh memberikan perlindungan tanah dan air yang baik di lingkungan sekitarnya. Pohon Kepuh jufa mempunyai peran menjaga  keseimbangan ekosistem. Akar pohon ini mencegah erosi tanah dan memperbaiki kualitas tanah yang menjadi tempat hidup bagi berbagai organisme, sehingga tanah bisa subur " Ucap Goenawan.

Sedangkan Yustinus Suranto mengatakan, pohon itu makhluk hidup, tumbuhan berkayu mempunyai pertumbuhan ke samping. Pohon mencakup: bambu, rotan, palma dan gelugu. Adapun fungsi pohon: ekologis, ekonomis dan budaya. Fungsi tersebut bermuara sebagai penyangga dan pendukung kehidupan.  Dalam konteks budaya Jawa, kayu bermakna kayon, kekayon  dan kajeng bermakna  kekajengan Di Yogyakarta pohon Randu Alas dan Beringin ditanam diberbagai tempat. Di garis sumbu filosofi di kanan kiri dan Kraton Yogyakarta ditanam berbagai jenis pohon muatan makna  antara lain: kemuning, kweni, mangga, kayu manis, pule, dan bunga cempaka.

Di akhir sarasehan budaya kedua nara sumber menegaskan bahwa sebagai rasa berterima kasih kepada Tuhan YME, manusia agar senantiasa memelihara, melestarikan, dan peduli terhadap lingkungan alam semesta serta menjunjung tinggi nilai budaya dan peradaban di Yogyakarta "Hamemayu Hayuning Bawana". 

Rangkaian kegiatan Festival Wayang Beber Pancasila, meliputi:  Merti Wayang Beber Pancasila ke-4, kirab budaya, lomba mewarnai dan lomba bercerita Wayang Beber Pancasila serta pentas Wayang Beber Pancasila oleh dalang Ki Indra Suroinggeno dengan lakon "Lahirnya Pangeran Rembulan". *** (RBW)

HUT Sleman

Baca Juga