.
Upacara Peringatan Hari Persandian Indonesia ke-80 di halaman Museum Sandi Kotabaru, Yogyakarta, Sabtu (4/4/2026). (PM-ist)
Patmamedia.com (YOGYAKARTA) – Meningkatnya risiko serangan siber, kebocoran data, hingga manipulasi informasi kini bukan lagi sekadar kemungkinan, melainkan tantangan nyata yang harus dihadapi.
Hal tersebut menjadi sorotan utama dalam Upacara Peringatan Hari Persandian Indonesia ke-80 yang diselenggarakan Forum Komunikasi Persandian Daerah (Forkomsanda) DIY di halaman Museum Sandi Kotabaru, Yogyakarta, Sabtu (4/4/2026).
Mengusung tema “Kedaulatan Siber Memperkuat Ketahanan Nasional,” peringatan tahun ini menjadi seruan tegas bahwa ruang siber telah menjadi medan strategis yang menentukan kedaulatan bangsa.
Ketua Forkomsanda DIY, HET Wahyu Nugroho, S.I.P., M.Si., selaku Inspektur Upacara menegaskan, siapa pun yang mampu mengamankan ruang sibernya, dialah yang menjaga kehormatan dan keutuhan negaranya.
Dalam amanatnya, Wahyu Nugroho menyoroti realitas digital saat ini, di mana hampir seluruh sendi pemerintahan bergantung pada sistem digital.
Kondisi tersebut membuat setiap celah keamanan berpotensi menjadi ancaman serius bagi stabilitas nasional.
“Serangan siber, kebocoran data, dan manipulasi informasi bukan lagi sekadar kemungkinan, melainkan tantangan nyata yang harus dihadapi dengan kesiapsiagaan penuh,” tegasnya.
Ia juga menekankan, Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki keunggulan strategis melalui Forkomsanda sebagai satu-satunya wadah kolaborasi siber dan sandi daerah yang menyatukan unsur TNI, POLRI, Kejaksaan, BINDA, hingga purnawirawan.
Sinergi lintas sektor ini dinilai sebagai kekuatan kolektif dalam menghadapi ancaman digital yang semakin kompleks.
Menurutnya, kekuatan tersebut harus diwujudkan dalam aksi nyata, bukan sekadar forum formalitas.
Mengingat tantangan teknologi yang terus berkembang, seluruh jajaran diminta untuk bekerja melampaui batas standar dengan kecepatan, soliditas, serta disiplin tinggi.
Selain itu, Ketua Forkomsanda DIY juga menegaskan pentingnya memastikan sistem pemerintahan digital yang aman tanpa kompromi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia secara berkelanjutan, serta penguatan koordinasi melalui pusat kolaborasi Forkomsanda.
Ia menambahkan, keamanan siber bukan hanya tanggung jawab teknis, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh aparatur pemerintahan.
Menutup amanatnya, Wahyu Nugroho mengingatkan, meskipun teknologi dapat dibangun dengan anggaran, keamanan sejati hanya dapat dijaga melalui integritas dan kewaspadaan.
“Dirgahayu ke-80 Persandian Indonesia. Teruslah menjadi garda terdepan dalam menjaga kedaulatan digital bangsa,” pungkasnya. (atm)