Platinum

HPN 2026: PWI Dorong Profesionalitas Perempuan Wartawan, Meski Jumlahnya Masih di Bawah 20 Persen

Esti Susilarti
08 February 2026
.
HPN 2026: PWI Dorong Profesionalitas Perempuan Wartawan, Meski Jumlahnya Masih di Bawah 20 Persen

Rangkaian HPN 2026 di Banten, Rosiana Silalahi tampil sebagai nara sumber dialog dengan para perempuan wartawan. (PM - Dokumen/Henny)

Patmamedia.com (BANTEN) - Organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) mendorong profesionalitas perempuan untuk berkiprah sebagai wartawan. Kedudukan perempuan wartawan saat ini dinilai setara dengan wartawan laki-laki. Bahkan, perempuan wartawan dianggap memiliki keunggulan dalam menjalin jaringan karena lebih luwes dan fleksibel untuk “menembus” narasumber.

Namun demikian, jumlah perempuan wartawan di Indonesia saat ini masih kurang dari 20 persen dari total wartawan nasional. Hal tersebut disampaikan Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir, dalam acara Silaturahmi Wartawati se-Indonesia (SIWI) yang merupakan rangkaian Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Pendapa Gubernur Banten, Kota Serang, Sabtu (7/2/2026).

Acara yang dibuka Wakil Gubernur Banten Dimyati Natakusumah itu diikuti ratusan perempuan wartawan dari seluruh Indonesia dan berlangsung sukses. Kegiatan ini terselenggara atas inisiasi Ketua Komisi Pemberdayaan Perempuan PWI Pusat, Henny Murniati. Henny juga aktif memprakarsai pembentukan SIWI pada peringatan HPN 2024 di Ancol, Jakarta.

Saat itu, acara silaturahmi perempuan wartawan anggota PWI dihadiri oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) I Gusti Ayu Bintang Puspayoga. Akhmad Munir yang akrab disebut Cak Munir menegaskan kelebihan yang dimiliki perempuan secara fitrah hendaknya dijadikan kekuatan untuk mengembangkan karier di dunia jurnalistik, terlebih di tengah pesatnya perkembangan teknologi komunikasi.

Apalagi, saat ini perempuan telah memiliki kedudukan setara dengan laki-laki dalam hal hak dan kesempatan. Munir juga menegaskan perempuan wartawan harus terus menjaga independensi, profesionalisme serta berani berkompetisi strategis sebagai pengambil kebijakan di ruang redaksi. Juga berani tampil dalam organisasi profesi profesi pers seperti PWI.

Hadir sebagai narasumber utama Direktur Utama Kompas TV, Rosiana Silalahi. Wartawan senior ini menceritakan kembali awal memulai karier jurnalistik sebagai reporter sejak 1995. Profesi tersebut ditekuninya sepenuh hati. Jika saat ini telah mencapai posisi puncak, merupakan buah dan bukti ketekunan meniti karier yang banyak tantangannya ini dari bawah.

Dalam sesi interaktif, Rosiana membagikan kiat suksesnya sebagai perempuan wartawan. Menurutnya, modal utama adalah menjalankan tugas jurnalistik dengan penuh tanggung jawab. Ia juga membagikan “jurus khusus”, yakni selalu berupaya melaksanakan tugas dengan hasil melampaui ekspektasi atau target pimpinan.

Terkait persaingan konten berita, Rosiana menyarankan media yang tersebar di daerah untuk memperkuat muatan lokal agar ragam pemberitaan semakin kaya. Ia mendorong perusahaan pers daerah jeli menyajikan produk jurnalistik yang mengangkat kekhasan lokal dan tampil berbeda dari media lain. Dengan kekhasan dan keunikan, perusahaan media massa akan unggul dalam merebut pasar.

Rosiana mengingatkan jika perempuan wartawan ingin eksis, harus menjunjung tinggi komitmen dan integritas untuk memiliki reputasi diri yang baik. Misalnya, saat melakukan wawancara. Harus datang dengan persiapan dan pemahaman yang memadai tentang subjek yang akan diwawancarakan.

“Pertanyaan yang dangkal akan membuat narasumber lelah. Oleh karena itu, wartawan harus berani mengajukan pertanyaan cerdas,” tegasnya. Selain itu, perempuan wartawan harus lebih teliti menggunakan data, menyajikan fakta dan akurasi dalam setiap karya jurnalistik. “Karya jurnalistik bukan tentang kecepatan, melainkan tentang ketepatan,” pungkas Rosiana. 

Dilarang

Baca Juga