.
Dr. Sumbo Tinarbuko (PM-Dok pribadi)
Oleh: Dr. Sumbo Tinarbuko
RUTE perjalanan teknologi digital telah menyulap peta jalan komunikasi dan lanskap komunikasi visual secara signifikan. Dahulu kala, peta jalan itu mencatat jejak digital yang menyatakan instansi pemerintah. Bersama institusi plat merah. Hingga lembaga swasta nirlaba maupun komersial, organisasi masyarakat dan perguruan tinggi. Belum memiliki otoritas penuh atas produksi pesan verbal maupun pesan visual.
Saat itu berbagai lembaga swasta dan instansi pelat merah masih memiliki kanal terbatas. Penyampaian pesan verbal sangat terjadwal. Secara satu arah. Warga masyarakat pun menerima apa adanya atas pesan yang disiarkannya itu.
Sekarang, kecenderungannya telah berganti. Frekuensi dan kanal penyiarannya sudah bersalin gelombang. Fenomena prosumer (producer dan consumer), secara teoretis dipahami dengan upaya menempatkan konsumen sekaligus menyandang peran sebagai produsen.
Pada titik ini, producer dan consumer dalam prosumer bersenyawa menjadi satu. Hal itu menyebabkan pesan verbal dan pesan visual dapat ditayangkan secara serentak. Tanpa memandang ruang dan waktu.
Fenomena prosumer dapat muncul kapan saja. Dari mana saja. Dibuat oleh siapa pun. Bisa dibagikan oleh siapa pun. Boleh direspons secara langsung. Bahkan bisa diperdebatkan oleh siapa pun dalam hitungan detik.
Komunikasi Visual
Jujur, harus diakui kehadiran komunikasi visual sebagai wahana untuk menyampaikan pesan. Baik pesan verbal maupun pesan visual menjadi penanda tekstual pertama yang dilirik dan dinilai publik. Bahkan sebelum pesan verbal itu dibaca serta dipahami maknanya secara utuh oleh khalayak luas.
Komunikasi visual memiliki tugas penting. Apa perannya? Keberadaan pesan visual bekerja lebih cepat ketimbang pesan verbal. Hal itu masuk akal, sebab sebelum otak memproses makna sebuah pesan verbal. Mata terlebih dahulu melakukan akrobat untuk menangkap kesan pertama berupa pesan visual. Terdiri dari ilustrasi, warna, bentuk, tipografi dan komposisi.
Artinya, lewat medium komunikasi visual. Di dalamnya bersemayam desain visual, ilustrasi, warna, pilihan tipografi dan komposisi. Berwujud pesan verbal dan pesan visual. Semuanya itu merupakan aset reputasi yang memiliki kredibilitas tinggi.
Dengan demikian, kredibilitas dan reputasi merupakan kesatuan ekosistem yang tidak dapat dipisahkan dalam konteks komunikasi. Mengapa demikian? Kredibilitas dan reputasi disusun sedemikian rupa melalui proses komunikasi yang konsisten. Dihadirkan secara bertanggung jawab. Jelas tuturannya dengan mengedepankan dan menghormati khalayak luas sebagai audiensnya.
Konsistensi visual dapat dipahami sebagai representasi hadirnya kredibilitas dan reputasi sebuah proses komunikasi yang layak dipercaya. Manakala instansi plat merah dan lembaga swasta menggunakan jenis tipografi yang sama. Ketika lembaga swasta dan instansi pemerintah pelat merah senantiasa memakai komposisi warna dan gaya penyajian desain yang serupa. Pada titik ini, masyarakat dan warganet digiring untuk mulai mengenali dan mempercayai pesan verbal serta pesan visual yang terkandung dalam sebuah sajian informasi. Konsistensi menghadirkan tabungan reputasi yang bertanggung jawab dan dapat dipercaya siapa pun dan di mana pun. Sebaliknya jika dogma yang berkaitan dengan konsistensi visual tidak dijalankan dengan baik. Dampaknya akan menghadirkan keraguan. Dari sana muncul ketidakpercayaannya atas sebuah reputasi yang digaungkan instansi pemerintah pelat merah. Lembaga swasta juga mengalami akibat yang sama. Mosi tidak percaya akan hal itu kemudian dikumandang warganet dan warga masyarakat secara bersama-sama.
Sayangnya, kesadaran atas keberadaan komunikasi visual seperti dipaparkan di atas, belum dipahami secara menyeluruh para pihak. Komunikasi visual masih dianggap sebagai bagian dari dekorasi sekaligus pelengkap dari pesan verbal dan pesan visual. Bahkan ada anggapan, komunikasi visual sekadar tugas teknis. Dapat dikerjakan oleh siapa pun yang mampu mengoperasikan komputer grafis.
Padahal, era budaya visual dan abad komunikasi virtual seperti sekarang ini. Fenomena komunikasi visual dan dominasi prosumer menjadi perangkap jebakan Batman. Di medsos dan media digital lainnya, potensi miskomunikasi serta disinformasi menyebabkan reputasi dan kredibilitas institusi pelat merah dan lembaga swasta terjerembab masuk ke dalam jurang kenistaan.
Di medsos, karya desain komunikasi visual yang amburadul. Pesan verbal dan pesan visual yang tidak konsisten. Menjadi bahan peledak yang akan menyulut sumbu kemarahan warganet dan warga masyarakat. Ujungnya, pesan verbal dan pesan visual yang di dalam bangunan komunikasi visual akan runtuh dalam sekejap. Citra positif yang dibangun bertahun-tahun hancur berkeping-keping laksana ditimpa gempa bumi.
Produksi Citra
Pada era budaya digital, ditandai dengan informasi yang berlimpah ruah. Ternyata surplus informasi itu tidak berbanding lurus dengan perhatian manusia akan kehadiran informasi. Yang terjadi justru perhatian warganet dan warga masyarakat atas hadirnya informasi. Berupa pesan verbal dan pesan visual, menduduki garis bujur statistik rendah.
Penyampaian pesan visual yang sangat bagus pun belum mampu mendongkrak perhatian warganet dan warga masyarakat. Mengapa demikian? Sebab kualitas pesan visual yang hebat pun belum cukup. Keberadaannya harus konsisten dan selaras dengan visi, misi serta nilai dari sebuah institusi. Baik lembaga pelat merah maupun swasta yang sedang menjalankan proses komunikasi.
Argumentasi di atas dapat diperkuat dengan jabaran sebagai berikut. Manakala institusi plat merah dan lembaga swasta mengaku mengutamakan keadilan. Tetapi penampakan visualnya bersifat eksklusif. Kemudian informasinya tidak dapat dengan mudah diakses. Atau ketika mengaku peduli lingkungan. Namun, desainnya boros dan tidak ramah lingkungan. Dua fenomena itu mengurangi nilai konsistensi dan reputasi dari instansi plat merah serta lembaga swasta secara bersamaan.
Pada titik ini masyarakat lebih percaya pada apa yang dilihatnya. Daripada apa yang tertera di dalam pesan verbal. Pesan visual tidak pernah bohong. Keberadaannya merepresentasikan nilai yang senyata hidup di dalam ekosistem dari institusi pelat merah dan lembaga swasta itu sendiri.
Harus dipahami bersama bahwa reputasi merupakan akumulasi dari ribuan album momen komunikasi. Terdiri dari kumpulan pesan verbal dan pesan visual yang di antara keduanya saling melakukan proses interaksi. Dalam konteks komunikasi visual, tidak ada pesan visual berupa desain komunikasi visual yang menempati posisi sebagai penggembira. Semuanya berkolaborasi membentuk sebuah kerjasama dengan memberikan kontribusi berwujud produksi citra yang berhasil dipatrikan di dalam benak warganet dan warga masyarakat.***
*) Dr. Sumbo Tinarbuko, Pemerhati Budaya Visual dan Dosen Komunikasi Visual FSRD ISI Yogyakarta