.
KWT Sendangtirto mengikuti pelatihan formulasi pakan di Ruang Rapat Kalurahan Sendangtirto. (PM-Kus)
Patmamedia.com (SLEMAN) – Kelompok Wanita Tani (KWT) dan kelompok peternak ayam petelur di Kalurahan Sendangtirto, Kapanewon Berbah, Sleman, mulai memperkuat kemandirian usaha peternakan melalui pelatihan formulasi pakan.
Mereka dibekali pengetahuan menyusun pakan ayam petelur dan ayam Elba dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.
Pelatihan berlangsung di Ruang Rapat Kalurahan Sendangtirto, Sabtu (1/8/2026), sebagai bagian dari Program Pemberdayaan Desa Binaan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun 2026.
Program tersebut mengusung tema “Model Desa Binaan Ekonomi Sirkular Terintegrasi Berbasis Peternakan, Pertanian, dan Perikanan untuk Ketahanan Pangan dan Penguatan Ekonomi Lokal.”
Program diketuai Dr. Ir. Rahayu Khasanah, S.T., M.Eng., bersama anggota Dr. Ir. Toto Rusianto, M.T. dan Ani Purwanti, S.T., M.Eng. dari Universitas AKPRIND Indonesia (UAI), dengan melibatkan Dr. Ir. Ahmad Pramono, S.Pt., M.P. dari Universitas Sebelas Maret (UNS).
Materi pelatihan disampaikan Ari Kusuma Wati, S.Pt., M.Sc., dosen Program Studi Peternakan Fakultas Peternakan UNS.
Peserta mendapatkan pemahaman mengenai berbagai bahan pakan sebagai sumber energi, protein, vitamin, dan mineral.
Mereka juga diajarkan prinsip menyusun ransum yang seimbang sesuai kebutuhan ayam petelur maupun ayam Elba.
Pelatihan ini menjadi penting karena pakan merupakan salah satu faktor utama yang menentukan pertumbuhan dan produktivitas ternak sekaligus komponen terbesar dalam biaya produksi peternakan.
Karena itu, kemampuan menyusun formulasi pakan secara tepat diharapkan membantu peternak mengelola usaha secara lebih efisien tanpa mengurangi pemenuhan kebutuhan nutrisi ternak.
Lurah Sendangtirto Amir Junawan menyambut baik kegiatan tersebut. Menurutnya, pelatihan memberikan bekal praktis bagi kelompok peternak untuk mengelola usaha secara lebih efisien dan mandiri.
“Pelatihan ini sangat bermanfaat bagi kelompok peternak, khususnya dalam memahami cara menyusun pakan yang berkualitas dengan memanfaatkan bahan-bahan lokal,” ujar Amir.
Ia berharap pengetahuan yang diperoleh peserta segera diterapkan untuk menekan biaya produksi, meningkatkan produktivitas ternak, sekaligus menambah pendapatan masyarakat.
Amir juga mendorong agar pendampingan dilakukan secara berkelanjutan. Dengan demikian, integrasi peternakan, pertanian, dan perikanan dapat berkembang menjadi model ekonomi sirkular yang mendukung ketahanan pangan di Sendangtirto.
Ketua Pelaksana Program, Dr. Ir. Rahayu Khasanah, S.T., M.Eng., mengatakan pelatihan tidak sebatas memberikan pengetahuan teknis, tetapi juga menjadi bagian dari proses pendampingan untuk memperkuat kemandirian kelompok.
“Pakan merupakan komponen yang sangat menentukan produktivitas sekaligus biaya usaha peternakan. Melalui pelatihan ini, kami ingin membantu kelompok memahami cara menyusun pakan yang bernutrisi, aman, dan lebih ekonomis dengan memanfaatkan bahan lokal yang tersedia,” kata Rahayu.
Pelatihan berlangsung secara partisipatif melalui penyampaian materi, diskusi, hingga latihan formulasi pakan.
Peserta juga aktif menyampaikan pengalaman dan persoalan yang mereka hadapi selama memelihara ayam.
Pendekatan tersebut membuat materi lebih relevan dengan kondisi nyata usaha peternakan yang dijalankan KWT dan kelompok peternak di Sendangtirto.
Salah seorang peserta dari KWT Mekar Rejeki mengaku memperoleh pengetahuan baru yang bisa langsung diterapkan dalam kegiatan kelompok.
Selama ini, peternak lebih banyak menggunakan pakan jadi dan belum memahami fungsi masing-masing bahan.
Setelah mengikuti pelatihan, peserta mulai memahami cara memilih dan mencampurkan bahan pakan sesuai kebutuhan ayam.
Pengetahuan tersebut dinilai penting untuk membantu kelompok mengurangi biaya produksi tanpa mengabaikan kualitas dan kebutuhan nutrisi ternak.
Dari kegiatan ini, pemahaman peserta mengenai fungsi bahan pakan dan prinsip dasar penyusunan ransum meningkat.
Peserta juga memperoleh gambaran bahwa formulasi pakan harus disesuaikan dengan umur, fase pertumbuhan, serta tujuan pemeliharaan ternak.
Rahayu menegaskan, integrasi peternakan, pertanian, dan perikanan menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem ekonomi sirkular di Sendangtirto.
“Pelatihan formulasi pakan menjadi salah satu langkah nyata untuk memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan efisiensi usaha peternakan, dan membuka peluang peningkatan pendapatan masyarakat berbasis potensi desa,” pungkasnya. (atm)