.
Ilustrasi. (PM-ist)
Patmamedia.com (SLEMAN) - Tim Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) Universitas Gadjah Mada (UGM) menghadirkan solusi inovatif pengelolaan sampah organik sekaligus penguatan ketahanan pangan keluarga melalui Program Tumandur di Kampung Jurugsari, Padukuhan Joho, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman.
Program yang memanfaatkan teknologi smart compost vessel ini diperkenalkan kepada masyarakat dalam kegiatan sosialisasi yang digelar di Balai RW 57 Kampung Jurugsari, Senin (22/6).
Melalui program tersebut, sampah organik rumah tangga diolah menjadi pupuk berkualitas yang kemudian dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas pekarangan rumah sebagai sumber pangan keluarga.
Ketua Tim PKM-PM UGM, Siti Nur Khasanah, menjelaskan Program Tumandur dirancang sebagai upaya mendorong masyarakat mengelola sampah secara mandiri sekaligus menerapkan konsep ekonomi sirkular di tingkat rumah tangga.
"Kami berharap Program Tumandur dapat menjadi sarana belajar bersama bagi masyarakat dalam mengelola sampah organik menjadi sesuatu yang bernilai. Melalui pemanfaatan pekarangan rumah, kami juga ingin mendorong terciptanya lingkungan yang lebih hijau sekaligus mendukung ketahanan pangan keluarga," ujarnya.
Sosialisasi tersebut diikuti 16 anggota PKK Kampung Jurugsari dan dihadiri Ketua RW 57 Kampung Jurugsari Purwoko, Dukuh Joho Retnaningsih, Ketua PKK Kampung Jurugsari Rini, perwakilan Kalurahan Condongcatur Apri Nugroho, serta Tim PKM-PM UGM.
Dalam pemaparannya, tim mahasiswa menjelaskan cara kerja smart compost vessel, yakni sistem ember tumpuk yang dilengkapi sensor suhu dan pH untuk memantau proses pengomposan agar berjalan lebih optimal dan efisien.
Pupuk yang dihasilkan nantinya dapat digunakan untuk menanam sayuran, rempah-rempah, tanaman obat keluarga, hingga komoditas pangan lainnya di pekarangan rumah.
Ketua RW 57 Kampung Jurugsari, Purwoko, mengapresiasi inovasi yang dibawa mahasiswa UGM karena dinilai selaras dengan kebutuhan warga dan program lingkungan yang sedang dikembangkan di wilayahnya.
"Program ini sejalan dengan visi dan misi kami dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Kami juga memiliki rencana pemanfaatan lahan tidur di lingkungan RW yang sangat potensial untuk disinergikan dengan Program Tumandur sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh warga," katanya.
Dukuh Joho, Retnaningsih, juga menyatakan dukungannya terhadap program tersebut.
Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah kalurahan, dan masyarakat menjadi kunci menghadirkan inovasi yang mampu menjawab kebutuhan riil di tingkat lokal.
Sementara itu, Ketua PKK Kampung Jurugsari, Rini, berharap para ibu rumah tangga dapat menjadi pelopor perubahan melalui kebiasaan memilah sampah, mengolah limbah organik menjadi pupuk, serta memanfaatkan pekarangan sebagai sumber pangan sehat bagi keluarga.
Perwakilan Kalurahan Condongcatur, Apri Nugroho, menekankan pentingnya menjaga komunikasi dan sinergi agar setiap program pengabdian masyarakat mampu memberikan dampak nyata.
"Kami berharap seluruh pihak dapat terus menjaga komunikasi yang baik, membawa nama baik wilayah maupun institusi masing-masing, serta memastikan bahwa setiap kegiatan memberikan dampak positif dan manfaat nyata bagi masyarakat," tegasnya.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Para anggota PKK aktif berdiskusi mengenai teknik pemilahan sampah organik, pengendalian proses pengomposan, hingga pemanfaatan pupuk kompos untuk budidaya tanaman pangan di pekarangan rumah.
Program Tumandur akan berlangsung hingga pertengahan Agustus 2026 dengan tahapan implementasi dan pendampingan lapangan.
Tim PKM-PM UGM berharap Kampung Jurugsari dapat menjadi contoh pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat yang inovatif, berkelanjutan, dan mudah direplikasi di wilayah lain, sekaligus mendukung terwujudnya lingkungan yang lebih hijau dan keluarga yang lebih mandiri pangan. (atm)