Platinum

Menjaga ‘Paseduluran Saklawase’, Federalis Jogja Siap Rayakan 17 Tahun dengan Semangat Peduli Alam

Wijatma T S
03 November 2025
.
Menjaga ‘Paseduluran Saklawase’, Federalis Jogja Siap Rayakan 17 Tahun dengan Semangat Peduli Alam

Panitia Fedjo berkumpul di seputaran Tugu Pal Putih. (PM-ist.)

MINGGU pagi (2/11/2025), udara Yogyakarta terasa lebih segar dari biasanya. Di bawah kemegahan Tugu Pal Putih yang menjadi ikon kota, puluhan hingga ratusan pesepeda dengan rangka sepeda berwarna-warni mulai berdatangan. Mereka bukan sekadar goweser biasa. Mereka adalah para Federalis, sebutan bagi penggemar sepeda legendaris Federal, yang tergabung dalam Komunitas Sepeda Federal Jogja atau lebih akrab disebut Fedjo.

Pagi itu, mereka berkumpul bukan hanya untuk bersepeda, tetapi juga untuk satu misi: cek rute dan persiapan menuju perayaan 17 tahun Fedjo, yang akan digelar awal tahun depan. Dari Tugu Jogja, rombongan melaju pelan tapi pasti menuju Kampoeng Mahoni di Tanen, Hargobinangun, Pakem, Sleman, sebuah kawasan hijau yang masih satu kompleks dengan Museum Merapi.

Menuju 17 Tahun: Lebih dari Sekadar Gowes

Menurut Eko Kadaryanto, panitia bagian sekretariat Fedjo, perayaan Milad ke-17 yang bertajuk Road to 17th Fedjo akan berlangsung pada 17–18 Januari 2026.
“Rencananya semula di Bumper Babarsari, tapi karena satu dan lain hal kami pindahkan ke Kampoeng Mahoni, Tanen, Pakem. Tempatnya lebih representatif dan sejuk,” ujarnya.

Eko menambahkan, acara tersebut bukan sekadar pertemuan rutin komunitas sepeda, melainkan ajang silaturahmi nasional komunitas sepeda Federal se-Nusantara. “Kami akan undang komunitas dari Jawa Barat, Jawa Timur, dan berbagai daerah lainnya. Diperkirakan akan diikuti 800–1000 pesepeda,” katanya.

Acara akan dibuka dengan Gowes Bareng (Gobar) sejauh 17 kilometer, dari halaman Balai Kalurahan Condongcatur hingga finish di Kampoeng Mahoni. Tak hanya itu, berbagai kegiatan menarik juga menanti: bikecamp, sarasehan antar komunitas, fun games, serta aksi sosial dan peduli lingkungan berupa donasi burung dan pohon untuk dilepasliarkan di alam.

“Setiap peserta nanti diwajibkan membawa donasi burung atau tanaman. Kami ingin perayaan ini tidak hanya jadi pesta komunitas, tapi juga memberi arti bagi alam,” imbuh Eko.

Dari Cek Rute hingga Semangat Pelestarian

Dalam kegiatan survei rute kali ini, selain anggota Fedjo dari berbagai penjuru Jogja, turut hadir tiga pesepeda dari Federal Magelang (FedGelang). Perjalanan dari Tugu hingga Kampoeng Mahoni menjadi semacam pemanasan kecil jelang perayaan besar.

Setibanya di lokasi, para Federalis melakukan mapping area — menentukan lokasi tenda, fasilitas umum, dan jalur aman untuk kegiatan utama nanti. “Kami ingin acara ini nyaman bagi semua peserta. Mulai dari tempat istirahat, kamar mandi, sampai area bikecamp, semua kami periksa,” kata salah satu panitia lainnya.

Fedjo bukan sekadar komunitas penggemar sepeda. Ia adalah penjaga sejarah.
Sepeda Federal sendiri merupakan sepeda produksi dalam negeri yang mulai dipasarkan sekitar tahun 1986 oleh PT Federal Cycle Mustika, anak usaha Astra Group. Meski produksinya sudah berhenti, sepeda ini tetap hidup di hati para penggemarnya.

Desainnya tangguh, ringan, dan serbaguna. Spare part-nya mudah didapat, dan bisa digunakan untuk berbagai medan, dari jalan kota hingga jalur off-road. Tak heran jika sepeda ini dulu menjadi primadona di masanya, dan kini menjadi simbol nostalgia dan ketangguhan.

Bagi anggota Fedjo, sepeda Federal bukan sekadar alat transportasi, tapi saksi perjalanan dan persaudaraan. Beberapa anggotanya bahkan mencatat rekor touring jarak jauh, dari Yogyakarta hingga Bandung dan Bromo.

Kini, komunitas Fedjo telah memiliki ratusan anggota yang terbagi dalam empat wilayah: Brayat Lor, Brayat Kidul, Brayat Kulon, dan Brayat Wetan. Di antara mereka, tak ada batas usia atau latar belakang,  yang menyatukan hanya satu hal: cinta pada sepeda Federal dan semboyan yang tak lekang oleh waktu: “Paseduluran Saklawase” (Persaudaraan Selamanya-red).

Bagi para Federalis, setiap kayuhan pedal adalah cerita. Cerita tentang kebersamaan, tentang pelestarian, dan tentang bagaimana sepeda sederhana bisa menjembatani manusia dengan alam.

Menjelang 17 tahun usianya, Fedjo terus membuktikan bahwa vintage bukan berarti using, justru menjadi bukti bahwa sesuatu yang dibuat dengan semangat kebersamaan dan cinta, akan tetap hidup, bahkan melampaui zamannya.

Dilarang

Baca Juga