Platinum

Merawat Seduluran Sak Lawase, EX DUABHE Gelar Temu Kangen Awal Tahun

Wijatma T S
03 January 2026
.
Merawat Seduluran Sak Lawase, EX DUABHE Gelar Temu Kangen Awal Tahun

Sebagian anggota Grup EX DUABHE di ruang VIP Joglo Wanasekar. (PM-Djoko)

AWAL tahun 2026 dibuka dengan hujan yang turun pelan namun konsisten. Langit mendung menyelimuti kawasan Djiwana Resort, Sabtu (3/1/2026). Di antara rintik air dan udara yang sejuk, sekelompok orang datang dengan satu tujuan: melepas rindu dan merawat persaudaraan yang telah lama terjalin dalam wadah EX DUABHE.

Hujan sama sekali tidak menghalangi langkah. Justru, suasana menjadi lebih intim. Obrolan mengalir tanpa naskah, tawa pecah tanpa dibuat-buat. Kursi-kursi disusun sederhana, secangkir minuman hangat menemani percakapan yang melompat dari kenangan lama hingga cerita hari ini. Tak ada agenda kaku, yang ada hanya pertemuan hati.

Temu kangen ini menjadi penanda awal tahun yang berbeda. Bukan dengan resolusi ambisius atau pesta gemerlap, melainkan dengan kehadiran, hadir secara utuh sebagai sesama saudara.

Di balik terselenggaranya pertemuan tersebut, ada sosok Djoko Erwan Prihatmoko, inisiator sekaligus fasilitator acara. Baginya, temu kangen EX DUABHE bukan sekadar kegiatan kumpul-kumpul, melainkan ikhtiar menjaga sesuatu yang kian langka: persaudaraan yang bertahan melampaui waktu.

“Tujuan pertemuan ini tidak lain untuk mempererat persaudaraan, sesuai semboyan grup kami, seduluran sak lawase,” ujar Djoko.

Semboyan itu kerap diucapkan, namun tidak selalu mudah dijalankan. Kesibukan, jarak, perbedaan pandangan, hingga perubahan fase hidup sering kali menjadi ujian. Djoko tak menampik hal tersebut. Ia justru menegaskan bahwa seduluran sak lawase bukan jargon kosong, melainkan niat yang harus terus dirawat.

“Semboyan itu tidak gampang untuk diwujudkan. Tapi kalau diniati sungguh-sungguh, tentu tidak akan terasa berat,” katanya.

Kata-kata itu seolah menemukan konteksnya di Djiwana Resort sore itu. Tidak semua anggota EX DUABHE bertemu rutin. Ada yang lama tak bersua, ada pula yang hanya bertegur sapa lewat pesan singkat. Namun ketika duduk dalam satu ruang yang sama, sekat-sekat itu runtuh. Yang tersisa hanyalah rasa dekat yang tak lekang oleh jarak.

Temu kangen ini juga menjadi ruang jeda, sejenak berhenti dari hiruk-pikuk rutinitas. Di tengah dunia yang bergerak cepat dan serba instan, EX DUABHE memilih melambat. Mendengarkan satu sama lain, mengingat kembali cerita lama, dan menertawakan hal-hal kecil yang dulu mungkin terasa sepele.

Hujan terus turun hingga senja, seakan ikut menjadi saksi. Ia tidak memadamkan api kebersamaan, justru menghangatkannya. Dalam suasana seperti itu, makna seduluran terasa nyata, bukan hanya sebagai hubungan sosial, tetapi sebagai ikatan emosional yang dijaga dengan kesadaran.

Awal tahun pun terasa lebih manusiawi. Tidak dibuka dengan gegap gempita, melainkan dengan kehadiran, kebersamaan, dan niat untuk terus saling menjaga. Bagi EX DUABHE, temu kangen ini bukan sekadar nostalgia, melainkan pengingat bahwa persaudaraan adalah pilihan yang harus diperjuangkan, hari demi hari, waktu demi waktu.

Dan di bawah hujan awal tahun itu, semboyan seduluran sak lawase kembali menemukan maknanya. (atm)


 

Dilarang

Baca Juga