Nyadran Ngalangan: Ritual Budaya yang Menyatukan Dunia dan Akhirat
Danang Dewo Subroto
08 February 2026
.
Nyadran Ngalangan: dzikir, doa, dan tradisi menyatu dalam harmoni spiritual, sebagai wujud bakti leluhur dan kebersamaan warga. (PM-Danang DS).
Patmamedia.com(Sleman) - Nyadran bukan sekadar ritual tahunan, melainkan jembatan spiritual yang menghubungkan kesadaran manusia antara kehidupan dunia dan akhirat. Itulah makna mendalam yang mengemuka dalam tradisi Nyadran masyarakat Pedukuhan Ngalangan, Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang digelar penuh khidmat dan kebersamaan.
Dukuh Ngalangan, Indra Gunawan, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur kepada Allah SWT atas terselenggaranya kegiatan religi dan budaya tersebut. Ia menegaskan bahwa Nyadran menjadi sarana penting bagi masyarakat untuk mengekspresikan rasa hormat kepada para leluhur sekaligus mempererat tali silaturahmi.
“Kami bersyukur kepada Allah SWT karena masyarakat Ngalangan dapat kembali melaksanakan tradisi Nyadran. Kegiatan ini merupakan wujud bakti kepada para leluhur serta upaya membangun kebersamaan dan kerukunan warga,” ungkap Indra Gunawan.
Rangkaian Nyadran diisi dengan pengajian yang disampaikan oleh KH Ahmad Suharmadi. Dalam tausiyahnya, beliau menguraikan makna filosofis Nyadran yang berasal dari istilah bahasa Arab “yadaini”, yang berarti dua rumah, yakni rumah di dunia dan rumah di alam kubur, yang keduanya saling berkaitan erat.
“Nyadran mengajarkan kesadaran bahwa kehidupan di dunia dan kehidupan setelah mati itu tidak terpisahkan. Apa yang kita tanam di dunia, itulah yang akan kita tuai di akhirat,” tutur KH Ahmad Suharmadi.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa bulan Sakban atau Ruwah merupakan momentum untuk mensucikan hati, mempersiapkan diri menyambut bulan suci Ramadan. Pensucian hati itu diwujudkan melalui memperbanyak sedekah, mendoakan orang tua dan para leluhur, serta mempererat silaturahmi dengan sesama.
“Ruwah adalah bulan membersihkan batin. Dengan sedekah, doa, dan silaturahmi, kita membersihkan hati, memperkuat hubungan sosial, serta membuka pintu keberkahan hidup,” imbuhnya.
Kegiatan Nyadran diawali dengan kerja bakti membersihkan makam leluhur, dilanjutkan doa bersama, tahlil, pengajian, serta kenduri. Seluruh warga, mulai dari tokoh masyarakat, perangkat dusun, kaum ibu, hingga generasi muda, turut ambil bagian secara gotong royong.
Tradisi Nyadran di Pedukuhan Ngalangan tidak hanya menjadi sarana spiritual, tetapi juga wahana memperkuat identitas budaya, menumbuhkan kepedulian sosial, serta menjaga keharmonisan hidup bermasyarakat. Di tengah arus modernisasi, Nyadran tetap lestari sebagai pengingat akan pentingnya menjaga nilai-nilai luhur warisan leluhur.***