Platinum

Pentas Ketoprak Joko Puring, Kisah Kepahlawanan yang Digelar Warga Dusun Simping

Nadi Mulyadi
07 September 2026
.
Pentas Ketoprak Joko Puring, Kisah Kepahlawanan yang Digelar Warga Dusun Simping

Salah satu adegan ketika Joko Puring gandrung putri Kadipaten Pucang Anom, Dewi Sulastri. (PM-Nadi M)

Patmamedia.com (Sleman) – Kisah tentang keberanian seorang pemuda membela ketenteraman kadipaten menjadi sajian utama dalam pentas ketoprak lakon Joko Puring yang digelar di Dusun Simping 1, Kalurahan Tirtoadi, Kapanewon Mlati, Sleman, pada Minggu (6/9/2026).

Melalui lakon tersebut, Paguyuban Ketoprak Mersudi Budoyo Simping 1 menghadirkan hiburan tradisional bagi warga. Kisah Joko Puring juga menjadi pesan bahwa semangat kemerdekaan tidak cukup hanya diwujudkan melalui kata-kata, tetapi perlu dibuktikan dengan keberanian untuk berkarya dan berbuat bagi lingkungan.

Dalam cerita tersebut, Joko Puring digambarkan sebagai sosok pemuda yang tulus dan ikhlas berjuang mempersatukan Kadipaten Pucang Anom dengan Kadipaten Bulupitu. Ia tampil menghadapi para brandal atau kelompok pembuat kerusuhan yang berusaha mengganggu kewibawaan Adipati Pucang Anom.
Perjuangan Joko Puring akhirnya mampu meredam kerusuhan. Para pengacau berhasil dibasmi sehingga suasana Kadipaten Pucang Anom kembali aman, tenteram, dan kondusif.

Ketua Paguyuban Ketoprak Mersudi Budoyo Simping 1, Sukarman, mengatakan pemilihan lakon Joko Puring memiliki keterkaitan dengan semangat peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
“Merah putih dan kemerdekaan tidak cukup hanya dengan kata-kata, tetapi harus dibuktikan dengan semangat untuk terus berkarya,” ujar Sukarman.

Menurutnya, semangat berkarya tersebut juga berusaha diwujudkan warga Simping 1 melalui pelestarian seni ketoprak. Sebanyak sekitar 20 seniman yang terlibat dalam pementasan merupakan warga setempat.

Pementasan tersebut, kata Sukarman, dapat terlaksana berkat kekompakan dan kerukunan warga yang memiliki kepedulian terhadap keberlangsungan seni tradisional. Ketoprak dipilih bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai bagian dari upaya nguri-uri dan melestarikan budaya yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Sementara itu, Sihono, salah seorang panitia yang sekaligus memerankan tokoh Joko Puring, mengatakan terselenggaranya pementasan tersebut tidak lepas dari kesadaran warga untuk bergotong royong.

Menurut Sihono, pembiayaan pentas tahun ini sepenuhnya berasal dari swadaya masyarakat melalui sumbangan sukarela. Dukungan juga datang dari sejumlah warga Simping yang kini tinggal di luar Kota Yogyakarta.

“Pentas ketoprak tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Kalau sebelumnya kami mendapat bantuan pemerintah melalui Dana Keistimewaan (Danais), tahun ini seluruh biaya berasal dari swadaya warga,” jelasnya.

Ia menambahkan, kondisi tersebut membuat persiapan pementasan membutuhkan waktu lebih panjang. Karena mengandalkan swadaya masyarakat, pagelaran yang biasanya dapat dipersiapkan lebih awal baru bisa terlaksana pada September.

Meski demikian, seluruh rangkaian malam hiburan berlangsung lancar dan mendapat dukungan warga. Selain ketoprak Joko Puring, acara juga diisi dengan pentas tari anak-anak serta penampilan koor lagu-lagu kebangsaan oleh ibu-ibu warga setempat.

Bagi warga Simping 1, kemeriahan HUT ke-81 Kemerdekaan RI akhirnya tidak hanya menjadi perayaan seremonial. Di atas panggung ketoprak, semangat persatuan, keberanian, kegotongroyongan, sekaligus kecintaan terhadap budaya lokal kembali dihidupkan melalui kisah Joko Puring. ***

Dilarang

Baca Juga