Senja di Dusun Ngawen, Memoar Ringan Masa Pensiun Drs H Kasturi, MM
Muh Sugiono
28 September 2025
.
H Kasturi di serambi rumahnya yang teduh di Dusun Ngawen Sleman. (PM-Nadi Mulyadi)
DI USIA 82 TAHUN, Drs. H. Kasturi, MM masih tampak sehat dengan senyum tak pernah lepas dari wajahnya yang ramah. Kakek 12 cucu itu juga tetap sibuk, meski bukan lagi dengan tumpukan tugas siswa atau rapat guru, melainkan dengan buku catatan, draf tulisan, dan secangkir teh panas di meja kerja rumahnya yang teduh di Dusun Ngawen, Trihanggo, Gamping, Sleman, Yogyakarta.
Belasan ayam dan angsa berlarian di halaman rumahnya yang luas. Sementara suara kambing terdengar dari arah kandang belakang, melahirkan nuansa pedesaan alami. Di tempat itulah mantan pendidik dengan karir panjang itu berlabuh, menikmati masa pensiun dengan cara paling ia sukai, menulis.
Menulis sejatinya bukan hal baru baginya. Sejak SMA, ia sudah gemar menuangkan pikirannya di atas kertas. Tulisan pertamanya, sebuah opini tentang pentingnya TV Pendidikan, dimuat di koran lokal pada 1980-an. Tulisan itu sempat mengundang perbincangan karena saat itu TV Pendidikan belum ada di Indonesia. Barulah beberapa tahun kemudian, hadir Televisi Pendidikan Indonesia (TPI). “Waktu itu rasanya seperti jadi orang paling hebat sedunia,” ujarnya sambil tertawa mengenang masa itu.
Namun, gairah menulis itu sempat ia pendam. Hidupnya kemudian ia curahkan sepenuhnya untuk mendidik di depan kelas. Sejak 1966, ayah enam anak kelahiran 19 Mei 1943 itu mengajar di STM Negeri Pertanian Temanggung, lalu STM Negeri Pertanian Salam, Sekolah Guru Olahraga Wates, hingga akhirnya menjadi guru BP di SMK Koperasi dan pensiun sebagai PNS pada 2003. Usai pensiun, ia masih dipercaya menjadi tim asesor akreditasi sekolah dan, pada 2006–2013, menjabat Kepala SMK Muhammadiyah Balangan Minggir Sleman. Di sela-sela tugasnya, ia sempat menjadi dosen pedagogik di Universitas Sarjana Wiyata (Sarwi) dan mengajar psikologi di Universitas Muhammadiyah Magelang.
HKasturibersamaistridankeenamanaknyasaatmerayakanPernikahanEmas pada tahun 2010 lalu. (foto: dok. keluarga).
Kini keenam anak laki-lakinya telah mandiri, Anaknya yang sulung adalah seorang profesor arsitektur lulusan S3 Jerman dan kini menjadi dekan sebuah universitas ternama di Yogyakarta. Anak kedua sukses menjadi pengusaha batik yang konsisten memberangkatkan para karyawannya yang memenuhi syarat untuk pergi umrah. Ketiga, seorang dokter spesialis anak lulusan S3 Jerman, disusul anak keempat seorang arsitek interior di Balikpapan yang terlibat proyek IKN. Kemudian nomor lima seorang bankir di BSI Pusat, serta putra bungsu yang wafat karena COVID-19. Kasturi merasa waktunya sekarang kembali pada cinta lamanya: menulis.
“Menulis bagi saya bukan sekadar hobi. Ini cara saya berdialog dengan diri sendiri, merekam sejarah kecil hidup saya, dan cara memberi sesuatu kepada generasi berikutnya. Kalau hanya disimpan di kepala, nanti hilang. Tapi kalau ditulis, ia bisa hidup lebih lama daripada saya,” ujarnya kepada Patmamedia.com di serambi rumahnya, suatu sore.
Tentang keluarganya, ia berbicara dengan mata berbinar: “Saya bersyukur semua anak saya tumbuh menjadi pribadi yang mandiri. Saya dan istri dulu hanya bisa memberi contoh disiplin dan kerja keras. Selebihnya kami serahkan pada Allah. Melihat mereka berhasil, rasanya itu hadiah terindah di masa tua.” ucap suami Siti Muslimah yang juga pensiunan guru Bahasa Inggris di SMA Piri.
Sebagai guru yang puluhan tahun mengabdikan diri di dunia pendidikan, Kasturi masih meyakini bahwa mendidik adalah jalan sunyi penuh makna. “Mengajar itu tidak hanya memberi ilmu, tapi juga memberi teladan. Saya selalu bilang ke siswa-siswa saya: lebih penting jadi orang baik daripada sekadar jadi orang pintar.”
Pengalaman hidupnya kemudian ia tuangkan dalam buku-buku. Salah satu yang paling ia banggakan adalah kisah perjalanannya ke Mekah yang dibukukan dengan judul "Misteri di Tanah Suci." Tentang buku itu ia bercerita, “Di depan Ka’bah, saya merasa seolah mendengar jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang selama ini saya simpan. Tentang Isra Mi’raj, apakah itu perjalanan fisik atau spiritual. Di sini, saya merasa keduanya mungkin, karena di hadapan Allah, tak ada yang mustahil.”
Selain kisah perjalanan, Kasturi juga menulis refleksi pendidikan dan kumpulan kisah inspiratif dari ruang kelas serta lingkungan pergaulannya yang luas. Hampir semua tulisannya berbicara tentang kehidupan dan ibadah, sebagai sarana mendekatkan diri kepada Tuhan. Beberapa karyanya yang lain termasuk naskah operet Balada di Kaki Ka’bah dan Ibrahim–Ismail yang pernah disiarkan TVRI pada 1982.
Tak hanya menulis, Kasturi juga aktif di Pecinta Musik Muslim Yogyakarta (PMMY) dan menjadi pengrawit kidung klasik Panembrama bersama Yayasan Kiwari dan Dewan Pendidikan DIY.
Hari-harinya kini dilaluinya dengan sederhana namun bermakna. Pagi memberi makan ternak, siang menulis atau mengetik ulang naskah lama, sore menikmati senja di teras rumah bersama istrinya. Terkadang ditemani cucu-cucunya yang datang berkunjung. “Saya bahagia,” katanya sambil tersenyum, “karena akhirnya saya bisa melakukan apa yang dulu selalu saya tunda.".***