Platinum

Ekonomi Perhatian dan Algoritma Medsos

Ipong Suhardiyanto
30 July 2026
.
Ekonomi Perhatian dan Algoritma Medsos

Dr. Sumbo Tinarbuko.

Oleh: Dr. Sumbo Tinarbuko

Harus diakui bersama, sejatinya ekonomi perhatian dan algoritma medsos tidak dapat sekadar dipandang hanya sebagai kongsi dagang dan bisnis teknologi semata. Keduanya wajib ditakar dengan pendekatan budaya visual. Hal itu mendesak untuk dilaksanakan dengan bertanggung jawab. 

Dikatakan demikian karena sejak awal algoritma dirancang sebagai bagian dari sebuah kongsi dagang. Didesain sedemikian rupa guna memenuhi target keuntungan yang sudah dipasok oleh sang produsen algoritma. Di samping mengejar laba komersial, bisnis algoritma juga dicasting menjadi polisi pengatur lalu lintas jagat digital. Keberadaannya menyediakan jalan tol untuk melihat dan menapaki dunia maya. 

Selain itu, algoritma juga mengatur pola komunikasi digital. Ujung akhirnya, algoritma menciptakan budaya virtual di dalam arus pergerakan budaya digital. Dampak sosial dari gurita kuasa algoritma? Ditengarai kehadirannya mempersempit sudut pandang warganet dan warga masyarakat dalam hal apa pun yang berkaitan dengan budaya digital.

Di balik dampak sosial yang muncul akibat kuasa algoritma. Ada sisi menarik sekaligus peluang yang dapat dinikmati warganet bersama warga masyarakat. Apakah itu? Jawabannya berupa tantangan yang dialamatkan kepada warganet dan warga masyarakat. Berupa kemampuan mengubah tujuan algoritma. Posisi kemudi algoritma diarahkan pada tujuan akhir guna melayani kemanusiaan dan keberagaman. 

Tafsirnya, dibutuhkan nyali besar warganet dan warga masyarakat untuk menjadikan algoritma sebagai kekuatan virtual sekaligus medium untuk menyebarkan energi kebaikan. Makna lain yang muncul dari tafsir di atas. Algoritma sebagai lokomotif medsos dapat dimanfaatkan sebagai media komunikasi. Untuk menyampaikan pesan verbal sekaligus pesan visual yang berkaitan dengan perspektif estetika keindahan. Ilmu pengetahuan sekaligus ilmu persaudaraan di tengah ekosistem patembayatan virtual.  

Terpenting justru semangat juang warganet dan warga masyarakat untuk tidak menyerahkan secara glondongan akal pikiran dan nalar perasaan ke dalam pusaran mesin algoritma. Mengapa demikian? Karena sejatinya, warganet dan warga masyarakat bukan sekadar konsumen perhatian. Mereka harus diposisikan sebagai pencipta, perancang, sekaligus kreator budaya visual. Atas energi kreatif yang mereka sebarkan secara langsung maupun tidak langsung lewat ekosistem budaya digital. Secepat kilat dihisap oleh mesin algoritma sebagai bahan bakarnya. 

Prosumer

Ketika medos bergandengan tangan dengan internet. Pada titik ini, medsos berubah total menjadi media yang bebas tanpa batas. Konsumen alias pengguna medsos mendadak berlagak prosumer (producer consumer). Mereka menjadi produsen yang memproduksi konten verbal-visual lewat medsos. Sekaligus menjadi pengguna, penonton serta konsumen atas produksi konten yang ditayangkan di medsos.

Pendeknya, setiap pemilik akun medsos dapat memposisikan diri sebagai prosumen. Mereka dengan sesuka hatinya sendiri boleh memproduksi konten. Mereka bebas menyebarkan konten milik pribadi. Atau konten produksi sesama pemilik akun medsos. Mereka juga diberi kemerdekaan seluas-luasnya untuk memberikan komentar. Menyantumkan kode jempol yang maknanya disepakati bersama sebagai like atau suka.

Sebagai prosumer merdeka yang memanfaatkan medsos sebagai medium komunikasi audiovisual. Sejatinya mereka tetap tidak merdeka dalam arti yang sebenarnya. Kebebasan dan kemerdekaan warganet sebagai prosumer ternyata dibatasi oleh durasi 16 jam per hari. Belenggu waktu 16 jam itu tidak ditentukan medsos lewat kuasa algoritma. Melainkan berdasarkan kenyataan kondisi fisik warganet sebagai prosumer. Mereka hanya mampu bertahan hingga maksimal 16 jam di depan layar handphone maupun komputer.

Akibat keterbatasan waktu dan tenaga dari prosumer. Mesin algoritma ikut menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi prosumer. Kuasa algoritma bukan lagi berupaya menyajikan informasi terkini, tercepat dan terbaik. Melainkan mulai mempertahankan waktu perhatian dari prosumer sepanjang 16 jam. Dari sinilah muncul konsep ekonomi perhatian. Selanjutnya, kuasa algoritma mengapitalisasi prosumer. 

Semakin lama ekonomi perhatian dapat dikelola kuasa algoritma. Hal itu semakin baik. Bahkan menguntungkan pihak pemilik medsos. Mereka mendapatkan keuntungan dari sebaran dan unggahan data perilaku prosumer. Mereka memperoleh keuntungan dari algoritma konten verbal dan visual yang lebih banyak. Semuanya itu kemudian dibarter menjadi pendapatan dan penghasilan bagi pengelola medsos. Wujudnya berupa iklan merek produk barang dan jasa yang mengampanyekan dirinya secara komersial  lewat medsos.

Miskin Makna

Kuasa ekonomi perhatian yang dipandu algoritma medsos menyebabkan suasana patembayatan sosial berubah total. Warganet dan warga masyarakat dikondisikan oleh algoritma medsos menjadi miskin makna. Produksi atas pemahaman makna semestinya mengedepankan pluralitas makna. Kuasa algoritma medsos menyebabkan warganet dan warga masyarakat sulit menjumpai hadirnya keberagaman ide yang mengedepankan novelty alias kebaruan. Warganet dan warga masyarakat susah menemukan karya seni visual yang unik dan memiliki daya ganggu tinggi. Dampak visual dari kemiskinan makna itu ditengarai dari produksi ilmu pengetahuan dalam wujud wawasan kebudayaan yang menghasilkan penampakan visual yang paritas (seragam).

Ketika produksi ilmu pengetahuan semakin menipis bahkan sampai ambang batas paling bawah. Menyebabkan kemampuan berpikir kritis warganet dan warga masyarakat memasuki tahapan amputasi keilmuan. Semuanya dipangkas pendek atas nama kehendak kuasa algoritma. Artinya, warganet dan warga masyarakat akan semakin mudah percaya pada apa yang terlihat dalam tayangan budaya layar. Mereka mengalami kesulitan memilah opini, fiksi dan  fakta. Mereka lebih senang mengedepankan okol (otot) ketimbang akal sehat akibat penetrasi tayangan konten verbal-visual di layar medsos. Warganet dan warga masyarakat akhirnya sibuk berkelahi secara virtual. Senjata digital yang digunakan untuk berkelahi secara virtual lewat kolom komentar, simbol berbagi dan jempol.
 
Pada sudut ini muncullah polarisasi sosial yang dikumandangkan lewat medsos. Warganet dan warga masyarakat semakin sulit menjalankan proses komunikasi verbal visual secara egaliter dan merdeka bertanggung jawab. Medsos lewat dogma ekonomi perhatian, dan kuasa algoritma senantiasa menghadirkan mitos berbeda pendapat direkatkan makna musuh. Oleh karena itu, harus diruntuhkan eksistensi sang musuh itu.


*) Dr. Sumbo Tinarbuko, Pemerhati Budaya Visual dan Dosen Komunikasi Visual FSRD ISI Yogyakarta

Dilarang

Baca Juga