.
Kepala Bidang Adat, Tradisi, Lembaga Budaya, dan Seni Dinas Kebudayaan Sleman, Dekhi Nugroho, SE, M.Ec.Dev,. (PM-ist)
Patmamedia.com (SLEMAN) – Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman menyiapkan sejumlah agenda kebudayaan pada Agustus-September 2026, mulai Lomba Lukis DIY-Kyoto, Peringatan Hari Bersejarah Keistimewaan Yogyakarta, hingga Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2026.
Kepala Bidang Adat, Tradisi, Lembaga Budaya, dan Seni Dinas Kebudayaan Sleman, Dekhi Nugroho, SE, M.Ec.Dev, menyampaikan agenda tersebut, Selasa (11/8).
Salah satu agenda utama adalah FKY 2026 yang akan digelar 13-19 September di Lapangan Pemda Sleman. FKY tahun ini mengusung tema “BAHASA” dengan tagline “AKSARA”.
Dekhi mengatakan, konsep AKSARA dirancang sebagai ekosistem pengetahuan yang mempertemukan gagasan, praktik, dan karya seni terapan. FKY juga tidak hanya menghadirkan pertunjukan, tetapi membuka ruang kolaborasi antara seniman, komunitas, warga, dan pelaku UMKM.
“FKY tidak hanya menjadi ruang pertunjukan seni, tetapi juga ruang bertemunya gagasan, praktik, masyarakat, seniman, dan potensi ekonomi kreatif,” ujar Dekhi.
Rangkaian FKY mencakup seni rupa, pertunjukan, pasar seni, karnaval, lokakarya, dan diskusi publik. Konsep pasar seni juga dikembangkan bukan sekadar sebagai ruang transaksi, melainkan ruang pengalaman, interaksi, dan pertunjukan untuk memberdayakan potensi masyarakat sekitar.
Khusus Sleman, FKY menghadirkan kolaborasi Nia Agustina dengan Balai Budaya Minomartani. Kolaborasi seniman dan komunitas warga juga melibatkan wilayah Kota Yogyakarta, Bantul, Kulon Progo, dan Gunungkidul.
Karnaval FKY 2026 turut dikembangkan dengan konsep berbeda. Pawai tidak sekadar menjadi iring-iringan, tetapi dirancang sebagai pertunjukan kolosal dengan struktur dramatik dan koreografi massa. Pulung Dance menjadi koreografer utama dengan dukungan koreografer dari lima kabupaten/kota.
Hari kedua FKY, 14 September, akan menjadi fokus wilayah Sleman. Agenda dilanjutkan dengan fokus Kulon Progo pada 15 September, Bantul 16 September, Gunungkidul 17 September, Kota Yogyakarta 18 September, dan ditutup pada 19 September 2026. Setiap hari juga diisi Pasar Seni dan UMKM, lokakarya, seminar, serta pertunjukan bintang tamu.
Selain FKY, Dinas Kebudayaan Sleman menggelar Lomba Lukis DIY-Kyoto Kabupaten Sleman 2026 pada Minggu, 23 Agustus di Museum Gunungapi Merapi.
Mengangkat tema “Lingkungan: Aku, Dia dan Mereka”, lomba ini terbuka bagi peserta didik TK, SD, SMP, dan SMA/SMK, termasuk penyandang disabilitas yang berdomisili di Sleman. Pendaftaran gratis dan lomba berlangsung pukul 08.00-11.00 WIB.
“Yang ingin kita bangun bukan hanya kemampuan teknis, tetapi juga kreativitas, imajinasi, dan keberanian anak-anak dalam menyampaikan gagasan melalui karya seni,” kata Dekhi.
Lima peserta terbaik dari setiap jenjang akan menjadi wakil Sleman untuk mengikuti tahapan tingkat DIY. Penilaian meliputi ide, kesesuaian tema, teknik, dan keunikan.
Lomba tersebut sekaligus menjadi bagian dari kerja sama budaya antara DIY dan Kyoto Prefecture, Jepang, melalui pertukaran karya seni dan penguatan diplomasi budaya.
Dinas Kebudayaan Sleman juga menyiapkan Peringatan Hari Bersejarah Keistimewaan Yogyakarta pada 21 Agustus di Museum Monumen Jogja Kembali (Monjali). Kegiatan dikemas melalui sarasehan bertema “Keistimewaan DIY: Sinergi Sejarah, Budaya, dan Tata Kelola Pemerintahan” serta pertunjukan musik kontemporer yang memadukan gamelan dan alat musik modern.
Agenda lainnya yakni Kompetisi Bahasa dan Sastra DIY 2026 pada 14-16 September serta Gelar Lomba Film Dokumenter Pelajar 2026 bertema “Kuliner sebagai Identitas Budaya Lokal”.
Dekhi menegaskan, berbagai agenda tersebut menjadi bagian dari upaya membuka ruang kreativitas sekaligus memperkuat keterlibatan masyarakat dalam pemajuan kebudayaan.
“Budaya harus terus hidup dan berkembang. Karena itu, ruang bagi generasi muda, seniman, komunitas, dan masyarakat untuk berkreasi harus terus kita buka,” pungkasnya. (atm)