.
Panewu Ngaglik, Wawan Widiantoro (tengah), memberi sambutan pada acara pengajian rutin Sabtu pahing di aula Daarul Azzam Gondanglutung, Sabtu (10/1). (PM-Jatmo)
Patmamedia.com (SLEMAN) – Gugatan perceraian oleh perempuan di wilayah Kapanewon Ngaglik mengalami peningkatan signifikan dan menjadi perhatian serius pemerintah kapanewon.
Panewu Ngaglik, Wawan Widiantoro, mengungkapkan, perceraian tersebut menyentuh angka 70 hingga 80 persen.
Hal itu disampaikan Wawan saat menghadiri pengajian rutin Sabtu Pahing di Aula Daarul Azzam, Gondanglutung, Sabtu (10/1/2026). Di hadapan jamaah, Wawan menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi ketahanan keluarga di Ngaglik yang dinilai semakin rentan.
“Angka gugatan perceraian yang diajukan perempuan di Ngaglik antara 70 hingga 80 persen. Dan mayoritas berasal dari keluarga pasangan yang relatif masih muda,” ungkap Wawan.
Menurutnya, fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari perubahan sosial yang terjadi di Ngaglik. Wilayah yang dulunya dikenal sebagai kawasan pedesaan kini telah bertransformasi menjadi kawasan perkotaan dengan segala dinamika dan tantangannya.
“Ngaglik saat ini sudah memauski masa transisi dari pedesaan menuju perkotaan. Ironisnya, perubahan ini justru diikuti dengan menurunnya nilai-nilai spiritual di tengah masyarakat,” ujarnya.
Wawan menyoroti kondisi sosial yang menurutnya cukup memprihatinkan, di mana aktivitas duniawi lebih dominan dibandingkan kegiatan keagamaan. Ia mencontohkan, saat ini jumlah pengunjung kafe-kafe jauh lebih ramai dibandingkan jamaah di masjid-masjid.
“Sekarang ini kita bisa melihat, pengunjung di kafe lebih banyak daripada di masjid. Ini menjadi pertanda bahwa nilai-nilai agamis di Ngaglik mulai kendor. Ada ketidakseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat,” tegasnya.
Kondisi tersebut, lanjut Wawan, diyakini turut memengaruhi keharmonisan rumah tangga warga. Ketika pondasi spiritual melemah, maka ketahanan keluarga pun ikut rapuh, yang pada akhirnya bermuara pada meningkatnya angka perceraian.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Pemerintah Kapanewon Ngaglik menggalakkan program Suling Naga (Subuh Keliling Ngaglik Menjaga Akidah). Program ini dirancang sebagai upaya memperkuat kembali nilai-nilai keagamaan sekaligus membangun kebersamaan antarwarga melalui kegiatan ibadah.
“Program Suling Naga ini kami hadirkan agar tidak terjadi kemunduran dalam hal akidah. Kami ingin mengajak masyarakat kembali memakmurkan masjid, dimulai dari salat Subuh berjamaah,” jelasnya.
Tak berhenti di situ, Wawan juga mengungkapkan rencana pengembangan program yang menyasar kalangan generasi muda. Dalam waktu dekat, pihaknya akan meluncurkan Suling Naga Muda, sebuah program khusus untuk menggiatkan peran pemuda dalam penguatan akidah dan nilai-nilai keislaman.
“Kami melihat pemuda perlu mendapatkan perhatian khusus. Oleh karena itu, Suling Naga Muda akan kami fokuskan untuk membangkitkan semangat generasi muda dalam menjaga akidah dan moral di tengah derasnya arus modernisasi,” kata Wawan.
Di akhir sambutannya, Wawan berpesan kepada seluruh warga Ngaglik agar senantiasa menjaga keharmonisan keluarga sebagai pondasi utama dalam membangun masyarakat yang kuat dan berkarakter.
“Keluarga adalah benteng pertama. Kalau keluarganya harmonis, insya Allah lingkungan dan masyarakatnya juga akan baik. Mari kita jaga keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat,” pungkasnya. (atm)