Platinum

Jaga Warga: Tameng Sosial di Tengah Kepulan Gas Air Mata

Wijatma T S
31 August 2025
.
Jaga Warga: Tameng Sosial di Tengah Kepulan Gas Air Mata

Kelompok Jaga Warga Condongcatur, paling dekat dengan lokasi aksi demo di Mapolda DIY. (PM-wasana)

JUMAT sore (29/8/2025), udara di sekitar Mapolda DIY, Condongcatur, mulai dipenuhi riuh suara massa aksi dari Aliansi Jogja Memanggil. Malam kian larut, teriakan bercampur dengan dentum suara gas air mata yang ditembakkan ke arah kerumunan. Di balik hiruk pikuk itu, ada sebuah kisah lain: tentang warga yang bahu-membahu menjaga kampung mereka dari imbas demonstrasi.

Di Padukuhan Sanggrahan, yang persis berada di belakang Mapolda DIY, gas air mata tak hanya menyergap jalanan, tapi juga masuk ke rumah-rumah. Mata perih, napas sesak, hingga membuat 10 keluarga di RW 10 harus diungsikan sementara. Namun, alih-alih panik, warga memilih bertindak.

“Sebanyak 50 warga kami bergantian jaga. Kami juga dibantu TNI Yonif 403. Tugasnya sederhana, menutup akses jalan dan memastikan warga aman. Bahkan kami ikut menolong orang-orang yang kebetulan terjebak setelah menonton demo,” tutur Fuad Asnawi, anggota Jaga Warga Sanggrahan.

Portal non permanen dipasang di pintu masuk kampung. Dari Jumat malam hingga Minggu pagi (31/8), jadwal piket dibagi. Para bapak, pemuda, hingga ibu-ibu ikut berjaga, membentuk pagar hidup agar Sanggrahan tetap teduh meski hanya sepelemparan batu dari kerusuhan.

Tak hanya Sanggrahan, warga Kaliwaru di sisi selatan Mapolda juga melakukan hal serupa. Jalan-jalan ditutup berlapis, hingga ke pertigaan Balai Padukuhan. Balai padukuhan bahkan berubah fungsi menjadi posko medis dadakan, menampung korban yang dibawa puluhan ambulans dari lokasi demonstrasi.

“Banyak warga mengeluh mata perih dan sesak. Untung ada posko medis yang didirikan Dinas Kesehatan DIY, jadi penanganan cepat bisa dilakukan di sini,” kata Teguh Purwanto, tokoh masyarakat Kaliwaru.

Solidaritas warga tak berhenti di lingkup kampung masing-masing. Kelompok Jaga Warga dari Depok (gabungan Condongcatur, Caturtunggal, dan Maguwoharjo) bahkan ikut mendampingi Sri Sultan HB X saat menemui massa aksi di halaman Mapolda. Kehadiran mereka menjadi simbol bahwa keamanan bukan hanya urusan aparat, tetapi juga tentang rasa memiliki warga terhadap lingkungannya.

KPH Yudhanegara tak bisa menutupi rasa bangganya. “Terima kasih buat Jaga Warga, khususnya Kapanewon Depok, yang turut menjaga ketertiban dan keamanan. Jogja itu istimewa,” ujarnya disambut aplaus.

Lebih dari Sekadar Penjagaan

Keberadaan Jaga Warga sejatinya bukan hal baru. Pergub DIY Nomor 41 Tahun 2023 telah mengatur lembaga ini sebagai wadah partisipasi warga untuk menjaga keamanan, ketentraman, hingga kesejahteraan. Namun di tengah kepungan gas air mata pekan lalu, peran Jaga Warga menjelma nyata: bukan sekadar regulasi, melainkan wujud solidaritas.

Di jalan-jalan kampung, warga kembali merasakan nilai yang sering terlupa: gotong royong. Mereka saling mengingatkan, menutup akses jalan, menolong korban, hingga memastikan anak-anak tetap aman di rumah.

“Jaga Warga itu bukan sekadar rompi atau portal jalan. Ini tentang kepedulian,” ujar Fuad Asnawi lirih.

Dan memang, di balik kepulan gas air mata, warga Jogja membuktikan: kekuatan terbesar sebuah kota bukanlah aparat, melainkan solidaritas warganya sendiri.

Dilarang

Baca Juga