Karya Dua Pelajar SMPN 1 Turi Diuji Komisi D, Alat Deteksi MBG Berpeluang Diproduksi Massal
Muh Sugiono
05 August 2026
.
Abyan dan Pradipta didampingi guru pembimbing, mempresentasikan karyanya di hadapan Komisi D DPRD Sleman, di ruang Kepala sekolah SMPN 1 Turi, pada Rabu 5 Agustus 2026. (PM-Muh Sugiono)
Patmamedia.com (SLEMAN) – Dua pelajar SMPN 1 Turi, Sleman, menciptakan alat pendeteksi kelayakan makanan yang dirancang untuk mendukung keamanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Inovasi tersebut mendapat perhatian Komisi D DPRD Sleman yang mendorong agar alat itu dikembangkan dan berpeluang diproduksi secara massal.
Ketua Komisi D DPRD Sleman M. Arif Priyosusanto bersama anggota Komisi D Raudi Akmal melihat dan menguji langsung cara kerja alat tersebut di SMPN 1 Turi, Rabu (5/8/2026).
Alat karya siswa kelas 9B, Abyan Syahlefi dan Pradipta Widhi Nugroho, mampu melakukan proses pendeteksian sampel makanan dalam waktu sekitar lima detik. Pengguna cukup memasukkan sampel ke dalam kotak khusus, kemudian sensor akan bekerja membaca kondisi sampel.
Arif mengapresiasi kreativitas kedua pelajar tersebut. Menurutnya, karya itu layak dikembangkan lebih lanjut agar tidak berhenti sebagai inovasi di lingkungan sekolah.
“Nanti akan kami dorong supaya alat ini bisa menjadi standar di SMP seluruh Kabupaten Sleman. Tidak hanya SMP, kalau bisa juga SD, akan kami dorong ke sana,” kata Arif.
Ia mengatakan Komisi D akan mendorong keterlibatan Dinas Pendidikan dan Bappeda Sleman untuk mendukung proses penelitian dan pengembangan alat tersebut. Namun, sebelum diterapkan secara luas, perangkat tetap membutuhkan pengujian lebih lanjut untuk memastikan akurasi dan konsistensi hasilnya.
Riset Lima Bulan
Guru pembimbing Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) SMPN 1 Turi, Ani Marwati, S.Pd.,M.Pd mengatakan alat tersebut tidak dibuat secara instan. Abyan dan Pradipta membutuhkan waktu sekitar lima bulan untuk melakukan riset, merancang perangkat, memilih komponen, hingga melakukan sejumlah percobaan.
Ide awal pembuatan alat muncul setelah kedua siswa melihat berbagai pemberitaan mengenai kasus keracunan yang dikaitkan dengan makanan dalam program MBG.
“Mereka berangkat dari keprihatinan terhadap keamanan makanan. Kemudian mereka mencari referensi, berdiskusi, mencoba membuat alat, dan melakukan pengujian berulang. Prosesnya sekitar lima bulan,” ujar Ani.
Menurutnya, proses tersebut menjadi pengalaman penting bagi siswa karena mereka belajar memecahkan persoalan melalui penelitian dan teknologi.
Alat tersebut menggunakan mikrokontroler ESP32 sebagai pusat kendali. Beberapa sensor yang digunakan antara lain MQ3 untuk mendeteksi kandungan alkohol sebagai salah satu indikator kondisi makanan, MQ135 untuk memantau kualitas udara, DHT11 untuk mengukur suhu dalam kotak sampel, serta TCS3200 yang digunakan dalam pengembangan sistem pendeteksian bahan pangan.
Kotak sampel juga dilengkapi kipas otomatis untuk membantu menjaga kestabilan suhu selama proses pengujian.
Ani mengungkapkan, pembuatan alat tersebut menghabiskan biaya sekitar Rp500.000. Dana itu diperoleh dari urunan para guru karena sekolah belum memiliki anggaran khusus untuk membiayai pengembangan karya penelitian siswa.
“Biayanya sekitar Rp500.000 dan selama ini kami dapatkan dari urunan para guru. Karena itu, kami berharap ada perhatian dan solusi dari DPRD maupun pemerintah daerah untuk mendukung biaya penelitian dan pengembangan karya siswa,” katanya.
Menurut Ani, dukungan pendanaan tidak hanya diperlukan untuk penelitian teknologi, tetapi juga untuk berbagai karya dan pengembangan kebudayaan yang dihasilkan siswa di sekolah.
“Kami berharap ada skema yang bisa membantu sekolah membiayai penelitian, karya inovasi, maupun kegiatan pengembangan kebudayaan. Anak-anak sebenarnya memiliki banyak ide, tetapi pengembangannya membutuhkan dukungan biaya,” ujarnya.
Sekolah Apresiasi Kreativitas Siswa
Kepala SMPN 1 Turi, Hospita Henny Koerniati, S.Pd., M.Pd., mengapresiasi capaian kedua siswanya. Menurutnya, inovasi tersebut menunjukkan, pembelajaran di sekolah dapat diarahkan untuk menghasilkan karya yang menjawab persoalan nyata.
“Kami bangga karena anak-anak tidak hanya belajar teori, tetapi mampu melihat persoalan di sekitarnya dan mencoba mencari solusi. Ini pengalaman yang sangat berharga bagi mereka,” kata Hospita.
Ia berharap perhatian dari Komisi D DPRD Sleman menjadi momentum untuk memperkuat pembinaan penelitian dan inovasi siswa.
“Kami berharap karya ini bisa terus dikembangkan. Kalau ada dukungan dari pemerintah, baik dalam penelitian, pembiayaan maupun pengembangan alat, tentu akan semakin banyak karya siswa yang bisa dihasilkan,” ujarnya.
Bagi Komisi D DPRD Sleman, inovasi tersebut menjadi contoh potensi kreativitas pelajar yang perlu mendapat ruang pengembangan. Jika hasil penelitian dan pengujian lebih lanjut menunjukkan tingkat akurasi yang memadai, alat karya Abyan dan Pradipta berpeluang dikembangkan untuk mendukung pengawasan keamanan makanan di satuan pendidikan.***