.
Tim Medis tengah menangani salah satu peserta aksi demo yang mengalami luka, di Posko Kalurahan Condongcatur. (PM-Wasana)
Patmamedia.com (SLEMAN) – Malam di Condongcatur tak lagi sama. Jumat (29/8), ribuan orang memenuhi jalan, menyerukan keadilan bagi Affan Kurniawan, pengemudi ojek online yang meninggal di tengah aksi demo Jakarta. Suasana yang biasanya hening, berubah menjadi gelombang suara dan doa yang tak kunjung padam.
Hingga larut malam, teriakan bercampur isak, obor bercampur cahaya ponsel, dan doa bergulir di bawah langit Yogyakarta. Ketika sebagian massa mulai letih, yang lain tetap bertahan hingga dini hari. Mereka ada yang bergeser ke kompleks Kalurahan Condongcatur, yang malam itu menjadi pusat denyut solidaritas.
Tak hanya massa, relawan pun berjibaku. PMI, Puskesmas, relawan DIY, linmas, hingga puluhan ambulans siaga di pendopo kalurahan. Hingga pukul 00.00, dua korban harus dirujuk ke RSUP Sardjito karena sesak napas akibat gas air mata, sementara lainnya dirawat akibat luka robek dan benturan.
Posko medis di Balai Padukuhan Kaliwaru mencatat 54 korban, lima di antaranya dirujuk ke rumah sakit. Sementara posko utama di Kalurahan Condongcatur hingga pukul 05.30 menerima 30 korban, dengan tiga orang dirujuk ke rumah sakit.
Di tengah hiruk pikuk itu, sosok Wasana, Humas Kalurahan Condongcatur, tak pernah lelah mengabarkan situasi lewat media sosial. Setiap kabar yang ia unggah menjadi pegangan banyak pihak, menyambungkan denyut peristiwa dengan masyarakat yang menunggu di rumah.
Lurah Condongcatur, Reno, bersama stafnya ikut berjaga, memastikan bahwa warganya aman. “Kami harus mendampingi sampai selesai. Malam ini bukan sekadar aksi, ini adalah ujian kemanusiaan,” ucapnya sembari menahan lelah.
Pukul 01.00 WIB, suasana sejenak mereda. Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X hadir menemui para pendemo, diiringi alunan gendhing Jawa yang mengalun teduh. Pertemuan itu bagai angin sejuk di tengah panas emosi, membuat massa sedikit lebih tenang.
Saat pulang, Sultan bahkan menyalami satu per satu anggota Jaga Warga yang mengenakan rompi, sebagai penghormatan atas dedikasi mereka menjaga ketertiban.
Di setiap sudut, ada wajah-wajah penuh ketulusan: relawan yang menggendong peserta aksi yang pingsan, petugas medis yang membalut luka di tengah kepungan asap, hingga warga yang rela membagikan air minum dari rumahnya. Solidaritas itu tumbuh tanpa komando, menyatu dalam rasa duka yang sama.
Subuh menjelang, namun api semangat tak padam. Condongcatur menjadi saksi bahwa duka bisa menyatukan ribuan hati. Di bawah langit Jogja yang penuh doa, harapan bergema: semoga situasi segera mereda, dan Yogyakarta kembali tenang, damai, dan nyaman seperti sediakala.