Pameran Pusaka Trah Singodikoro Dibuka di Joglo Singodikaran, Jadi Langkah Awal Pelestarian Sejarah
Wijatma T S
14 December 2025
.
Harjuno tengah memandu dan menunjukkan beberapa manuskrip yang sudah dialihmediakan agar bisa diakses oleh masyarakat. (PM-Jatmo)
Patmamedia.com (SLEMAN) – Pameran pusaka sejarah Trah Singodikoro resmi dibuka di Joglo Singodikaran, Padukuhan Margorejo, Kapanewon Tempel, Minggu (14/12). Pameran ini menjadi bagian dari kegiatan penelusuran silsilah Trah Singodikoro yang dinilai sebagai langkah awal penting dalam pelestarian sejarah dan identitas lokal Margorejo.
Pembukaan pameran dilakukan oleh Lurah Margorejo, Abdul Azis Muh Ridwan, yang ditandai dengan pemukulan canang dan pengambilan keris dari warangkanya oleh R Chaerul Wardana. Dalam pameran tersebut ditampilkan berbagai peninggalan sejarah, antara lain keris pusaka, manuskrip kuno, serta sejumlah perangkat keseharian yang memiliki nilai historis.
Panewu Tempel, Dakiri, S.Sos., M.Si., menyampaikan bahwa Pemerintah Kapanewon Tempel bersama Kalurahan Margorejo memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan ini. Menurutnya, penelusuran dan pengenalan silsilah Trah Singodikoro kemungkinan besar merupakan kegiatan pertama yang digelar secara terbuka untuk masyarakat.
“Kegiatan ini dari pemerintah kapanewon dan tentu saja kalurahan sangat mendukung, karena ini mungkin yang pertama. Sebelumnya sepertinya belum ada. Ini adalah silsilah keluarga Singodikoro, sebuah peninggalan luar biasa yang harus diketahui masyarakat,” ujar Dakiri.
Ia menegaskan bahwa pemerintah memiliki peran strategis dalam menjaga dan mengembangkan nilai-nilai sejarah agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman. Menurutnya, pelestarian sejarah tidak hanya terbatas pada bangunan fisik, tetapi juga mencakup nilai-nilai nonfisik seperti silsilah dan perjalanan tokoh.
“Ini merupakan suatu sejarah yang harus kita pertahankan dan harus diketahui oleh masyarakat luas. Peran pemerintah tentu harus ada,” lanjutnya.
Dakiri juga menyinggung peluang pengembangan kawasan Joglo Singodikaran sebagai bagian dari cagar budaya. Selama ini, cagar budaya kerap dipahami sebatas bangunan, padahal nilai sejarah yang melekat pada trah dan perjalanan tokoh juga memiliki arti penting.
Sementara itu, Lurah Margorejo, Abdul Azis Muh Ridwan, menyatakan komitmennya untuk mendukung pelestarian bangunan joglo, termasuk dari sisi pembiayaan perawatan. Ia mengungkapkan rencana klengkengisasi di area sekitar joglo dengan penanaman pohon kelengkeng, yang hasil panennya kelak dimanfaatkan untuk biaya perawatan bangunan.
“Selain untuk perawatan, ini juga menjadi ikon bahwa Margorejo adalah penghasil kelengkeng terbesar dan terbaik,” ujarnya.
Panitia kegiatan, Harjuno, menjelaskan bahwa pengenalan silsilah Trah Singodikoro menjadi penting karena memiliki keterkaitan dengan trah Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat serta peran dalam masa Perang Diponegoro. Ia menambahkan, beberapa manuskrip yang dipamerkan telah dialihmediakan ke bentuk digital agar dapat diakses lebih luas oleh masyarakat.
Sebelum pembukaan pameran, acara diawali dengan pemaparan Sejarah Joglo Singodikaran oleh R Caherul Wardana. Demikian juga pengungkapan sejarah yang mewarnai keberadaan Joglo secara luas oleh Yoga WR dan monolog bertajuk Berita dari Jauh yang dibawakan oleh Totok Suryo Nugroho. Mereka menambah kekuatan narasi sejarah dalam rangkaian kegiatan tersebut. (atm)