HUT Sleman

Praktisi Jamu Soroti Herbal untuk Asam Lambung, Pati Garut Dinilai Efektif dan Aman

Danang Dewo Subroto
14 February 2026
.
Praktisi Jamu Soroti Herbal untuk Asam Lambung, Pati Garut Dinilai Efektif dan Aman

Ubi garut yang sekarang banyak dipasarkan dalam bentuk serbuk atau disebut pati garut. (PM-Danang DS)

Patmamedia.com (SLEMAN) – Keluhan asam lambung seperti perih di ulu hati, mual, hingga sensasi panas di dada masih menjadi persoalan kesehatan yang banyak dialami masyarakat. Pola makan tidak teratur, konsumsi kopi berlebihan, serta stres menjadi pemicu utama gangguan ini.

Dalam praktik medis, gangguan asam lambung atau gastritis menjadi salah satu keluhan terbanyak pada layanan kesehatan primer. Di tengah dominasi obat modern, praktisi jamu dari Lembaga Studi Kesehatan yamg merupakan bagian dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Yudhea, menilai pendekatan herbal dapat menjadi terapi pendamping yang aman dan terjangkau.

Menurutnya, salah satu bahan herbal yang telah lama digunakan dalam tradisi Nusantara untuk membantu meredakan gejala asam lambung adalah pati garut.
“Pati garut memiliki sifat menyejukkan dan mampu melapisi dinding lambung. Inilah yang membuatnya efektif membantu meredakan iritasi akibat asam lambung berlebih,” ujar Yudhea Selasa (10/2/2026) di Sleman.

Pati garut berasal dari umbi tanaman garut (Maranta arundinacea), yang sejak lama dikenal sebagai bahan pangan sekaligus obat tradisional. Teksturnya yang halus dan mudah dicerna membuatnya cocok dikonsumsi penderita gangguan lambung, terutama yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap makanan tertentu.

Dalam tradisi jamu Jawa, pati garut kerap digunakan sebagai bahan dasar ramuan untuk keluhan pencernaan. Selain membantu menetralkan asam lambung, bahan ini juga disebut dapat mengurangi rasa mual, perut kembung, dan begah. Kandungan pati kompleks di dalamnya bekerja secara alami dan relatif lembut bagi sistem pencernaan.

Yudhea menjelaskan, konsumsi pati garut biasanya dikombinasikan dengan jahe dan madu untuk meningkatkan manfaatnya. Ramuan sederhana tersebut dapat dikonsumsi satu kali sehari, terutama sebelum makan pagi atau menjelang tidur malam.

Meski demikian, ia menegaskan herbal bukan pengganti total terapi medis, khususnya bagi penderita dengan gejala berat atau berulang. Pendekatan yang dianjurkan adalah komplementer.
“Herbal adalah pendamping yang aman. Jika keluhan sering kambuh dan intensitasnya berat, pemeriksaan ke tenaga kesehatan tetap diperlukan,” tegasnya.

Dalam konteks regulasi, produk herbal dan obat tradisional berada di bawah pengawasan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Lembaga tersebut mengklasifikasikan produk herbal menjadi jamu, obat herbal terstandar (OHT), dan fitofarmaka yang telah melalui uji klinis.

Yudhea mendorong agar pengembangan jamu berbasis bahan lokal seperti pati garut mendapat pendampingan agar memenuhi standar keamanan dan mutu. Ia juga menekankan pentingnya riset ilmiah untuk memperkuat bukti efektivitas herbal dalam menangani gangguan pencernaan.

Selain konsumsi herbal, gaya hidup sehat tetap menjadi kunci utama pengendalian asam lambung. Makan teratur, menghindari kopi saat perut kosong, membatasi makanan pedas dan berminyak, serta mengelola stres dinilai sangat menentukan keberhasilan terapi.

Di tengah arus modernisasi, menurut Yudhea, jamu pati garut menjadi pengingat bahwa solusi kesehatan alami telah lama tumbuh dari bumi Nusantara. Selain murah dan mudah diperoleh, tradisi minum jamu juga memperkuat kemandirian kesehatan masyarakat.

“Ketika kita kembali pada kearifan lokal dengan pendekatan yang ilmiah dan terstandar, herbal tidak lagi sekadar alternatif, tetapi menjadi bagian dari sistem kesehatan komplementer yang bertanggung jawab,” pungkasnya.***

HUT Sleman

Baca Juga