Reuni Spontan SMPN 1 Mlati 1980: Saat Kenangan jadi Pengikat yang Tak Pernah Usang
Muh Sugiono
12 April 2025
.
Mereka datang tak membawa formalitas apapun, selain niat tulus untuk bertemu dan bernostalgia. (PM-Muh Sugiono)
Patmamedia.com (SLEMAN)--Ini memang bukan pertemuan yang menuntut perjalanan ribuan kilometer atau digagas dengan anggaran besar dan perencanaan berbulan-bulan. Tapi, meluangkan waktu beberapa jam untuk sekadar bertemu teman-teman lama di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang padat, jelas bukan hal mudah. Apalagi ketika kesibukan seolah tak memberi ruang jeda, dan usia perlahan membawa kita menjauh dari kebiasaan bernama ‘bertemu tanpa alasan’.
Namun, justru dalam keterbatasan itulah momen indah ini tercipta. Tanpa perencanaan matang, tanpa rundown mewah, hanya sebuah ajakan spontan di grup WhatsApp—dan voila, jadilah reuni kecil penuh tawa dan cerita.
Sabtu pagi, 12 April 2025, suasana di kediaman Singgih, salah satu alumnus SMP Negeri 1 Mlati, Sleman, mendadak riuh. Bertempat di Dusun Cibuk Lor, Margoluwih, Seyegan, DIY, sekitar 40 alumni angkatan 1980 berkumpul. Mereka datang tak membawa formalitas apa pun, selain niat tulus untuk bertemu dan bernostalgia.
“Kebetulan masih suasana Syawalan, jadi kue-kue lebaran juga masih ada. Lumayan kan, buat teman ngobrol,” ujar Singgih sambil tertawa, ditemani sang istri, Jantik, mantan bunga sekolah adik kelas yang kini jadi pasangan hidupnya.
Bukan gelaran megah, namun kehangatan yang tercipta terasa mewah. Memanfaatkan teras rumah sebagai panggung hiburan electone, di tengah canda, gelak tawa, dan wajah-wajah yang sudah tak lagi muda —namun tetap menyimpan semangat remaja di balik kerutan kulitnya.
Kehadiran Ustadz Fatih yang memberikan siraman rohani, membuat reuni terasa menjadi lebih berarti. Belum lagi sesorah kehidupan yang disampaikan dengan cara yang segar oleh salah seorang alumni bernama Harsono, sepertinya akan membuat acara kumpul bareng itu menjadi momen yang tak terlupakan.
Ada yang datang dengan cerita sukses, ada pula yang membawa kisah jatuh bangun hidup. Tapi semua itu larut dalam semangkuk sayur lodeh jadul dan sepotong daging ayam ingkung yang membawa mereka kembali ke masa-masa sekolah—masa di mana segalanya terasa lebih ringan, lebih indah, dan lebih jujur.
Yang menarik, justru spontanitaslah yang membuat pertemuan ini terasa begitu autentik. Tak perlu glamor untuk merasa berharga. Sebab kadang, di tengah dunia yang makin kaku dan sibuk, kita butuh ruang untuk menjadi sedikit ‘gila’—demi menjaga jiwa tetap muda, meski tubuh terus merenta.
Reuni, pada akhirnya bukan soal jumlah undangan atau dekorasi. Ia hanyalah tentang bagaimana kita merawat persahabatan, menjaga kenangan tetap hidup, dan menerima bahwa waktu boleh saja memisahkan fisik, tapi tidak dengan rasa.
Karena konon, semua kenangan itu manis. Yang pahit hanyalah peristiwanya.***