Samskara: Tafsir Fotografi Sonia Prabowo atas Mitologi, Perempuan, dan Kesadaran Diri
Esti Susilarti
05 January 2026
.
Sonia Prabowo (kiri) bersama GKBRAA Paku Alam dan Delia Murwihartini. (PM-Esti)
PAMERAN tunggal fotografi Samskara karya Sonia Prabowo menegaskan posisinya sebagai salah satu peristiwa seni yang penting di Yogyakarta awal tahun ini. Selama dua belas hari, sejak 22 Desember 2025 hingga 3 Januari 2026, ruang Sangkring Art Project, Nitiprayan, Tirtonirmolo, Bantul, menjadi arena perjumpaan antara fotografi, mitologi, dan refleksi mendalam tentang perempuan—sebagai ibu, sebagai subjek spiritual, sekaligus sebagai tubuh yang berpikir dan merasakan.
Ini merupakan pameran tunggal ketiga Sonia Prabowo, dan sekaligus penanda semakin kuatnya kehadiran ia di lanskap seni fotografi Yogyakarta. Samskara bukan sekadar presentasi visual, melainkan sebuah perjalanan konseptual yang berangkat dari kisah mitologis Dewi Sati, Dewi Uma, hingga Dewi Durga—figur-figur perempuan dalam kosmologi Hindu yang sarat makna tentang cinta, pengorbanan, kehancuran, dan kelahiran kembali.
Pameran ini ditutup dengan sebuah acara puncak berupa Dramatic Reading bertajuk “Samskara”, yang digelar pada Sabtu sore menjelang akhir pameran. Penutupan ini tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi justru memperluas makna karya-karya fotografi yang telah dipamerkan. Melalui pembacaan dramatik, narasi mitologis yang semula terbingkai dalam visual foto, dihidupkan kembali dalam medium suara dan tubuh. Pembacaan tersebut dibawakan oleh Sonia Prabowo bersama Betty Firly, Yaksa, Savitri Damayanti, dan Khocil Birawa.
“Saya merasa sudah mempersiapkan pameran ini secara maksimal dan semua berjalan sesuai rencana. Namun justru surprised datang dari acara dramatic reading itu,” ujar Sonia Prabowo ketika dihubungi, Senin (5/1). Menurutnya, penutupan pameran tersebut memunculkan gagasan baru: pembentukan teater perempuan sebagai ruang ekspresi dan wadah suara perempuan seniman. “Jadi, wait and see, apakah gagasan ini akan terwujud atau tidak,” tambahnya.
Sebagai kilas balik, Samskara digelar bertepatan dengan peringatan Hari Ibu. Pilihan waktu ini bukan kebetulan. Bagi Sonia, pameran ini dipersembahkan bagi perempuan—khususnya mereka yang merasakan dan menjalani peran sebagai ibu, baik secara biologis maupun spiritual. Samskara menjadi ruang permenungan tentang pengalaman perempuan yang kerap sunyi, sering dianggap takada namun ternyata ada dan sarat makna.
Benang merah pameran ini adalah perjalanan Dewi Uma: dari fase sebelum reinkarnasi sebagai Dewi Sati, menuju kisah Dewi Durga, hingga episode “pembersihan” yang dilakukan oleh Sadewa—salah satu Pandawa, putra Dewi Kunti—yang mengembalikan Durga menjadi Dewi Uma sebagai perempuan suci, sebelum akhirnya kembali ke nirwana. Dalam tafsir Sonia, perjalanan mitologis ini merepresentasikan siklus kesadaran perempuan: jatuh, hancur, kecewa, bangkit, dan menemukan kembali cahaya dirinya.
“Jika seniman zaman dahulu menuturkan kisah-kisah ini melalui pahatan relief candi, saya melakukan hal yang sama melalui fotografi dan perkembangan teknologi hari ini,” kata Sonia di sela pembukaan pameran. Pameran ini diresmikan oleh Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu (GKBRAy) Adipati Paku Alam, dengan sambutan oleh Delia Muwihartini, pecinta seni sekaligus Ketua Kamala Nusantara, Perkumpulan Perempuan Bersanggul dan Berbusana Nusantara (PPBBN).
Seluruh proses kreatif Samskara dikerjakan Sonia secara mandiri. “Saya ingin memberi ruh pada setiap detail karya,” tegasnya. Dari proses tersebut lahirlah subjudul-subjudul karya yang membentuk narasi pameran, antara lain: Diorama Samskara, Sati Obong, Dalam Sunyi dan Harap, Sungai Doa, Sang Hyang Berkatilah, Kembali Cahaya, Air Mata dalam Diam, Shakti, hingga Bantu Aku Kunti.
Menariknya, seluruh figur yang hadir dalam foto-foto tersebut adalah wajah Sonia Prabowo sendiri. Ia menjadikan tubuh dan dirinya sebagai medium utama, memerankan semua karakter yang hadir dalam semesta Samskara. Sonia merancang sendiri tata busana, tata rias, dan tata rambut, lalu memotret dirinya melalui teknik swafoto menggunakan telepon genggam. Hasil foto kemudian diolah dengan teknologi fotografi digital dan disajikan dalam medium cetak, termasuk pada material tekstil (cloth digital printing).
Bagi Sonia Prabowo, pengalaman perempuan—tentang cinta, pengorbanan, kekecewaan, kesetiaan, dan keheningan—merupakan sumber kreatif yang tidak pernah habis. Pengalaman-pengalaman tersebut, menurutnya, bukan hanya personal, tetapi juga mampu menjadi pemantik refleksi sosial dan spiritual yang relevan lintas zaman.
Ketika ditanya mengenai rencana kreatif selanjutnya, Sonia mengaku untuk sementara akan “gantung raket”. Ia memilih kembali fokus pada klien-klien profesional yang sempat tertunda selama persiapan pameran. “Ketika seorang seniman sedang berkarya di ranah personal yang idealis, rasanya tidak mungkin membagi hati dengan urusan bisnis,” ujarnya sambil tertawa.
Selain dikenal sebagai fotografer, Sonia Prabowo juga aktif sebagai pelukis, penulis novel, cerpen, dan puisi, serta desainer buku. Sejumlah buku telah ia rancang, di antaranya Jejak Manusia & Negara Singha, Bungong Jeumpa (Sanggul dan Busana Aceh), Yogya–Solo Riwayatmu Kini (Busana dan Sanggul Yogya–Solo), serta Parahyangan Geulis (Sanggul dan Busana Sunda).
Saat ini, ia juga tengah menyiapkan desain buku Gema Flobamora tentang sanggul dan busana Nusa Tenggara Timur, khususnya: Flores, Sumba, Timor, dan Alor – yang semua foto dalam buku tersebut adalah hasil ‘bidikannya’. “Namun siapa tahu, di sela waktu, saya juga dapat menuntaskan satu novel yang kini sudah setengah matang,” pungkasnya.***