Platinum

Setelah Kerusuhan Babarsari, Tiga Perwakilan Warga NTT, Papua dan Muluku Deklarasi Damai

Danang Dewo Subroto
24 July 2022
.
Setelah Kerusuhan Babarsari, Tiga Perwakilan Warga NTT, Papua dan Muluku  Deklarasi Damai

Penandatanganan deklarasi damai warga NTT, Papua dan Maluku di Sleman. (PM-Danang Dewo Subroto)

Sleman (PM) - Tiga wakil sesepuh paguyuban warga dari NTT, Maluku dan Papua yang tinggal di wilayah Sleman, Yogyakarta melakukan komitmen deklarasi damai,  Sabtu (23/7/2022). Berlangsung di Gedung Serbaguna, Denggung, deklarasi bertema  "Katorang Semua Basodara, Yogya Rumah Kita Bersama" ini dilakukan sebagai penyelesaian peristiwa kerusuhan Babarsari untuk selanjutnya menuju kehidupan yang rukun dan damai sebagai masyarakat dalam sebuah bangsa.

Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo yang hadir bersama unsur Muspida mengharapkan komitmen damai ini tidak hanya berhenti pada seremonial. Kabupaten Sleman, kata bupati,  adalah rumah bersama bagi semua etnik.  Oleh karena itu menjadi visi bersama semua yang tinggal di Sleman untuk menjaga keamanan dan kestabilan keadaan.

"Keberagaman adalah kekayaan bangsa yang harus disyukuri.  Karena itu seluruh warga Sleman harus bersama-sama menjaga kerukunan dan keharmonisan hidup bermasyarakat," kata Kustini.

Semantara itu perwakilan dari NTT, Tala Fargas Guteres, atas nama pribadi dan masyarakat NTT di Yogyakarta memohon maaf kepada masyarakat Yogja atas kejadian kerusuhan di Babarsari. Ia juga meminta kesempatan untuk memperbaiki diri dan menghimbau agar anak-anak dari luar daerah muluruskan kembali niat ke Yogyakarta untuk menuntut ilmu.

"Berikan kesempatan untuk memperbaiki ini, harapan kami tidak hanya dari NTT, dari Papua dari Maluku kami yang jadi masyarakat Jogja pendatang di sini akan berusaha semaksimal mungki me jaga ketertiban, kedamaian, dan keamanan," kata Tata Guteres..

Permohonan maap juga disampaikan perwakilan  dari Maluku, Fauzan Rahawani. Menurutnya. konflik tidak akan menghasilkan apapun, yang menang jadi arang dan  yang kalah jadi abu. Setelah deklarasi damai, demikian Fauzan, yang perlu diimplementasikan adalah menjadi agen perubahan dan perdamaian.

"Karena kita bekerja dan menuntut ilmu, harus menghargai nilai-nilai istiadat di sini. Mengutip orang biasa bilang, di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung," ungkapnya.

Sementara itu perwakilan Papua, Essau Kaisai mengajak untuk menghormati budaya dan norma-norma yang berlaku. Ia juga meminta maaf atas kekisruhan yang sempat terjadi.

"Seharusnya bersyukur diijinkan menimba ilmu mengecap pendidikan, budaya dan juga segala macam keunggulan ekonomi di sini. Kami mohon maaf telah menimbulkan kegaduhan," ungkapnya.***

Editor: Muh Sugiono

 

Griting

Baca Juga