Platinum

Surat yang Terlambat Dibaca Negara

Muh Sugiono
07 February 2026
.
Surat yang Terlambat Dibaca Negara

Sepucuk surat singkat yang ditulis YBR sebelum meninggal dunia: surat untuk mama. (ilustrasi: Muh Sugiono/Ai)

Ketika seorang anak SD di NTT, Yohanes Bastian Roja (10 tahun) memilih diam selamanya, dan negara terlambat mendengar jeritannya.

 

IA MENULISNYA  di kertas bergaris. Tulisan tangan anak-anak, belum rapi, belum sepenuhnya lurus. Ada kata “mama” berulang kali. Ada gambar tubuh kecil dengan wajah sedih. Tidak ada tuduhan. Tidak ada kemarahan. Hanya permintaan maaf.

Surat itu bukan ditujukan kepada negara. Bukan kepada sekolah. Bukan pula kepada orang-orang dewasa yang selama ini gemar berpidato tentang masa depan generasi. Surat itu hanya untuk ibunya.

Dan justru di situlah tragedinya.

Seorang anak SD di  wilayah Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), Yohanes Bastian Roja (10 tahun)  mengakhiri hidupnya, 29 Januari 2026, meninggalkan sepucuk surat yang membuat banyak orang dewasa terdiam, lalu segera ribut. Media berlomba memberitakan. Media sosial dipenuhi kemarahan, simpati, juga kesimpulan-kesimpulan cepat. Negara hadir dalam bentuk pernyataan. Bantuan disalurkan. Rapat digelar. Kata “evaluasi” kembali diucapkan.

Namun ada satu hal yang tak bisa diulang: kesempatan untuk mendengar suara anak itu sebelum ia lelah.

Surat itu, jika dibaca pelan-pelan, bukan tentang uang. Bukan semata tentang buku tulis atau pulpen. Ia adalah catatan kelelahan batin seorang anak yang merasa dirinya beban. Seorang anak yang, entah dari mana, sudah belajar satu hal paling berbahaya: merasa bersalah karena miskin.

Ia meminta ibunya tidak marah. Ia meminta agar tidak ada yang disalahkan. Bahkan di detik-detik terakhirnya, ia masih berusaha melindungi orang dewasa dari rasa bersalah.

Lalu siapa yang mengajarinya perasaan itu?

Kita hidup di negeri yang gemar menyebut anak-anak sebagai “aset masa depan”. Tetapi di banyak tempat, anak-anak juga tumbuh dengan kesadaran sunyi bahwa hidup mereka mahal, sekolah mereka mahal, dan kehadiran mereka bisa menjadi beban. Tidak pernah ada kurikulum resmi yang mengajarkan rasa bersalah itu. Ia lahir dari keseharian,  dari percakapan orang tua yang terpaksa memilih, dari bantuan yang tak pernah sampai, dari kebijakan yang terlalu jauh untuk dirasakan.

Ketika tragedi ini terjadi, sebagian orang buru-buru menyederhanakan sebab, “hanya karena tidak dibelikan buku.” Kalimat itu terdengar logis, mudah dicerna, dan cepat viral. Tapi ia juga berbahaya. Ia mengerdilkan penderitaan yang jauh lebih dalam: kemiskinan yang diwariskan bersama rasa malu, dan sistem yang terlalu sering absen tanpa merasa bersalah.

Anak-anak tidak bunuh diri karena satu kejadian tunggal. Mereka lelah karena akumulasi. Karena perasaan tak didengar. Karena tak tahu harus bicara kepada siapa. Dan karena dunia orang dewasa terlalu sibuk mengatur, menilai, dan menuntut tanpa benar-benar hadir.

Kita perlu jujur mengakui,  negara sering datang terlambat. Datang setelah surat terakhir ditulis. Datang setelah kelas kosong. Datang setelah nama anak itu berubah menjadi angka statistik.

Program bantuan pendidikan memang ada. Anggaran memang besar. Pernyataan resmi pun cepat keluar. Tapi kasus ini menunjukkan satu celah besar yang jarang dibicarakan: negara hadir di atas kertas, tetapi sering tidak sampai ke meja belajar paling sunyi.

Lebih menyedihkan lagi, beban penjelasan sering jatuh ke pundak ibu. Ibu yang harus menjawab pertanyaan. Ibu yang harus menanggung rasa bersalah. Padahal dalam surat itu, anaknya justru memohon agar sang ibu tidak disalahkan.

Mungkin inilah ironi terbesar tragedi ini: seorang anak melindungi orang dewasa sampai akhir, sementara orang dewasa gagal melindunginya sejak awal.

Esai ini tidak ditulis untuk menyalahkan satu pihak secara tunggal. Tragedi seperti ini selalu lahir dari banyak lapisan: kemiskinan struktural, minimnya dukungan psikososial anak, sekolah yang kekurangan sumber daya, dan budaya yang terlalu sering menormalisasi penderitaan sebagai “nasib”.

Namun jika ada satu pelajaran paling penting, barangkali ini: anak-anak tidak membutuhkan pidato panjang tentang masa depan. Mereka membutuhkan telinga yang mau mendengar hari ini. Mendengar ketika mereka diam terlalu lama. Mendengar ketika nilai menurun. Mendengar ketika mereka mulai merasa tidak pantas meminta. Mendengar sebelum kata “maaf” menjadi kata terakhir.

Surat itu kini dibaca oleh banyak orang. Tapi semestinya ia tidak pernah perlu ditulis.

Dan pertanyaan yang tersisa bagi kita semua bukan lagi siapa yang salah, melainkan berapa banyak anak lain yang sedang menulis surat serupa, di dalam hati mereka, tanpa pernah benar-benar didengar?***

Catatan redaksi: 

Jika Anda atau orang di sekitar Anda mengalami tekanan emosional berat, mencari bantuan adalah langkah berani, bukan kelemahan. Jangan hadapi sendirian.

 

Dilarang

Baca Juga